Seutas Senyum Bidadari






Oleh Mujib NS Jawahir


            “Niati..” sebuah panggilan yang hampir setiap hari kudengar. Segera saja aku turun ke bawah, karena kamarku ada di lantai atas. “Enggeh ustadzah…” aku baru membalasnya sesampai di depan ustadzah. “Bisa minta tolong simak santriwati nanti ba’da maghrib. Ustadzah ada janji keluar jadi tidak bisa nyimak.” “Enggeh ustadzah, insya Allah.” Sebenarnya aku takut bercampur bahagia mendengar permintaan ini. Ini pertama kalinya aku diminta menyimak setoran hapalan santiwati. Aaaa… aku harus gimana nih. Padahal sebelumnya-sebelumnya tugasku ya nyapu, ngepel, nyuci baju, dan tugas-tugas khadimah lainnya. Aku pun segera ke kamarku, entah aku mau apa ke kamarku.
            “Ti, ngaain mondar-mandir kayak gitu?” suara Ummi mengagetkanku. Beliau bukanlah ibu kandungku, tapi di Pondok ini beliau sudah kuanggap ibu sendiri, maka dari itu kupanggil saja ummi. Lumayan punya ibu tambahan. “Eh, Ummi.. Ati lagi bingung nih Mi… Diminta muraja’ah santriawti..” Bukannya bersimpati, ummi malah ke kamarnya, seakan menganggap tidak terjadi apa-apa. “Ummi mau kemana? Tolong bantu Ati Ummi” aku mencegah Ummi masuk ke kamarnya yang berada di samping kamarku. “Bibik dhuha dulu” jawab ummi dengan santai. Oh ya ummi ini selalu menyebut dirinya Bibi walaupun setiap hari aku selalu memanggilnya Ummi. Biarlah, aku sudah jatuh cinta padanya.
            “Ti.. Bantu Bibi belikan keperluan masak nanti siang ya.” Aku cemberut melihat Ummi yang mau turun. “Ummi jahat”. Akhirnya Ummi balik arah menghadapku, “Ti.. Bibi nggak bisa kasih banyak saran. Soalnya bibi juga kan khadimah. Tapi Bibi cuma kasih satu saran, percaa diri.” Akhirnya Ummi turun tanpa menoleh lagi. Benar juga ya. Percaya diri aja. Ummi itu bagiku bukanlah khadimah. Mana ada khadimah yang menjabat sebagai wakil pimpinan pondok santriwati. Tapi itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.
***
            Jika ada yang bilang masa kecil adalah masa-masa bahagia. Tapi tidak denganku. Ayah dan ibuku bercerai. Aku sama sekali tak diurusnya. Aku terkadang menangis sendiri, tidak pernah ditanyakan bagaiaman kelanjutan seolahku, bagaimana masa depanku. Aku diabaikan. Aku sangat ingin menghormati mereka, mencintai mereka. Namun ketika aku berusaha melakukannya, rasa benciku semakin besar pula. kedua kakakku pun sudah pergi entah kemana, aku tak peduli. Aku benci keluargaku.
***

            Akhirnya selesai juga nyimaknya. Ternyata tidak sesulit yang kubanyakan. Tapi memang selalu saja ada halangan, santriwati yang kesalahannya selalu diulang-ulang. Tapi itulah tantangan. Setelah nyimak aku mandi dan mempersiapkan untuk makan malah keluarga ustadzah. Eh, yang masak bukan aku. Tapi Ummi. Soalnya aku pernah masak, rasanya tidak seenak masakan Ummi, hehe. Sebagai seorang wanita, aku harus bisa membuat masakan yang enak untuk suami dan anak-anakku kelak, eyaa.
            Tugasku bukan sampai di situ, aku harus nyuci piring yang bertumpuk. Barulah habis nyuci piring aku naik ke atas untuk nyetrika. Umi sendiri tidak kalah sibuk denganku. Selain ngajar, dia juga jadi wakil pimpinan pondok, juga sebagai bibi kantin, sebagai khadimah tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai asisten pribadi ustadzah. Jadi Ummi ini kalau di kantin dipanggil Bibi, eh banyak santriwati yang suka sama Ummi. Ummi mudah berbaur dan bercanda. Tapi kalau di kelas Ummi dipangil ustadzah, santriwati nggak berani becanda sama Ummi kalau di kelas. Ummi kayak punya dua sifat yang berbeda kata santriwati. Tapi Ummi juga menjadi wakil pimpinan pondok memiliki kelembutan ucap dan cerdas menyelesaikan masalah, terutama masalah santriwati. Dan yang tidak didapat yang lain adalah, Ummi sebagai ummiku. Ummi sesosok ibu yang sempurna buatku.
            Ah, kok kita ngomongin Ummi aja ya, hehe. Jadi aku biasanya tidur jam satu malam. Sebenarnya bisa sih aku tidak jam dua belas. Tapi mau telpon-telponan dulu. Itu kulakukan dulu ketika aku belum terlalu mengenal Islam secara dalam. Aku hanya tahu menghafal Al-Qur’an saja. Sampai akhirnya Ummi tahu kebiasanku. “Ti.. Jodoh itu tak akan kemana. Kalau dia bukan jodoh kita, kita kejar sampai ke ujung dunia pun tak akan dapat. Tapi kalau jodoh, diam di sini pun ia akan dating sendiri.” Aku tertunduk. Ummi memang benar. Lalu Ummi menceritakan pengalamannya yang dilamar seorang mualaf yang semangat belajar agamanya membara. Padahal dulu hanyalah seorang khadimah biasa yang hampir seiap waktu di dalam pondok, tidak pernah keluar. Namun ternyata ia mendapat seorang lelaki romantis, sangat romantis. Aku tertunduk. Mulai hari itu aku tak lagi nelpon-nelpon.
***
            Awal-awal aku menjadi khadimah sungguh sangat berat. Tenaga seperti habis dikuras untuk mengerjakan banyak pekerjaan. Aku hampir saja menyerah. Tapi aku teringat, jika aku tidak menjadi khadimah bagamana mungkin aku bisa madrasah di Ponpes ini, orang tuaku tidak mungkin akan membiayaiku. Aku tak boleh menyerah. Namun tetap saja, tugas sebagai khadimah ini sangatlah berat, yang membuatku sampai menangis tak tertahankan. Ingin berhenti. Saat itulah Ummi datang memelukku. Menguatkankanku.
            “Ti.. mungkin kamu tidak percaya dulu Bibi adalah anak yang miskin. Makanya dulu Bibi jadi khadimah agar bisa sekolah. Dulu Bibi juga sering nangis, ketika dulu teman-teman Bibi bisa ikut lomba, Bibi harus di dapur masak nasi. Ketika teman-teman Bibi bisa fokus menghapal, Bibi berkutat di rumah ustadzah untuk bersih-bersih rumah. Bibi menangis bukan karena capek, tapi Bibi menangis hanya karena cemburu. Lalu dengan izin Allah, Alhamdulillah Bibi bisa menyelesaikan hapalan tiga puluh juz. Dan kamu tahu, belum tamat Bibi di Ponpes, ada laki-laki yang melamar Bibi.” Aku terdiam mendengarkan cerita Ummi. Semenjak itulah aku memanggil Bibi sebagai Ummi.
***
            Sehabis nyetrika, aku tahajud. Sebenarnya sudah sangat ngantuk. Tapi kata Ummi aku harus tetap tahajud. Dan aku pun tertidur di samping lipatan baju setelah tahajud. Namun beberapa saat kemudian aku dibangunkan Ummi, sudah jam tiga. Rasanya baru satu menit aku tertidur. Aku pun malas-malasan ke kamar mandi. Setelah cuci muka, aku bantu Ummi ke dapur. Ummi diam saja dari tadi sambil masak-masak. Aku pun iseng bertanya banyak hal. Ternyata suami Ummi sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Aku baru tahu ini sekarang. Ada satu pertanyaan lagi, “Berarti Ummi punya anak? Cowok atau cewek?” tanyaku semanagat.
            “Iya, punya.. tiga laki-laki.” Deg deg deg. Jantungku berdetak kencang. Ini apa? Kok belum pernah aku merasakan sebelumnya. Apakah aku jatuh cinta? Berharap salah satunya mau membawaku ke keluarga ini? Padahal nama mereka mereka pun belum aku tahu. Aku tepis lagi perasaan itu. Ternyata itu bukanlah pertanyaan terakhirnya, “Mereka di mana sekarang Mi? Kok Ati nggak pernah diceritain”. Ummi hanya tersenyum, “Karena nggak ditanya,”  Ummi menjawab sambil mencicipi masakannya. “Ummi, mereka dimana sekarang?” Desakku. “Yang paling besar insya Allah S2 ke Jogja, yang kedua insya S1 di Mekkah, dan yang ketiga mondok di Malang.” Deg.. Aku bahkan tak bisa membendung menrindingnya badanku. Kekagumanku pada Ummi semakin menjadi-jadi. Ia bisa menyekolahkan anaknya sampai S2 dan bahkan ada yang keluar negeri dan keluar daerah. Padahal setiap harinya Ummi selalu bersamaku, tapi tak sekalipun aku melihatnya mengeluh karena capek atau sakit.
            Di sisi lain, aku terdiam. Aku takut menerima kenyataan bahwa anak-anak Ummi tidak mau menerimaku. Anak-anaknya sekolah dan kuliah di luar daerah. Sedangkan aku antara ingin dan takut untuk lanjut kuliah. Aku hanya seorang khadimah, mana pantas dengan mereka yang berpendidikan tinggi. Lidah kelu, antara takut dan penasaran, menanyakan sebuah pertanyaan, “Sudah ada yang menikah Mi?” Ummi menolah kerahku sebentar, “Belum… Bibi mau anak Bibi berilmu dulu baru menikah.” Ada kelegaan di sana, di dalam hatiku. Hal ini membuatku bertanya lainnya, “Uumurnya berapa aja Bi?” “Yang pertama  umurnya di atas Ati, yang kedua dan ketiga umurnya di bawah Ati.” “Semoga jodoh ya Ummi. Yang pertama”. Aku keceplosan, kulihat Ummi hanya diam saja.
***
            “Assalamu’alaikum… “ ucap seorang tamu. Aku bergegas ke bawah. “Wa’alaikumusslam..” aku melihatnya terus menunduk. “Maaf, ada Ibu saya?” entah mengapa aku lengsung menghubungi Ummi kalau anaknya datang, padahal aku sama sekali belum pernah bertemu anaknya Ummi. Dan ternyata benar, dialah Adnan itu. Laki-laki yang berjenggot tipis inilah salah satu anak Ummi. Aku hanya diam saja memperhatikan Ummi dicium oleh anaknya. Ketika ia sekilas melihatku, aku jadi salah tinggah, dan langsung lari ke atas. Aku lupa, aku kan pakai cadar, jadi nggak mungkin dia bisa wajahku, hehe. Selamat. Jadi nggak kelihatan wajahku yang memerah.
            Semenjak itu aku banyak bertanya tentang Kak Adnan ke Ummi. Ternyata ia adalah seorang aktivis dari SMP. Satu-satunya anak Ummi yang tidak pernah mondok. Kak Adnan beberapa kali mewakili kampusnya ke luar daerah. Ia juga tiap tahunnya selalu menjadi ketua organisasi. Bisa dibilang ia adalah anak yang sangat sibuk. Mungkin kesibukannya lebih parah daripada kesibukanku. Hal itulah yang membuatku mengurung meng-SMS-nya. Minimal menanyakan kabarnya pun aku takut.
            Karena tidak tahan memendam perasaan ini. Aku sampaikan kepada Ummi. Kalau aku sudah jatuh cinta sama Kak Adnan. Ummi hanya diam. Aku tahu Ummi sangat mengutamakan nasib pendidikan anak-anaknya. Aku sendiri merasa bersalah mengatakan hal itu, mana mungkin Ummi mau menikahkan anaknya denganku yang hanya seorang khadimah ini. Mungkin aku belum paham dengan namanya jodoh yang tak lari kemana. Aku harus percaya, jodohku sudah disiapkan oleh-Nya. Tak perlu berharap lebih.
***
            Hampir satu bulan semenjak pengakuanku itu, akhirnya aku bisa menerima keadaan. Aku tak lagi menanya-nanyakan tentang anak Ummi terutama Kak Adnan. Aku sudah ikhlas. Namun hari itu Ummi memintaku ke rumah. Aku memboncong Ummi dengan motor Matic. Sesampai di sana sudah berkumpul banyak keluarga Ummi. Ah, mungkin aku diminta bantu-bantu acara keluarga Ummi. Tapi betapa kagetnya diriku, bahwa yang ditunggu sebenarnya adalah aku.
***
            Aku menangis di dalam kamarku. Ummi hanya tersenyum saja disampingku. Aku tak kuat bertanya atau berbicara seperti biasa dengan Ummi. Untunglah Ummi sendiri yang bercerita. “Ti.. Adnan itu orangnya punya keinginan besar, jarang cepat puas, selalu melakukan hal-hal baru. Namun Adnan adalah anak Bibi yang hapalannya paling sedikit dibanding adik-adiknya. Namun insya Allah ilmu agamanya tidak kalah dengan adik-adiknya yang di Pondok karena rutinnya ia ikut kajian dan belajar dengan ustadz-utadznya. Ummi Cuma kasih gambaran besarnya saja. Ati yang menentukan menerima atau menolaknya.” Cerita Ummi. Bukan itu yang kuingin dengar, aku merasa tak pantas mendapatkan Kak Adnan. Mengapa ia mau denganku. Padahal aku sudah memutuskan untuk mengikhlaskan, karena aku tahu diri. Tapi mengapa sekarang cerita berubah arah? Aku masih merasa tak pantas.
            Lalu Ummi mengeluarkan sebuah surat, menyerahkannya padaku lalu pergi. Kubuka secara perlahan, di dalamnya kertas dengan warna hijau muda bertuliskan:

“Segala Puji bagi Allah. Tuhan semesta alam. Karunia oksigen yang tak pernah kita bayar, rahmat kesehatan yang selalu kita rasakan, dan nikmat bisa menulis surat ini. Maka syukur kepada Allah kita panjatkan. Dan kepada Baginda Rasulullah, shalawat dan salam, yang menjadi suri tauldan kita.

Untuk Niati

Aku mungkin bercerita bagaimana meyakinkan Ibuku agar mau menerimaku menikah di usia ini. Aku baru lulus S1 dan insya Allah akan lanjut S2 di Jogja. Kamu tahu sendiri Ibuku itu sangat ngotot anak-anaknya harus punya ilmu dulu sebelum menikah. Aku meyakinkan banyak cara tapi tak berhasil juga.
Tapi setelah aku menyebut akan melamarmu, Ibuku tetap meyakinkanku agar S2 dulu.
Lalu kusebut, aku akan tetap S2 dan kamu harus kuliah di STIT Nurul Islam, jadi kamu tetap dekat sama Ibu. Masalah biaya, Alhamdulillah, aku sudah menabung dengan kerja diam-diam. Kita bisa LDR-an seperti kata orang-orang. Tapi LDR-an yang halal.
Ibu Cuma diam saat kuutarakan itu.
Yah, diam berarti setuju. Hehe.
Aku jatuh cinta, karena kulihat ibuku sangat banyak bercerita tentangmu. Aku sangat ingin mencari istri yang mencintai ibuku seperti ia mencintai ibunya sendiri. Karena bagaimana pun walau aku sudah menikah nanti, aku harus dan tetap berbakti pada Ibu bukan kepada istri. Aku takut memiliki istri yang tak sayang pada Ibuku. Dan aku bahagia, menemukan Bidadari itu, bersembunyi di samping Ibuku.

TTD
Adnan

***
            Bukan karena tak peduli. Bukan pula karena tak ingin. Ketika cinta bersemi, merembak dalam dada. Buncah. Ia harus segera terobati. Begitu pula denganku. Aku sudah ikhlas, siapapun melamarku, tak muluk-muluk, yang penting ia sholeh, insya Allah. Dan ternyata, janji Allah itu, ketika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, maka ia akan menggantikannya dengan jauh lebih baik. Hari ini pun aku merasakan janji itu. Betapa nikmat mencintai Allah. Maka cinta-cinta di dunia pun akan terasa pula. Akhirnya aku bisa bersama dengan keluarga yang kucinta ini. Menjadi bagian darinya. Bersama mereka pula, aku tahu arti menyayangi orang tua, bagaimana pun orang tua kita. Aku pun bersama keluarga baruku menemui keluargaku. Ah, sesunggukan haru terjadi dianatara kami. Belum pernah aku merasa sebahagia ini dengan keluarga asliku. Kami saling memafkan, saling peluk satu sama lain. Sambil megualurkan air mata berkali-kali. Ah, beginilah ketika kita menyerahkan semua ke Allah. Allah akan memabalasnya berkali-kali lipat kebahagiaan. Untuk cinta-Nya, kuucapkan terima kasih.               
***
           

2 komentar:

Laely Marlinda mengatakan...

Berkomentar bukan berarti saya menjatuhkan. Pertama, sebaiknya menaruh catatan kaki untuk 'kata' yg tidak umum bagi orang awam seperti saya, khadimah misalnya. Sehingga, pembaca dapat bertambah wawasannya. Kedua, typo yang saya fikir cukup banyak dan itu menandakan bahwa penulis ingin cepat mempublikan tulisannya. Ketiga, alur cerita yang bagi saya belum menyentuh hati pembaca. Overall, saya terinspirasi dengan tulisan kakak karena "Sedekat apa pun kamu dengan dia, senyaman, pun sekuat apapun usahamu mendapatkan dia, jika Allah tidak mengijinkan. Kita bisa apa? Tulisan ini mengingatkan saya untuk belajar mengikhlaskan 'nafsu terselubung kasih'dan belajar untuk berjuang sendiri ditemani hangatnya sang mentari. Jangan menyerah menjadi penulis dan teruslah menginpirasi dengan ketulusan hati.

Rozita baiq mengatakan...

Kalau saya sih cerita ini sudah sedikit menyentuh hati, namun msih bnyak hal yg membuat saya penasaran dan bertanya-tanya..
Setelah di tunggu kedatangannya drmh ummi, lalu apa yg terjdi???
Hehe..