Ayah dan si Putri Kecil




Oleh Mujib NS Jawahir

            Aku harus beli petasan, pasti mereka mau jailin aku lagi.Ucap Putri yang sudah berumur sembilan tahun itu.Dia adalah anak perempuan yang sedikit tomboi, lihat saja celananya selutut dan bajunya sesiku, dan coba lihat rambutnya sudah sebahu diikat seperti tokoh Genji (tokoh film Crow Zero). Kalau dilihat sepintas ia lebih mirip anak laki-laki. Maka dari itu teman-temannya bukan memangilnya Putri melainkan Putra. Dan Putri tidak merasa aneh dengan panggilan itu, malah ia suka. Soalnya lebih kedengan jago.Iya, dia adalah jagoan di kampung ini.Anak laki-laki saja hampir semuanya sudah dia pukul dan kalah telak dengan ilmu bela dirinya.Sungguh Putri kecil yang mengerikan.
            Benar saja, petasan itu mendarat tepat di bawah kakinya. Belum sempat ia lari, petasan itu meledak dan membuat kakinya sedikit memar. Dia tidak menangis, dia cuma meringis.Kemarahan sudah sampai kepalanya, Awas kalian. Gerutunya sambal mengendap-endap mencari persembunyian.Dan gerombolan anak laki-laki itu tampak kebingunan mencari Putri.Tawa mereka sempat terhenti.Namun ketika melihat sandal Putri dibalik tembok masjid, mereka tertawa lagi.Lalu mereka ramai-ramai melemparkan petasan yang sudah merea nyalakan ke arah sandal itu.Suara petasan meledakpun terjadi ramai-ramai.Mereka tertawa terbahak-bahak.
Tapi hei, Putri bukanlah anak yang bodoh. Lihatlah dia sekarang sudah tersenyum manis di belakang mereka sambal membawa sepuluh bungkus petasan yang sudah dinyalakan. Ia sengaja meninggalkan sandalnya di balik tembok masjid,sedangkan ia memutari masjid sampai ke belakang mereka. Sedang asik-asiknya mereka terpingkal-pingkal, Putri langsung melemparkan sepuluh kotak petasan itu ke arah mereka.Dan bukan cuma itu saja, Putri juga sudah menaruh masing-masing di selipan baju mereka sepuluh petasan yang sudah dibakar.Saat mereka sadar, belum sempat mereka menahan tawa mereka.Ledakan besar itu terjadi.Dar dar dar.Putri terpingkal habis-habisan.Lucu saja melihat yang dijaili malah bisa menjaili balik.

***
            “Ayah, Putri boleh minum ya?Nanti Putri lanjutkan puasa lagi kok,” mohon Putri dengan wajahnya yang memelas.Ia baru saja main bola dengan anak laki-laki kampung. Iaselalu menjadi striker dantop scor di kampung ini. Ayah seperti biasa tak pernah melarang Putri melakukan hal-hal yang ia suka. Kalau Putri mau dibelikan mobil-mobilan, Ayah pada saat itu juga akanmencari toko maianan yang buka dengan sepeda kumbangnya. Karena di kampung mainan cuma ada di pasar yang bukanya satu pekan sekali, setiap malam Ahad. Maka Ayah akan berangkat ke Kota hanya untuk membeli mobil-mobilan. Dan jarak tembuhnya berkilo-kilo meter.
            Akhirnya Putri minum lima gelas air. Ia pun seperti kepanasan dan langsung membuka bajunya. Mau mandi.Ayahhanya geleng-geleng, seakan tahu perkataan Ayah, Putri langsung menjawab, “Ini udah kering kok keringatnya.” Ayah hanya geleng-geleng saja. Mandi Putri tidak sampai lima menit. Bahkan dua menit pun tidak sampai.Sangat cepat.Jika seluruh anak kampung lomba mandi dengan Putri, ah tentu Putri urutan mandi paling cepat. Sehabis mandi ia langsung makan sisa sahur tadi shubuh. Padahal tadi shubuh dia sudah niat puasa sehari full. Dia bangga-banggain sama Ayah, “Lihat nanti Yah. Putri bakal puasa sehari full” Ayah tersenyum bahagia mendengar itu. Ayah memang jarang bicara. Tapi lihat sekarang, Putri dengan lahapnya makan nasi seakan lupa ucapannya enam jam yang lalu. Ayah hanya geleng-geleng kepala sambal senyum-senyum sendiri. Ayah memang selalu begitu melihat putri satu-satunya.
            Habis makan Putri langsung cari bantal.Saat ingin merbohkan kepalanya, Ayah geleng-geleng lagi.Seakan tahu maksud Ayah, Putri menjawab, “Sudah turun kok nasinya, Yah.”Ia pun langsung tidur. Dan kalau sudah tidur, Putri berubah menjadi anak perempuan yang anggun, seperti alhamrum Ibunya, yang cantik. Tidak ada lagi tanda-tanda bahwa ia anak perempuan yang tomboi. Kalau boleh jujur Ayah paling suka saat Putri tidur. Ayah sangat suka mencium kening Putri. Dan kamu tahu, Ayah ternyata banyak bicara saat Putri tidur. Sambil terus mengusap rambut Putri.Putri sampai sekarang belum sadar.Ia hanya menganggap Ayahnya irit bicara. Beda dengan dia yang cerewet.
***
            Saat Putri terbangun.Ia merasakan celananya basah. Masak aku ngompol sih, aduh malu.Ia pun segera ke kamar mandi takut dilihat Ayah. Sampai di kamar mandi betapa terkejutnya Putri.Ia melihat darah. Ia pernah melihat ibu-ibu melahirkan, dan ibu-ibu itu juga berdarah seperti ini. Putri linglung, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia takut, untuk pertama kalinya semenjak masih sangat kecil dulu, akhirnya Putri menangis sambal berteriak memanggil Ayah. “Ayah…  Ayah… Putri melahirkan Ayah. Tolong Ayah.. Ayah.. Putri takut… Putri melahirkan… hiks hiks.” Ayah tampak kebingungan mendengar ucapan Putri. Melahirkan? Ayah pikir Putri sedang bercanda, tapi tidak mungkin Putri bercanda. Jelas-jelas Putri sedang menangis. Ayah langsung lari ke kamar mandi.
            Ayah melihat Putri sesenggukan. Awalnya Ayah bingung, apa yang sedang terjadi sama putrinya. Lama-lama ia sadar juga, putrinya mengalami haid pertama. Ingin rasanya ia tertawa melihat ekspresi ketakutan anaknya yang mengira melahirkan. Tapi dia urungkan niat itu melihat Putri yang masih menangis. Sebagai satu-satunya orang tua, tentunya Ayah sudah belajar banyak hal tentang anak perempuan dan permasalahan-permasalahannya. Dan ia tidak menyangka saja, anaknya secepat ini mengalami haid.
            Ayah pun mengarakan dari luar kamar mandi agar Putri mandi haid. “Put, wudhu dulu.” “Sudah Yah.” “Siram air ke kepala, terus gosok kuat-kuat biar air masuk ke kulit kepala.” “Sudah Yah.” “Put, itu baru lima detik. Kok dah aja.Pasti masih ada yang nggak basah itu.”Setelah beberapa menit akhirnya semua kulit kepala Putri sudah basah.“Terus apa lagi Yah?” “Mandi kayak biasa, harus semua kena air. Mandi yang lama, jangan cepat-cepat.” “Udah Yah” “Itu siku-sikunya sudah digosok? Sama lipatan-lipatan kulit yang lain?” Hampir tiga puluh menit Putri di kamar mandi.Ini adalah rekor mandi terlama Putri dalam sejarah. Lalu Ayah mengambil kapas dan memberikannya minyak wangi. Ayahpun ke kamar mandi. Ayah menyerahkan kapas tersebut sambal membelakangi Putri. Dari tadi ia terus membelakangi Putri. “Ini buat apa Yah?” “Itu diusap di bekas darah tadi.” Di tangan Ayah juga sudah ada pakaian ganti dan pembalut. Kalau boleh Jujur, Ayah tak kalah groginya menghadapi anaknya yang sedang haid. Bahkan mungkin lebih grogi dibanding Putri sendiri. Dan bisa jadi, Ayah lebih takut melihat Putri yang sudah menjadi gadis dibanding Putri sendiri.
            Perut Putri mules semenjakkejadian tadi siang. Terus ia pun merasa nyeri. Dari tadi dia ngomel-ngomel saja.Bukannya kata Ayah kalua marah itu harus wudhu ya. Ia pun wudhu dan hendak sholat ashar. Tapi Ayahnya melarangnya sholat.Saat itulah emosi Putri keluar. “Ayah gimana sih. Kemarin Putri nggak sholat dipukul.Kenapa sekarang Putri mau sholat dilarang. Putri nggak suka sama Ayah.” Lalu Putri lari entah kemana, mungkin ke lapangan buat main bola. Benar saja, ia berlari ke sana. Tapi larinya tidak sekencang biasanya.Nyeri kembali terasa.Ia pun berjalan, tapi jalannya tidak seperti biasanya. Ia jalan lebih mirip robot karena belum terbiasa mengguakan pembalut.
            Sesampai di lapangan, bukannya menambah moodnya.Ia semakin emosi saja. Ia diejek jalan kayak robot, malah permainan bola pun seperti permainan bola robot. Semua pemainnya pura-pura jalan kayak robot. Semua tertawa.Tidak seperti biasanya, Putri tidak tertawa.Iamarah-marah, dan untuk kali ini, ia menangis di depan yang lain. Tidak seperti Putri biasanya yang selalu bisa membalas keusilan teman laki-lakinya. Dikejauhan Ayahmelihat Putri yang jongkok sambal menyilangkan tangannya dan memasukkan wajahnya. Ia senggukan. Melihat hal itu Ayahlangsung menghampiri Putri sambal mengelus rambutnya. Putri diam saja sambil tetap menangis. “Putri anak Ayah yang paling kuat. Bukannya Putri pengen lebih kuat dari Spider Man ya? Kan yang bisa menahan marah adalah yang paling kuat.”Ayahnya sambal ikut jongkok, masih saja mengelus rambut putrinya.Putri perlahan melihat Ayahnya dan segera memeluknya. Baru kali ini ia merasa ada seseorang yang sangat ia..ah entah bagaimana rasanya. Mungkin ia sudah jatuh cinta, jatuh cinta pada Ayah. Karena Ayah adalah laki-laki pertama yang dijatuh cintai oleh anaknya. Begitu pula Putri hari ini. Ayah menggendongnya sampai ke rumah. Biasanya Putri sangat tidak suka digendong, tapi hari ini ia mau digendong terus. Ada semacam kebahagiaan digendong Ayah. Dan ia baru merasakannya.
            Setelah emosi Putri kembali normal. Ayah membawa Putri ke dokter. “Jadi Putri benar melahirkan ya, Yah?Wah, Putri punya adek dong.” Ayah hanya geleng-geleng sambal tersenyum di atas sepeda kumbangnya, Putri dibelakang sambil memeluk Ayah. “Putri sedang haid, itu menandakan Putri sudah jadi gadis. Jadi Putri nggak bisa bebas lagi kayak dulu-dulu. Sekarang giliran Putri yang harus nurutin perintah Ayah. Kemarin-kemarin kan Putri aja yang pengen ini pengen itu. Boleh ya?”Putri tertawa lebar, “Siap, Bos!”Ucapnya sambal memperbaiki jilbabnya yang melambai-lambai karena terpaan angin.Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya Putri pakai jilbab.Ia tampak manis, dengan kulit sawo matang karena sering main bola dibawah terik matahari.
            Sesampai di rumah prakter dokter. Ayah langsung menanyakan perihal haid pertama Putri. Kenapa bisa secepat itu, padahal rata-rata anak haid berusia 14 tahunan.Dokter yang ditanya menjelaskan secara lembut.“Usia terjadinya menarche itu bervariasi, Pak. Biasanya dipengaruhi faktor psikologi, asupan gizi, genetik, perkembangan hormonal, juga pubertas. Mungkin anak Bapak punya kadarhormone yang tinggi atau pemikirannya lebih dewasa, makanya lebih cepat menarche-nya.” “Dok, menarche itu apa ya?” Dokter itu tersenyum menghadap Putri yang bertanya.“Manarche itu haid pertama, kayak adek alami sekarang ini.”Putri mengangguk-angguk.“Oh ya. Nanti terus ingatkan ya adek ini, buat ganti pembalut empat sampai lima kali sehari. Jadi, kemana-mana harus siapkan pembalut dan pakaian ganti.Dan yang paling penting, banyak-banyak konsumsi makanan bergizi dan cukup istirahat.”“Insya Allah, Dok” jawan Ayah.“Oh ya, hampir lupa.Saat haid biasanya perut jadi mulas, kurang enak badan, dan cepat tersinggung.Jadi adek harus bisa kendalikan emosi.” Ayah terus saya mengusap jilbab Putri seakan mengatakan pada dunia, ini putriku sudah jadi gadis. Tanpa diduga-duga, Putri bertanya sambal malu-malu, “Mm..Jadi Putri nggak hamil ya, Dok?”
***
            Semenjak haid itu Putri benar saja jadi sangat sensitif.Ia cepat sekali marah. Seperti shubuh ini.Ini masalah puasa. “Ayah jahat! Putri mau puasa dilarang! Kemarin-kemarin Putri dijanjikan mainan biar mau puasa.Tapi sekarang Putri dilarang puasa. Ayah jahat! Putri nggak mau ngomong sama Ayah lagi!” Ayah hanya diam. Dia masih belum bisa menjelaskan kepada Putri bahwa perempuan yang haid diharamkan untuk sholat dan puasa. Ia hanya bisa memandang Putri menuju kamarnya sambal terus menggerutu. Setelah pukul tujuh barulah Putri keluar kamar dan minta maaf sama Ayah. Rpanya ia sudah merasa bersalah. Lucu sekali wajahnya minta maaf.Ayahnya menjawab minta maafnya dengan senyuman.“Putri mau main bola dulu ya, Yah” ucapnya sambil keluar dengan baju dan celana pendeknya.Dan rambutnya yang terikat seperti Genji. Tapi ia tidak bisa keluar, pintu rumah dikunci. “Put, pakai dulu jilbabnya. Sama pakai juga rok dan baju panjang yang Ayah belikan.” “Loh, bukannya sekarang belum lebaran ya, Yah?Masak juga Putri main bola pakai rok?” Namun Ayah tetap bersikeras. Ayah berubah, tidak lagi seperti dulu. Lama-lama Putri jadi benci Ayah. “Maunya Ayah apa sih? Putri kan cuma mau main bola. Kenapa disuruh pakai baju baru?Itu kan buat lebaran?” Namun Ayah tetap dengan pendiriannya. Putri sudah tidak bisa membendung emosinya.Ia tendang pintu dengan teknik karatenya. Engsel pintu jadi rusak.Ayahnya yang sangat lembut itu menjadi marah melihat Putri merusak pintu. Ayah marah. Ayah menendang dinding triplek sampai hancur. Mendengus.Lalu terdiam.Tertunduk. Putri ketakutan, ia menangis lagi. Entah mengapa sekarang ia mudah menangis.Ia belum pernah melihat Ayah semarah itu. Sebenanrnya ia sangat sayang Ayah. Ia tidak mau buat Ayah marah. Ia menangis dan pergi keluar, malu sama Ayah. Ia merasa bersalah, sangat bersalah.
            Sedangkan Ayah di dalam rumah tak kalah banyak air matanya. Sangat berat menjadi ayah sekaligus ibu. Terkadang ia hampir menyerah, ia tak kuat. Tapi mengingat Putri, ia tepis lagi perasaan menyerah itu. Lalu hari ini, anak satu-satunya. Yang sangat ia sayangi, sudah beberapa kali berani membentaknya. Ia menangis senggukan, tak tahu harus berbuat apa. Selagi ia masih menangis, Putri dari belakang memeluknya. Sambil terisak, “Maafkan Putri, Ayah. Putri sudah buat Ayah sedih. Putri.. Putri yang salah.. Ayah jangan nangis ya.. Kalau Ayah nangis, Putri makin sedih.” Ayah tak mau menoleh ke wajah Putri, karena air matanya kini semakin deras mendengar perkataan anaknya itu. “Ayah maafkan Putri kan?” Ayah hanya mengangguk sambal mengusap air matanya. “Ini Putri sudah pakai pakaian yang Ayah minta. Kalau dilihat-lihat Putri jadi cantik ya.” Ayah berusaha membalikan badannya, matanya masih merah. Sedangkan wajah Putri sudah ceria, cepat sekali memang suasana hati Putri berubah.Dan lihatlah Putri, sangat cantik dengan jilbab ungu dan pakaian yang sangat serasi. Ayah menjadi sangat senang melihat Putri tertawa. “Ayah udah besar masih cengeng..Hehe.” Ayah hanya tertwa saja mendengar Putri. Putri tidak jadi ke lapangan bola.Iamemiih diam di rumah buat bersih-bersih rumah saja, soalnya Putri belum pernah bersih-bersih rumah. Selalu Ayah yang mengerjakan. Sedangkan Ayah pamit kerja jadi kuli bangunan.
***
            “Ayah..Putri masak lo. Jadi mulai sekarang Ayah nggak perlu masak lagi. Biar Putri yang masak.” Ayah tampak sangat senang, Putri bisa masak? Sejak kapan?Sekan tahu pertanyaan dari senyuman ayahnya “Putri baru belajar masak, belajar sendiri. Ayah harus buka dengan masakan Putri. Ayah kan capek, sini Putri pijitin.” Ayah menurut saja. Sambil dipijat, Ayah merasa inilah saatnya. “Putri Tahu siapa Tuhan kita?”.“Tahu dong.Allah kan?” ucapnya sambil bertanya lagi. Ayah tersenyum mendengar jawaban Putri. “Yah, tapi Putri punya teman.Tuhannya bukan Allah.Putri lihat gambar tuhannya ditaruh ditiang.Sama aku juga liha teman Putri juga punya tuhan keren, bisa dibawa kemana-mana.Lucu ya, Yah.”  “Wah.. Putri punya teman non muslim juga ya. Terus menurut Putri ada berapa tuhan?” “Satu, Yah. Soalnya Pancasila kita bilang, Ketuhanan Yang Maha Esa.Esa itu kan satu, Yah.” Ayah terlihat bahagia mendengar jawaban putrinya. “Kalau di sekolah pernah nggak diajarkan tauhid?” Ayah bertanya hal ini karena Ayah alumni pondok pesantren, tidak seperti Putri sekolah formal. Putri menggelang. Ayah mengehembuskan nafas kecewa. “Ayah kasih tahu hal yang sangat penting dalam agama kita. Yang bisa membuat pahala kita diterima oleh Allah atau tidak.” Sebenanrnya Putri malas mendengarkan Ayah ceramah. “Bayangkan kalau Putri udah sholat, puasa, wudhu, sama berbuat baik.Tapi semua itu Allah tidak anggap jadi pahala.Bisa jadi Putri masuk neraka.” Putri terhenti memijat Ayah, neraka, sebuah tempat yang paling ia takuti siksanya. “Nah, makanya Putri harus tahu tauhid.”Putri mengangguk takut-takut.“Tauhid rububiyah, percaya bahwa Allah satu-satunya yang Maha Pencipta, Maha memiliki kekuasaan, dan pengaturan. Yang kedua tauhid uluhiyah, beribdah hanya kepada Allah, tidak nyembah yang lain. Sama tauhid asma’ wa ash-shifat, mengesakan Allah seperti nama-nama dan sifat-sifat Allah tanpa mengubah-ubah, tanpa dinafikan, sama tanpa menyamakan Allah sama makhluk.”Putri hanya manggut-manggut saja. Ayah tampak merasa salah tingkah. Sepertinya ia terlalu dini memberikan pelajaran tauhid tingkat lanjut kepada putrinya.  Namun ia juga takut akan terlambat memberikan pelajaran seperti keterlambatannya memberikan ilmu tentang haid kepada Putri.
            Tak terasa adzan maghrib pun berkumandang. Putri sudah menyiapkan air putih dan kurma.Bismillahirohmanirrohim. Ayah memakan tiga butir kurma, lalu meneguk air . Setelah itu baru do’a berbuka puasa. Melihat Ayah yang sedang berbuka, Putri semangat sekali. Ia memang tak puasa, tapi ia tahu. Menyediakan buka puasa pahalanya sama seperti orang berpuasa. “Ayah, bagaimana rebusan air putih Putri? Enak kan, Yah?” Ayah tampak bingung, lalu dengan wajah ceria dia meminum kembali airnya. “Ini air putih terenak yang pernah Ayah minum hari ini.” Mata Putri tambak berbinar bahagia.“Wah, kalau gitu Putri ambilkan lagi ya. Tadi Putri sudah masak air putih satu ember.” Ayah pikir Putri cuma bawa kocor, tapi Putri benar-benar bawa ember. “Ini, Yah. Habisin ya, nanti mubazir lo.”Ayah Cuma bisa menelan ludah.“Oh iya Yah. Jangan malu-malu sama Putri. Itu nasinya di makan ya.Putri juga sudah buat bening kangkung. Ayah tampak semanagt sekali membuka tempat nasi, ini pertama kali putrinya membuatkannya masakan. Ia benar-benar bahagia. Tapi.Tidak ada rupa nasi seperti biasa, nasinya agak becek, lebih tepatnya seperti bubur. Lalu Ayah pun mencicipi kuah sayur, ini sayur bayam bukan sayur kangkung. Rasanya tawar. Lalu Ayah memandang Putri, seolah mnegatakn. Bener Putri yang buat?Seakan tahu ditanya, “Ini benar kok, Putri yang buat.Tapi Putri belum cicip sih. Soalnya Putri nggak mau kasih Ayah bekas cicipan. Putri maunya Ayah yang pertama kali makan masakan Putri.” Ayah hanya mengangguk-angguk. Apakah aku harus memakannya ya?Ini kayaknaya tawar semua.Masakan ini cocoknya buat orang sakit. Seakan tahu apa yang ada di dalam hati ayahnya. “Benar banget. Putri merasa kasihan sama Ayah. Ayah kelihatan kayak sakit, kecapean. Makanya Putri sengaja buat begini. Agar Ayah bisa nafsu makan” ucap Putri dengan bangga. Melihat Putrinya sangat semangat dan bahagia. Tanpa terasa ia sudah menghabiskan makanan buburnya dengan lahap. Melihat Ayahnya sangat suka masakannya, Putri tanpa tanya-tanya langsung menambahkan lagi ke piring Ayahnya.“Enak ya Yah?Putri jadi pengen juga.”Saat Putri makan masakannya, Putri langsung meludahkannya. “Kok gini ya rasanya… Stop Ayah. Ternyata masakan Putri gagal.Jangan teruskan, bahaya. Nanti perut Ayah bisa sakit” Dengan cekatan mengambil perkakas dan mnaruhnya di dapur. “Untung saja Ayah nggak terlalu banyak makan, Putri aja cuma makan secicip sudah mules.” Ayah merasa ada yang salah, bukannya Ayah sudah makan tiga piring ya? Ah, begitulah Ayah. Demi anaknya, apa sih yang tidak.
***
            Pagi itu Putri tampak murung.Ayahnya yang mau berangkat kerja menunda keberangkatannya.Ada apa dengan Putri? Seakan tahu makna tatapan ayahnya, Putri langsung menangis, akhir-akhir ini ia suka sekali menangis. “Putri nggak bisa puasa lagi.Putri nggak sempat mandi haid tadi malam.Terus Putri ketiduran sampai shubuh. Padahal Putri sudah nggak haid lagi… “ Ayah diam menyaksikan anaknya yang menangis karena tak bisa puasa.Sebentar, sepertinya ia bisa menghibur anaknya. “Benar haid Putri sudah berhenti tadi malam?” Putri mengangguk, “Jam dua tadi. Tapi Putri cuma bersihkan saja, nggak mandi.Soalnya tadi malam dingin.Tapi Putri nyesel nggak mandi. Putri nyesel..”Putri kembali menangis. Sedangkan Ayah malah tersenyum, tawa Ayah ya tersenyum. “Ayah ketawain Putri nggak bisa puasa ya?” Ayah hanya menggeleng, “Sekarang Putri mandi haid, Putri bisa puasa kok.” Mata Putri melotot tak percaya.“Iya, boleh kok.”Tanpa banyak bicara, Putri langsung ke kamar mandi dan mandi.
            Ayah sudah berangkat kerja. Sedangkan Putri sudah selesai mandi. Kini ia semangat buat bersih-bersih halaman. Rupanya sifat tangguhnya belum benar-benar hilang.Coba lihat dia sekarang dengan cangkulnya.Ia mencangkul semua rumput di depan, samping, dan belakang rumahnya. Tanganya dengan lincah memindahkan pacul tersebut ke rumput lain. Tak terasa ia mencangkul selama tiga jam lebih. Keringatnya bercucuran.Haus.Ia langsung masuk ke rumah dan minum. Rasanya masih haus, ia ambil lagi air minum dan saat air itu sampai ke dalam mulutnya, ia baru ingat, ia sedang puasa. Ia langsung ke dalam kamarnya, menangis lagi.Kini Putri senang sekali menangis.
            Ayahnya baru pulang kerja melihat halaman rumah sangat bersih.Rumput-rumput sudah hilang.Betapa bahagianya Ayah. Namun ia mendengar isakan tangis Putri di kamarnya. Jangan-jangan Putri luka gara-gara bersihkan halaman.Ayah pun berlari ke kamar Putri.Tapi kamar Putri di kunci.Ayah menggedor-gedor pintu.Suara isakan tangis Putri makin keras. “Buka pimtunya Putri.. Putri Kenapa?” Ayah sangat kuatir. Namun sudah sepuluh menit pintu belum dibuka-buka. Ayah sudah sangat kuatir. Ayah dengan sekuat tenaga menghantamkan tubuhnya ke pintu. Dan. Tiba-tiba pintu terbuka. Ayah meluncur tanpa rem.
            “Puasa Putri batal.. Puasa Putri batal..Putri sedih. Padahal Putri mau puasa..”Putri terus saja menangis.“Tadi Putri minum air, tapi Putri lupa. Puasa Putri batal.. Putri sedih… Putri jengkel.. Putri… “ Putri seolah bingung ingin menyalahkan siapa. Ayah melihat satu gelas pecah didapur. Lalu melihat wajah Putri yang benar-benar sedih. Ayah hanya tersenyum. “Putri bisa lanjutkan puasa kok.Kalau lupa nggak apa-apa kok.”Belum sampai satu menit, wajah sedih Putri sudah berubah jadi cerah.“Kalau Putri tahu gitu, Putri sering-sering aja lupa.” Ayah hanyageleng-geleng.
            Ayah tidak pernah sholat wajib di rumah. Ayah selalu mengajak Putri sholat di Masjid. Tapi tidak ketika Putri sudah haid, Ayah tak lagi mengajak Putri sholat di masjid. Tapi Ayah selalu mengingatkan Putri agar selalu sholat awal waktu. Agar kalau terjadi haid tiba-tiba, Putri sudah sholat.Putri yang kerajinan ibadah sangat mengingat titah itu.Ia juga sering minta diajak ke masjid tapi lebih sering di rumah. Hari itu ia ke masjid bersama Ayah. “Yah, kalau kita ke masjid pahala kita dihitung berdasarkan langkah kaki kan?” Ayah hanya mengangguk. “Kalau gitu Putri mau keliling kampung dulu, biar banyak langkahnya.” Namun Ayah hanya menatap Putri, seolah mengatakan, ini sudah adzan, nggak lama lagi komat. Putri hanya diam. Tapi ia masih punya cara lain, ia buat langkahnya kecil-kecil. Ayah hanya geleng-geleng. Karena saking gemesnya, Putri pun digendong Ayah di punggungnya.Putri paling suka digendong.
***
            Hal yang paling disukai Putri dari Ayah sebenarnya bercerita sebelum tidur. Setiap hari pasti cerita Ayah berbeda-beda. Pernah suatu kali Ayah bercerita dengan cerita yang sama. Putri protes, karena dia sudah tahu cerita itu. Maka dari itu hampir tiap pekan pula Ayah selalu beli buku cerita para Nabi, sahabat, tabi’in, dan para tokoh-tokoh islam lainnya. Malam ini Ayah menceritakan kisah seorang Ibu. Putri memang paling suka kisah kasih sayang Ibu.
            “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: Ada dua orang perempuan sedang bermain-main bersama dua orang anaknya. Tiba-tiba datang seekor serigala menerkam salah satu anaknya dan dibawa lari. Maka Ibu yang mempunyai anak diterkam berkata kepada Ibu yang anaknya selamat ‘Yang dibawa lari serigala adalah anakmu.’ Temannya pun membantah, ‘Bukan, yang diterkam serigala adalah anakmu.Lalu mereka saling berebut anak yang tersisa.Keduanya pun menghampiri Nabi Dawud untuk meminta keputusan.Nabi Dawud mengatakan bahwa anak tersebut adalah putra dari ibu yang lebih tua. Namun karena tidak puas, mereka berdua akhirnya mendatangi Nabi Sulaiman bin Dawud. Nabi Sulaiman berkata, ‘Bawalah kepadaku sebilah pisau untuk membelah anak ini agar masing-masing ibu mendapatkan bagiannya.’Perempuan yang lebih muda kemudian berkata, ‘Jangan lakukan!Semoga Allah memberi rahmat kepadamu.Itu anak dari ibu ini,’ katanya sambil menunjuk kepada ibu yang lebih tua.Maka Nabi Sulaiman memustuskan bahwa anak tersebut merupakan putra dari ibu yang lebih muda.”
            Ayah memang pencerita yang kaku. Tidak ada variasinya.Tapi itulah ciri khas Ayah, seolah mengajarkan kalau bercerita tidak usah ditambah-tambah, dikurangi, ada diberi bumbu agar cerita menarik. Begitu pula dengan setiap kisah yang Ayah ceritakan tiap malam. Ia ambil dari kisah-kisah yang shahih. Putri pun sudahterbiasa dengan kekakuan bercerita Ayah. Walau begitu, cerita Ayah selalu saja membekas ke dalam hati Putri. Ia membayangkan menjadi seorang Ibu muda tersebut. Ketika anaknya mau dipotong agar dibagi dua. Pasti ia rela melepaskan anaknya untuk orang lain asalkan anaknya tetap hidup. Apakah ibunya juga akan melakukan hal sama jika ia masih hidup. Putri selalu bertanya-tanya.Bagaimana rasanya memiliki seorang ibu?Tak terasa air mata Putri mengalir.Ia rindu ibu. Tapi ia bingung membayangkan wajahnya. Disamping Ayahhanya bisa mengelus jilbab putrinya. “Do’akan agar kita bisa berkumpul di syurga ya.. Putri kan anak yang sholehah..“ Hibur Ayah. Putri diam saja.Ia rindu, sangat rindu. Apakah ibu tidak rindu?Iya tidak mengeluarkan suara, tapi pipinya sudah basah. Ayah secara perlahan mengusap air matanya.          Saat Putri tertidur. Ayah hanya tidur  sebentar lalu bangun sholat tahajud. Melihat Putri yang menangis karena rindu ibu, membuatnya kembali teringat masa-masa kritis istrinya melahirkan Putri.
***
            “Aku baik-baik saja, sayang.Kamu nggak pernah berubah. Kamu pendiam, bahkan saat kamu nangis pun kamu diam. Tapi itulah yang aku suka darimu.” Ayah melihat ibu yang sekarat di di rumah sakit. Ia pegang tangan Ibu erat seolah berkata:Tapi kamu kan kritis, aku takut kehilangan kamu. Bagaimana dengan anak kita?“Sayang, kamu tahu apa yang membuatku bahagia?Aku sudah mencium bau syurga. Dulu Ayah sendiri yang cerita sama aku, kalau istri bisa masuk syurga karena ridho suaminya. Dan aku bahagia, karena aku tahu, kamu merindhoiku sebagai istrimu” Ayah terus saja menangis. Berdo’a memohon agar Allah mengasihani keluarganya.Agar Ibu diselamatkan. Semua pujian ia panjatkan ke Allah. Permohonan ampunan. Sudah tiga malamini Ayah tidak tidur-tidur. Terus memohon rasa kasihan Allah.
            Subuh itu, adzan berkumandang. Ayah sholat dengan khusyuk. Setelah salamia merasa ada hal yang hilang dalam dirinya. Ia berlari ke ruang istrinya. Di sana ia melihat istrinya sedang berusaha melahirkan anak pertamnya. Ia terus berzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah. Dan penantian itu pun datang pula.Istri dan anaknya selamat. Saat itu juga Ayah bersujud syukur di lantai dengan sangat lama. Ibu menatap Ayah dengan haru.
            Namun Ibu tidak bisa langsung pulang, ia mengalami pendarahan selama beberapa hari. Ayah selalu setia menunggu Ibu. “Aku bahagia lo Yah.Akhirnya aku bisa jadi Ibu.Ternyata gini rasanya dulu ibuku melahrikanku.Sakit sekali.Tapi setelah mendengar tangis anak kita, rasa sakit itu terlunas dengan kebahagiaan.Aku bahagia sekali hari ini.” Ayah tersenyum sambil terus mencium kening Ibu. Ayah juga sudah jadi seorang ayah.“Yah, Maafkan aku ya selama ini nggak bisa jadi perempuan yang sempurna.Aku sering ya ngecewain?Soalnya masakanku kayaknya nggak enak ya.”“Enak kok.Masakan terenak di dunia.”“Idih, gombal” Ibu mencubit genit tangan Ayah. “Yah, apa benar Ayah sudah ridho’ aku menjadi istrimu?” Ayah hanya diam. “Aku tanya, apa benar Ayah sudah ridho’ aku menjadi istrimu?” Ayah hanya diam. Matanya berkaca. Suara Ibu makin pelan.“Ayah.Jawab aku. Ayah sudah ridho’ aku jadi istrimu?” Suara Ibu sangat lemah. Suara Ayah tersekat di tenggorokan, ia menggeleng-geleng, sambil menahan isakannya. “Ayah… sudah ridho… Dari dulu Ayah sudah ridho…” Ibu memegang tangan Ayah, lemah sekali.“Boleh aku cium pipi Ayah?” Ayah mendekatkan pipinya ke bibir Ibu. “Aku sayang kamu..Jaga anak kita baik-baik.Semoga kita bisa dipertemukan di syurga Allah.”Perlahan genggangam tangan Ibu semakin melemah.Bibir ibu terus mengucapkan kalimat syahadat. Ayah kelimpungan. Kepalanya pusing.Melihat Ibu yang terdiam di depannya. Tangis ia tahan sedari tadi ia kelurkan. Ia mencium wajah istrinya dengan terus menyebut asma Allah. Seakan tahu ibunya telah meninggalkan dirinya, anaknya pun ikut menangis. Dialah Putri.
***
            Air mata Ayah tak hilang mengingat kisah perpisahan dengan istrinya. Setelah tahajud, ia memulia berdo’a dengan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundak dan kedua telapak tangan menghadap ke wajahnya.
            “Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain selain Allah.Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun.Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb pemilik ‘arsy yang agung.Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb langit dan bumi, serta Rabb pemilik ‘arsy yang mulia.
            Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku terhadap diriku dan ketetapan-Mu adil pada diriku. Aku memohon kepada-Mu, yangsegala Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku”
            Tanpa sadar Putri sudah sholat di belakang Ayah.Ia ternyata sudah dari tadi melihat Ayah berdo’a. Ayah memang begitu, saat Ayah sedih pasti ia langsung sholat dan berdo’a agar dihilangkan kesedihannya. Putri sekarang juga sedang sedih.Putri masih ingat Ibu. Rindu akan Ibu. “Allahummaghfirli wa liwalidayya warhamhumaa kamaa robbayani shagira. Ya Allah..Ampunilah Putridan kedua orang Putri.Sayangi mereka seperti mereka menyayangi Putri.Aamiin.”
            Putri pun menghampiri Ayah.Memeluknya dari belakang.Mencium pipi kiri Ayah.Lalu pipi kananya. Ayah hanya diam, menahan air matanya agar tak keluar. Ayah tidak mau dibilang cengeng lagi. “Ayah. Maafkan Putri ya sudah sering buat Ayah susah.” Putri menunduk. “Sebenarnya..” ia terhenti. “Putri sayang sama Ayah. Tapi Putri malu bilangnya. Putri juga nggak mau lagi buat Ayah sedih. Putri janji..” ucap Putri sambil memberikan jari kelingkingnya. Ayah menyambutnya dengan pelukan dan sebuah bisikan. “Ayah juga sayang sama Putri.” “Putri tahu kok. Ayah sayang sama Putri. Walaupun Ayah nggak bilang, Putri tahu Ayah sayang sama Putri.”Malam itu Putri sudah benar-benar menjadi putri yang sesungguhnya.Gadis sholehah yang berbakti pada Ayah. Takada lagi Putri yang nakal dan membuat Ayah marah.
***
            Putri melanjutkan sekolah di pondok pesantren dengan kemauannya sendiri.Ayahnya tak pernah menolak kemauan anaknya selagi itu kebaikan. Ketika Putri masuk Pondok pun, Ayah sama sekali tak menujukkan wajah keberatannya. Padahal uang tabungan Ayah sangatlah sedikit. Maka hampir setiap jam Ayah pulang pergi rumah untuk mencari pekerjaan apa saja demi bisa membayar daftar ulang. Melihat itu Putri merasa bersalah dengan keinginanya untuk pondok. Tapi Ayah berkata lain. “Putri tahu tidak.Apa hebatnya seroang perempuan sholehah?”Putri hanya diam menatap mata Ayah.
“Ketika ia masih menjadi seorang gadis, ia bisa membuka pintu syurga bagi ayahnya. Ketika ia kelak menjadi seorang istri, ia bisa menyempurnakan agama suaminya. Dan nanti, ketika ia menjadi seorang Ibu. Syurga anak-anaknya di telapak kakinya.” Ayah tersenyum. “Jadi Ayah ingin kamu menjadi seorarang anak yang sholehah. Mencintai Islam. Mengamalkan ajarannya.Menjauhi larangannya. Ayah mungkin tidak sekolah tinggi. Tapi Ayah ingin Putri punya ilmu yang lebih luas dibanding Ayah.”
“Putri tahu?Kenapa Putri harus punya ilmu luas dan berpendidikan tinggi?”Putri hanya diam sambil menatap mata Ayah.“Tujuannya bukan untuk mengejar karir.Bukan itu.Perempuan yang berpendidikan tinggi bertujuan untuk mendidik anak-anaknya, agar menjadi generasi Yang jauh lebih baik dari generasi sebelumnya.Itulah tugas mulia seorang perempuan. Pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling mulia dibadning pekerjaan yang lain. Dan itu cuma bisa dilakukan perempuan” Ayah terdiam sambil menatapku. “Putri harus sekolah. Di mana pun Putri mau. Ayah pasti akan mendukung. Jangan malu kalau minta sesuatu.Karena Ayah sayang Putri.”Ayah memeluk gadis kecil itu, gadis yang jilbab besarnya melambai ditiup angin. “Putri juga sayang Ayah.” Hari ini Ayah dan gadis kecil itu harus berpisah karena sesuatu yang diridhoi Allah. Menuntut ilmu.Karena mereka tahu, barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu.Niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga. Bukan hanya itu saja, orang yang berilmu juga akan diangkat oleh Allah beberapa derajat. Sebuah cita-cita sederhana.Dari keluarga luar biasa.Cita-cita menuju jannah.
Selesai.
***
Catatan dari penulis cerpen.   
Namaku Putri, si gadis kecil itu. Iya, aku menulis pengalaman pribadiku bersama Ayah.Terserahlah kalau tak percaya.Sekarang aku sedang menyelesaikan tesis di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta.
Aku menulis cerpen ini untuk para gadis di luar sana yang belum merasakan jatuh cinta kepada ayahnya. Ayah itu mungkin pendiam, jadi ia tidak mengungkapkan rasa cintanya dengan kata-kata. Biasanya ia mengungkapkanya dengan tindakan-tindakan yang terkadang kita tidak tahu. Ayah pandai sekali menyembunyikan kebaikan. Dan kamu yang merasa kesel sama ayahmu. Mungkin kamu tidak sadar, dulu waktu kecil, setiap malam ayahmu selalu mengelus rambutmu, mencium keningmu.Mungkin tangannya kasar.Tapi karena tangannyalah keluargamu dinafakahi. Mungkin kalau dia marah, ia sangat menakutkan. Tapi percayalah.Marahnya cuma satu tujuan.Agar kamu menjadi lebih baik.
Sebenanrnya aku menulis ini karena duka itu datang lagi.Bagaimana ya aku harus menceritakannya.Pekan kemarin aku pulang.Padahal pekan itu juga aku harus ujian skripsi.Tapi apalah arti ujian skripsi dibanding Ayah. Bukankah berbakti pada orang tua itu lebih utama disbanding ibadah yang bersifat fardu kifayah dan sunnah. Ini merupakan simpulan hukum para ulama dari kisah Jauraij yang tidak menyahut ketika ibunya memanggilnya. Padahal Juraij sedang sholat sunnah. Sampai tiga kali ibunya memanggil, namun Juraij tidak kunjung membatalkan sholatnya. Ibunya pun berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya Juraij adalah anakku. Aku sudah memanggilnya berkali-kali, namun ia enggan menjawabnya. Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia sebelum ia melihat perempuan pelacur. Dan seandainya ibu Juaraij ini berdo’a agar Juraij difintah, niscaya Juraij akan terfitnah. Dan terbukti.Juraij melihat yang didoakan ibunya.Pelacur itu melahirkan seorang bayi.Khalayak pun menanyakan anak siapakah bayi tersebut?Pelacur itu menjawab, penghuni tempat ibadah ini (Juraij). Orang-orang pun  berbondong-bondong menuju Juraij sambil membawa besi perajang. Dan maha suci Allah. Bayi tersebut dapat berbicara, ketika Juraij mengusap kepalanya dan mennanyakan, “Siapakah Bapakmu?”.Bayi itu menjawab, “Bapakku adalah seorang penggembala kambing.”Setelah mendengar jawaban jujur tersebut.Khlayak pun menyesal telah terprovokasi dan menghancurkan tempat ibadah Juraij.Ini merupakan kisah nyata yang tertera di Shahih Bukhari dan Muslim.
Jadi bagi kamu yang belum merasa jatuh cinta.Ketika Ayahmu atau Ibumu sakit.Tinggalkanlah yang kamu pikir sangat penting itu.Orang tuamulah yang paling penting.
Jadi gini. Ayah sakit. Juga tidak bilang-bilang.Aku baru tahu dari suaranya saat kutelpon. Aku menelpon Ayah setiap pagi ba’da shubuh. Tanya kabar dan kondisi beliau.Alhamdulilah, aku kuliah dengan beasiswa LPDP.Jadi tidak lagi memberatkan Ayah. Juga honor menulis opini di koran nasional dan lokal. Kalau kamu bilang, kenapa aku tega ninggalin Ayah.Jawabanya, sebenanrnya aku tidak tega, sangat tidak tega.Setelah S1 aku berniat di rumah nemanin Ayah. Tapi Ayah ngotot mau aku lanjut S2. Katanya aku belum ada yang lamar jadi masih bebas nuntut ilmu agar kalau ada yang lamar ilmuku setaralah sama suami. Tapi aku juga ngotot mau temani Ayah di rumah. Ayah membalasku dengan mendiamiku selama tiga hari. Dan dengan berat hati. Aku mengiyakan permintaan Ayah untuk lanjut S2.
Saat aku menjenguk Ayah di rumah sakit. Belum sempat aku menanyakan kabarnya, Ayah langsung saja menayakan kabarku.“Putri sakit?Capek ya baru dari Jogja? Eh, Putri sudah makan? Ayah punya bubur dari dokter lo. Tapi rasanya masih enakan bubur yang dibuat Putri dulu sih, hehe.”Mataku perih mendengar itu.“Eh, Putri kapan wisudanya? Mau ujian skripsi kan? Jangan bilang Putri ninggalin ujian skripsi? Ayah nanti marah lo” ucap Ayah sambil pura-pura memalingkan wajahnya. Kamu tahu apa yang kulakukan saat itu. Aku hanya bisa diam sambil terus menahan air mata. Lihatlah, Ayah yang dulu tegar dan tegap. Kini badanya lemah.Tangannya dulu kuat menggendongku, kini diinfus dimana-mana.Kakiknya yang selalu kuat jalan ke masjid yang berjarak dua kilo.Kini tertutup dengan selimut, kedinginan.
“Putri..Maafkan Ayah ya. Tidak bisa menjadi Ayah idaman Putri. Ayah merasa malu. Sekarang aja Ayah merasa malu sama Putri.” Aku tahu, Ayah sudah merasa malu untuk memegang tanganku lagi. Kudekatkan diriku ke Ayah.Lalu mencium pipi Ayah.Air mataku tepat terjatuh dipipinya.Tanganya yang lemah memegang kepalaku dan mencium keningku.Labirin-labirin masa lalu kembali terbuka.“Rasanya baru kemarin Putri jadi gadis kecil Ayah.Sekarang Putri udah besar, udah harus punya pasangan hidup, hehe.”Aku tersenyum saja mendengar candaan Ayah.
Malam itu. Ayah memintaku menyimak hapalannya. Ia terus melantunkan ayat al-Qur’an dengan lirih. Rasanya kelu lidah ini ketika ingin membenarkan bacaanya.Rasa malu hinggap didiri. Akhirnya Ayah memperbaiki bacaanya sendiri. Sesampai suratLuqman. Suara Ayah semakin lemah.
Alif lam mim.
Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah.
Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
(Yaitu) orang-orang yang melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat.
Merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuahnnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dan diantara manusia (ada) orang-orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokkan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telingannya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.
Mereka kekal di dalamnya, sebagai janji Allah yang benar. Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakakan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangkanbiakan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.
Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sesembahanmu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.
Dan sungguh, telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Alah Mahakaya, Mahaterpuji.”
Aku membaca arti Al-Qur’an yang Ayah baca. Dan ia tertahan di ayat ketiga belas surat Luqman. Suaranya sangat lemah, namun ia tetap paksakan untuk membacanya.
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”
Ayah tak lagi melanjutkan ayat berikutnya. Yang terdengar dimulutnya hanya zikir-zikir. Secara perlahan  Ayah menghembuskan napas terakhirnya dengan sebuah senyuman yang sangat indah. Ayah yang dulu kukenal selalu mengiyakan apa saja permintaanku, kini ia hanya bisa berbaring dan tak dapat berdiri lagi. Ayah yang kukenal selalu bisa membuat kejutan-kejutan yang tak terduga. Kini mengucapkan namaku pun ia tak bisa.Kuletakkan muhsaf di samping Ayah.Sambil mencium pipi kiri dan kanan Ayah.Kutahan air mataku agar tak terkena dengan kulitanya.Setelah kucium pipinya.Aku keluar dan terisak sejadi-jadinya.
Sungguh.Aku pribadi merasa sangat berat kehilangan Ayah.Aku belum sempat berbalas budi.Dan untuk kamu yang masih meiliki ayah, memiliki ibu.Jangan sampai pernah menyesal.Jadilah anak yang berbakti pada orang tua.Dan kamu, khususnya saudariku, yang sama-sama gadis.Setua apapun umurmu, sedewasa apapun kamu, kalau kamu belum menikah, ayahmu bakal tetap menganggapmu sebagai gadis kecil. Dulu mungkin kamu sering nunggu Ayah pulang kerja. Sekarang coba perhatikan, Ayah yang sering nunggu kamu pulang, entah dari mana. Jujurlah pada diri sendiri. Apakah kamu sudah jatuh cinta pad ayahmu sendiri?
Kalau aku sudah.
Sudah jatuh cinta.
Setiap hari aku jatuh cinta.
Pada Ayah.
Dari:
Si Gadis Kecil.
Putri.

           
           






3 komentar:

Rozita baiq mengatakan...

😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Anonim mengatakan...

Ini cerpen menyadarkan sekaligus memotivasi
Wawan S

zulkifli ahmad mengatakan...

Amazing...
kisah cinta yang indah