Ketika Mimpi Besar itu Meletup



             Pernah mendengar saat Coke-nya Coca-Cola pasarnya menjadi berantakan gara-gara ada Pepsi Chalange? Siapakah dalangnya? Di adalah John Sculley, merupakan CEO termuda Pepsi dala sejarah, umurnya kala itu tiga puluh tahun.  Dimana-mana orang-orang membandingkan rasa Pesi dan Coke. Sebuah strategi yang tak pernah terpikirkan oleh pendahulunya. Kala itu Pepsi berada dalam kejayaan.
            Sedangkan Apple saat itu masih dalam kondisi yang hampir brangkrut. Adalah hal yang mungkin terlalu nekat, Stave Jobs kala itu langsung menawarkan si John Sculley bekerja di Apple. Silahkan membayangan menjadi seorang John Sculley, yang berhasil membawa kejayaan Pepsi, malah ditawarkan pindah ke perusahaan Apple yang hampir bangkrut. Namun apa yang membuat John Sculley tak berkutik untuk menolah ajakan Stave Jobs? “Apakah kau mau seumur hidupmu hanya menjual air gula? Atau tak maukah kau mengubah dunia?”. Ketika ia di Pepsi: uang yang banyak, gaji yang besar, posisi yang tinggi, semuanya takluk di tangannya. Namun Ya, sang brilian itu, takluk dengan gairah itu. Gairah dengan tantangan itu. Tantangan mengubah dunia.          Dan benar saja, Apple menjelma menjadi pengubah dunia. Menerobas ke segala segmen. Kehidupan dunia pun tak lagi seperti dulu. Banyak sekali inovasi yang Apple lakukan, yang tanpa sadar berpengaruh terhadap pola hidup kita.
            Satu bulan lebih aku memimpin Prima. Terlalu lambat menurutku. Menebar semangat itu, ternyata tak semudah yang ada dalam bayangan. Tahu gak, aku selalu membayangkan anak-anak Prima mempunyai cita-cita yang tinggi, semngat yang terus berkobar. Ibaratnya prajurit-prajurit perang, mereka siap menaklukan apapun yang menghadang mereka. Mungkin aku saja yang sebagai komando, yang tidak terlalu maksimal membimbing.

Sangat ingin seperti Ahmad Yassin. Siapakah beliau? Yang sangat ditakuti orang Israel. Padahal beliau lumpuh, di atas kursi roda. Tak mampu menulis, bahkan berkata-kata pun ia terbata. Namun mengapa ia sangat ditakuti? Aku akan sedikit menceritakan tokoh inspiratifku ini, salah satu alasan mengapa aku selalu bersemangat, bergelora, menggapai cita-cita itu. Ia terlahir dari orang yang tak mampu, miskin lagi pengungsi. Ketika kecil, ia merupakan seorang anak yang mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, mimpi-mimpi besar. Namun takdir itu menghampirinya, ia lumpuh saat masih remaja. Namun apakah mimpi-mimpinya ikutan lumpuh? Tidak. Mimpi-mimpinya makin membesar.
Tak ada alsan kekurangan membuat ia berhenti bermimpi. Ia menjadi guru agama Islam. Dan kau tahu, tiap kali ia bicara, orang-orang seperti terbius. Pernah ia menyinggung tentang sholat malam. Dan kau tahu, orang tua murid-murid datang ke sekolah, protes. Kok anak saya jadi suka begadang? Ya. Murid-muridnya, langsung mengerjakan apa yang dikatakan oleh gurunya. Pernah juga ia menyinggung tentang puasa sunnah. Lagi-lagi orang tua murid-murid itu datang. Kenapa anak mereka jadi jarang makan? Ya. Lagi-lagi murid-murid itu seperti terhipnotis. Mengerjakan apa yang disampaikan oleh gurunya. Padahal gurunya hanyalah seorang manusia yang lumpuh. Tapi semangatnya, dapat menumbus sampai hati murid-muridnya.
Inilah dia, seorang yang sangat ditakuti Israel. Padahal tubuhnya, kata dokter-dokter Islarel di penjara, seperti laboratorium hidup. Hampir setiap hari ada saja jenis penyakit yang berdatangan. Tapi kenapa Israel sangat takut padanya? Sekali lagi, menulispun ia tak bisa, bica pun terbata-bata. Suaranya kecil, hampir tak terdengar. Kenapa bisa ia ditakuti? Dialah yang mendorong semangat juang Hamas, tentara Palestina.  Dialah yang membangkitkan gelora jihad. Dialah yang membawa virus juang. Walaupun kini jasadnya telah tiada, tapi aura semangat juangnya makin melebar, semakin membesar. Tak pernah putus. Ah, betapa inginnnya aku seperti itu. Kita memang tak lumpuh dalam jasad, namun seringkali kita lumpuh akan mimpi-mimpi. Maka bermimpilah. Bermimpilah, sebesar yang kau mau. Semakin besar, besarkan lagi, semakin indah.
***
Aku ingin bercerita tentang kisah seorang anak:
Suatu hari, guru TK meminta kepada anak didiknya untuk menggambar bebas. Anak-anak pun menggambar beraneka ragam, ada pemandangan, ada kendaraan, ada keluarga, ada hewan, dan sebagainya. Semuanya mereka gambar di atas kertas gambar A3. Namun ada satu anak, yang hanya menghitamkan kertas gambar A3 tersebut. Jam pelajaran pun sudah habis, namun anak-anak tersebut belum selesai menggambar. Gurunya pun meminta anak didiknya untuk melanjutkannya di rumah.
Sampai di rumah, ternyata anak itu kembali mewarnai kertas A3 dengan warna hitam, hanya warna hitam. Ibunya pun harus berkali-kali beli krayon. Namun yang dipakai anak itu hanya satu warna, hanya warna hitam. Berhari-hari ia tak lepas dari kegiatannya, mewarnai kertas A3 dengan warna hitam. Ada yang full warna hitam, ada pula yang hanya setengah, ada juga warna hitamnya sedikit. Hal itu membuat kuatir guru dan ibunya. Lalu sepakatlah mereka untuk membawa anak tersebut ke psikiater.
Saat anak itu di bawa ke laboratorium pengamatan psikiater, si anak tersebut seperti kerasukan tetap melanjutkan menggambar warna hitam pada kertas A3. Betumpuk-tumpuk sudah. Sampai pada suatu titik, si anak tersenyum sumringah. “Akhirnya selesai juga.” Di sampingnya ada 400 kertas A3 penuh dengan gambar warna hitam. Gambar-gambar itu ternyata tak hitam semuanya. Ia lalu memberi intruksi kepada psikater untuk membantunya menyusun kertas A3. Setelah terbentangkan seperti puzzle, 200x200 maka tampaklah gambar yang dibuat si anak tersebut. Gambar seeokar anak paus tepat sesuai dengan ukuran aslinya.
Si anak tersebut pun sedikit terkekeh dengan hasil karyanya. Psikater yang geleng-geleng kepala takjub dengan anak tersebut. Tak seperti anak yang lain, yang menggambar hanya seukuran kertas. Namun ia punya ide besar, ia menggambar sesuai ukuran aslinya. Begitulah anasib seorang pemikir besar. Dianggap aneh di awal, lalu dikagumi di akhir.
***
Aku punya cerita lagi, cerita ini berasal dari kisah Sang Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail:
“Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, “Duhai Ananda, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka kemukakan apa pendapatmu?” Ia menjawab, “Duhai Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; engkau kan mendapatiku, insya Allah termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ash Shaaffaat: 102).
Bagaimna rindunya Nabi Ibrahim ketika bertemu dengan anaknya yang sudah lama tak bertemu. Namun ketika bertemu, ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Dalam kisah dalam Al-Qur’an tersebut. Nabi Ibrahim bermusyawarah dengan Nabi Ismail, tentang rencana penyembelihan tersebut. Pertanyaannya, kenapa Nabi Ibrahim gak langsung nyembelih Nabi Ismail? Mengapa harus ada acara bertanya-tanya?
Subhanallah... Ini yang aku petik. Kisah ini sungguh membuat aku malu. Ketika aku punya ide besar, aku terlalu memaksakan ide itu berjalan, tanpa memusyawarhkan. Aku lupa akan kisah ini. Aku juga lupa akan banyak kejadian, tentang orang tua yang memaksakan kehendak kepada anaknya, “Pokoknya kamu harus sekolah di sini, kamu harus juara, kamu harus bla-bla”. Padahal kehendak tersebut bukan datang dari Allah, namun datangnya hanya dari diri sendiri. Tapi lihatlah Nabi Ibrahim, yang perintahnya langsung dari Allah, ia tetap memusyawarhkan akan hal itu. Kata Ust Salim A. Fillah, inilah uniknya jalan cinta para pejuang. Justru karena mimpi-mimpi kita adalah keangungan, ia tak perly dipaksakan. Seyakin apapun kita padanya, bahkan sebesar apapun mimpi itu, dua teladan dalam Al-Qur’an mengajarkan pada kita untuk selalu bicara dan berbagi tentang mimpi itu dengan pihak terkait.
***
Ada satu cerita lagi. Datangnya dari Rasululllah shallallhu ‘alaihi wa sallam menjelang perang uhud.
Rasulullah mengusulkan strategi bertahan dalam perang di dalam Kota Madinah. Hal ini akan membuat musuh bimbang. Jika mereka mengepung tanpa masuk Kota Madinah, kondisi akan dibiarkan mengambang. Jika mereka menyerbu, maka kaum muslimin dapat menyerga di mulut-mulut gang sedangkan para wanita bisa menyerang dari atap-atap rumah. Yang penuh semangat mendukung ide ini adalah ‘Abdullah ibn Ubay ibn Salul. Diyakinkaunnya para sahabat yang lain, agar menyetujui ide Rasulullah tersebut.
Namun apa kaa sahabat yang laian? “Ya Rasulullah, sejak dulu kami sudah menanti-nanti dan berharap akan datangnya hari seperti ini. Kami selalu berdo’a kepada Allah untuk itu. Kini, Allah telah menuntun kami dan tempat yang dituju sudah dekat. Keluarlah ya Rasulullah untuk menyongsong mereka! Jangan sampai mereka menhinakan Allah dan Rasul-Nya karena mengganggap kita takut pada mereka...!”
Rasulullah pun mengalah. Maka keputusan pun ditetapkan, kaum muslimin menyongsong musuh di Uhud. Seperti yang kita ketahui, perang ini berakhir pada kekalahan kaum mulimin, sampai-sampai Rasulullah terluka. Pamannya, Hamzah, gugur bersama 70 orang sahabat lainnya. (NB: Ada yang berkata, bahwa perang Uhud sebenarnya dimenangkan oleh kaum muslimin, silahkan dikaji ulang bagi yang belum paham).
Lalu adakah Rasulullah marah, membentak, mengatakan, “Andaikan kalian mengikuti perintahku, maka kita tak akan kalah seperti ini!”. Sama sekali tak ada. Semua menanggung kesakitan ini. Kecuali dia, ‘Abdullah ibn Ubay ibn Salul. Ia bersikap mendukung Rasulullah, hanya karena ia masih sayang akan nyawanya. Lagi-lagi kata Ust Salim A. Fillah. Inilah jalan para pejuang. Tidak memaksakan mimpi. Bermusyawarah. Berjuang bersama. Tidak saling menyalahkan.
***
Mimpi. Aku menemukan mimpi besar, bukan sekedar menemukan, aku juga ingin mewujudkannya. Masalah tercapai atau tidak, itu urusan Allah. Tugasku hanya ikhtiar. Begitu pun di Prima. Aku mempunyai cita-cita yang besar. Revolusi istilahnya. Merubah besar-besaran UKM Prima. Mengembalikan ruh Prima yang hilang. Membentuk sistem yang kompleks. Anggaran dasar yang belum kuat, anggaran rumah tangga yang belum lengkap. Semua sisi ingin kuperbaiki. Dan untuk melakukan itu semua, aku tak bisa sendirian. Aku membutuhkanmu, ya kamu. Yang membaca ini. Jika kamu bukan anak Prima, aku butuh do’amu. Jika kamu naka Prima, ada banyak yang kuharapkan darimu. Aku butuh sholatmu, aku butuh do’amu, aku butuh ibadahmu, aku butuh iktiarmu. Ya, lebih banyak akhiratnya memang. Tapi itulah yang lebih penting di Prima. Hal dunia itu nomor sekian. Percuma kita capek-capek mengejar mimpi besar, kalau ujung-ujungnya kita tidak dapat apa-apa, hanya lelah saja.
Maka kuharap padamu, Brighters (sebutan anggota Prima). Mari kita bangun mimpi bersama. Membuat mimpi yang sebesar-besarnya mimpi (mimpi dalam dunia dunia itu, sungguh sangat kecil), Rasulullah memerintahkan kita, kalau punya cita-cita itu buat cita-cita yang paling tinggi, “Mengaharpkan surga firdaus”. Surga tertinggi. Mustahil? Adalah kata yang hanya menurunkan semangat kita meraih mimpi itu. Sama seperti mimpi dunia. Kita selalu bilang mustahil. Padahal kita belum coba! Kalau gagal, berarti ikhtiar kita belum maksimal, do’a kita ada yang terputus. Coba lagi. Berarti Allah sedang rindu dengan kita yang beriktiar dan berdo’a. Gagal lagi? Tenanglah. Thomas Alfa Edison saja berulang-ulang kali ia mencoba. Hinggap akhirnya ia berhasil membuat lampu. Lalu menagpa kita begitu lemah?
Ayo. Mulai dari sekarang. Buat mimpi yang besar! Semakin besar! Kita berjuang bersama. Untuk satu tujuang. Brighter!.

1 komentar:

Laely Dian Marlinda mengatakan...

Tulisan menggambarkan wawasan penulisnya. Dari tulisan ini saya pun tahu berapa banyak buku yang sudah Anda baca. Jika dibandingan dengan tulisan saya, wah ndk ada apa-apanya. Bagaimana kalau kakak main-main ke blog saya www.laelylinda.blogspot.com