Bersamamu, Prima. Satu Bulan Ini. Perjuangan Baru Saja Dimulai.



Bismillahirrohmanirrohim.

            Yang pertama ingin aku ucapkan adalah permohonan maaf. Pasti banyak kesalahan yang aku buat satu bulan ini. Perjalanan satu bulan yang terasa sangat panjang. Aku teringat kisah Abu Bakar radhiyallahu anhu yang tetap tenang dan menenangkan ketika banyak dari para sahabat kecewa, bersedih, sampai marah. Yaitu ketika Rasulullah wafat. Bukannya ia tidak sedih, saat melihat Rasulullah berbaring tanpa bisa membuka mata lagi, ia menangis, ia juga sedih. Namun di luar sana, ada sahabat yang berteriak lantang, tidak terima ada yang menyebut bahwa Rasulullah meninggal. Semua terpukul. Semua berduka. Abu Bakar dengan tenang keluar, ia bukan hanya mampu bersikap tenang, tapi juga mampu menenangkan. Maaf jika satu bulan ini aku tak seperti itu. Padahal ada kesempatan untuk bersikap seperti itu. Maafkan aku. Sungguh, cemburu rasanya ketika Abu Bakar radhiyallahu anhu bisa menerapkan rasa sabar itu. Bagaimana Umar radhiyallahu anhu yang sangat tegas akan hal-hal mudarat, tapi begitu lembut ketika mendapat hal-hal kebaikan. Padahal aku juga punya kesempatan selama satu bulan ini. Ada tumbuh cemburu pada Umar radhiyallahu anhu yang mampu bersikap tegas dalam semua kondisi, bahkan terjebit sekalipun.Dan betapa ia menjadi orang yang gampang sekali terharu dan menangis ketika mengetahui bahwa ia berbuat salah. Sungguh, sifat itu, aku juga ingin memilikinnya. Tentang Utsman radhiyallahu anhu yang dermawan, yang berhasaja. Kepada siapapun, sederhana, tapi masya Allah, selalu punya hal-hal yang bisa dibagikan. Padahal aku juga punya kesempatan dalam satu bulan ini. Cemburu itu semakin berbuncah saja. Adalah sosok Ali radhiyallahu anhu yang memiliki kuantitas dan kualitas ilmu pengetahuan. Aku pun seharusnya bisa belajar banyak dalam satu bulan ini, mengumpulkan sebanyak-banyaknya ilmu. Lagi-lagi cemburu itu, terpanah kepada mereka yang selalu bisa membuat kepribadian yang dapat diteladani. Dan. Seperti Rasulullah. Baginda terbesar. Yang keteladan manusia tertuju padanya. Yang mana ia sudah tahu masuk syurga, tapi malah tetap sholat sampai kakinya bengkak. Apakah kita tidak cemburu? Beliau pemimpin terbesar, semua umat. Tapi ibadahnya? Jelaslah cemburu itu membakar dalam hati. Maafkan aku. Maafkan aku. Selama satu bulan ini tak bisa menjali teladan sesungguhnya.

***

            Masih teringat, ketika nama itu disebut di Gedung Kedoteran. Pada hari Ahad, 25 Desember 2016. Aku mencoba menangis. Aku paksa menangis. Ya Allah. Aku takut. Kenapa aku tak bisa menangis ketika menerima jabatan ini? Jauh berbeda ketika diamanahkan menjadi qiyadah di At-Tafakkur. Air mataku tanpa komando langsung tumpah. Aku takut ya Allah. Sekelah para Sahabat Rasulullah begitu berat menerima amanah, jangan tanya tangisnya di malam hari. Aku takut, taka da rasa takut dalam memimpin. Tanggungjawab ini ya Allah. Dunia dan akhirat.
            Malam harinya saya menginap di kost Ketua MPO lama, Mas Daus. Saya mengajak MPO laki-laki untuk menginap juga. Yang hadir hanya Ketua MPO baru, Roni dan Kak Umam. Di sana saya menjabarkan ide besar saya tentang Prima selama 2017. Mulai dari penamaan, yang akan saya buat menurut angkatan, bukan tahun. Biasanya Prima menyebut tahun, tapi mulai sekarang Prima menyebut angka angkatan. Tanpa disengaja, kepemimpinan saya adalah angkatan kedelapan. Prima 8. Angka delapan adalah angka tanpa ujung, terus mengalir tiada henti. Ikhtiar tiada putus, do’a terus-terusan, tawakaltuallallah yang menerus. Malam itu juga saya membuat tagline untuk Prima8. Brighter. Kenapa Brighter? Saya mengambil dari tema Musyum Prima: “Leaders Inovative, Be Brighter Prima”. Tema ini secara nyata mengharapkan seorang pemimpin yang inovatif untuk menggemilangkan Prima. Sungguh sebuah harapan yang besar dan punya konsekuensi panjang. Semua orang memang punya cita-cita besar, tapi tak semua orang berusaha menggapainya. Maka saya ingin menggapai harapan itu.
            Malam itu juga saya susun BPH. Yang pertama kali saya cari adalah sekretaris. Jujur. Saya gak aktif di Prima. Saya kebingungan menentukan BPH. Lalu dari MPO menyarankan Abdul Malik. Tapi Malik juga disarankan jadi Bendahara. Ada quote bagus dari MPO lama, “serapi-rapinya cowok ngatur uang, masih rapi cewek”. Hahaha. Jadilah Malik ditelpon, dan Alhamdulillah ia meniyakan. Tahu gak, saya gak terlalu kenal Malik. Yak arena saya gak aktif di Prima :D tapi pertimbangan utama saya, dia sangat aktif di Prima tahun 2016. Jadi ada penghubung saya dengan angkatan sebelumnya. Lucu saja kalau saya ingin pembentukan Pengurus Inti ini, apalagi sekelas pengurus inti.
Saya terlalu ngotot mau hari itu langsung ada BPH. Biasalah semangat muda :D Saya juga akan membuat Sekretaris II. Baru angkatan 8 ada sekretaris II. Saya punya alasan sendiri. Sekretaris I itulah adalah putra, sekretaris II itu adalah putri. Semoga para pembaca paham. Yah, walaupun ada yang sedikit kurang setuju, tapi saya sudah nyaman dengan cara Keattafakkuran. Tahu siapa yang naik jadi sekretaris II? Dia adalah Alifah Najmiati.  Dan tahu nggak, ini lebih parah. Ternyata dia baru kenal saya saat Musyum kemarin. Sedangkan saya baru kenal dia saat ketemu pas pertama Rapat BPH. Hahaha. Kenapa saya setuju Alifah? Dia sangat aktif tahun kemarin, sama seperti Malik. Dan Sekretaris II ini saya tujukan untuk wakil saya dalam hal-hal internal. Sedangkan Sekretaris I untuk akil saya dalam hal-hal eksternal.
Lalu Bendahara. Munculah nama Omi. Saya kenal Omi saat jadi Panitia Musyum 2015. Cuma kenal saja. Lalu kami sama-sama jarang muncul di Prima. Alasan dia kepilih jadi Bendum karena dia pernah jadi bendara kegiatan, dan pencatatanya lumayan bagus kata MPO. Kalau saya, pertimbangan utama saya, karena dia adalah anak FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis). Jujur, saya suka belajar keuangan, saya terapkan, walau saya nggak ngerti. Saya pun memberikan system keuangan yang saya susun (saya nyusunnya hanya modal buku-buku ekonomi tentang keuangan) saat di At-Tafakkur. Ketika di At-Tafakkur system keuangan yang saya susun, nggak jalan sama sekali. Karena saya juga nggak ngerti apa yang saya susun :D hanya suka saja. Tapi beda dengan anak Ekonomi, dia yang bisa memperbaiki sistem itu. Alhamdulillah pencatatan sekarang berdasarkan keenomian. Jadilah sekarang keuangan Prima disusun seperti pencatatan semestinya :D
Lalu saya nyari KPSDM (Kaderisasi dan Pengenmbangan Sumber Daya Mahasiswa) Saya langsung tertuju ke Yudi. Beliau adalah Ketua FoKEI tahun 2016. Saya juga pernah ketemu saat LMD 2. Alasannya? Pengkaderisasian Prima harus kembali ke ruh sebenarnya. Untuk merubah sistem Prima, maka yang pertama kali kita ubah adalah orang-orangnya. Dan saya pun membutuhkan orang-orang yang paham akan ruh itu. KPSDM adalah tugas berat, sangat berat malah. Di mana-mana KPSDM adalah jantung organisasi, dia yang akan paling capek, dia yang akan paling banyak agenda, dia yang akan bertanggungjawab akan anggotanya. Jika organisasi itu rusak, pasti Kaderisasinya yang tidak kuat.
Ada PSI (Pusat Studi Ilmiah). Saya menghubungkan PSI seperti halnya MAI. Ini seperti inti dari Prima sendiri. Orang-orang ke Prima rata-rata ingin belajar menulis. Di sinilah tempat itu. MPO mengusulkan nama Azizah. Azizah? Saya sama sekali gak kenal Azizah, sama seperti Alifah :D kenalnya saat Musyum saja. Alasannya beliau sepaham dengan ideologi saya, dulu aktif di Argument.Ini juga pertimbangan saya, semoga kelebihan-kelebihan Argument bisa Prima ambil dari Azizah. Karena menurut saya, kelas Argument sudah lumayan bagus dibanding kelas Prima yang jarang aktif dan sedikit orangnya.
Ristek (Riset dan Teknologi). Adalah sebuah Departemen baru. Selama dua tahun gak aktif, saya merasa Prima gak sesuai namanya: Penalaran dan Riset Ilmiah Mahasiswa. Penalaran sudah menampung PSI. Tapi Riset Ilmiah? Saya belum menemukan riset di Prima. Tapi saya menemuran rus riset saat SORL 2015, tapi setelah itu gak ada lagi riset. Saya pernah ngomong ke Kak Muji, Kak sebenarnya saya kecewa sama Prima. Gak sesuai namanya, saya punya sistem untuk memperbaiki Prima (itu saat SG Prima di Gedung FEB), tapi saya bukan pengurus, sehingga pendapat saya kurang besar pengaruhnya. Kata Kak Muji, gak perlu jadi pengurus untuk memperbaiki Prima. Wow. Benar. Ini benar sekali. Gak perlu jadi pengurus, gak perlu jadi presiden, gak perlu jadi gubernur, atau apalah. Kalau niat kita ingin merubah sesuatu, insya Allah, niat itu akan tercapai pada waktunya. Saat itu saya sudah niatkan, tahun depan Departemen Ristek harus ada. Walaupun jujur saya juga gak tahu buat Departemen ini. Modal saya hanya Fakultas saya yang memang bidangnya riset, FMIPA. Nama yang muncu menduduki posisi ini adalah Gaibi. Dia anak FT. Cocoklah dengan hal-hal riset. Memang ada 2 Fakultas yang cocok menduduki posisi ini, kalau bukan FT ya FMIPA. Departemen ini sudah saya jelaskan saat malam hari, sesudah saya kepilih. Tujuan dan ide saya saya terinspirasi dari Kak Muji. Dan ketika Kak Idin ke Prima. Saya semakin percaya, bahwa saya tidak salah membentuk Departemen Ristek. Jadi kisahnya, dulu itu ada dua pendiri utama Prima. Kak Pahmi dan Kak Idin. Kak Pahmi lebih kepada penalaran (menulis gitulah) sedangkan Kak Idin lebih kepada aplikatif . Dua tahun ini saya merasa fokus Prima hanya penalaran, tanpa pernah menyentuh aplikatif. Maka saya semakin teguh, Departemen Ristek harus ada, gak boleh dihilangkan.
Departemen Humed. Tahun kemarin saya di At-Tafakkur. Hampir 90 persen desain di sana adalah karya saya. Saya sangat merasa gagal menjadi Ketum di sana. Harusnya Tim Syiar yang membuat desain, bukan saya. Tapi mungkin karena keegoisan yang ingin semua desain Tafa harus keren, maka saya pun memakan ego itu. Di Prima 8 saya berniat menyerahkan desain-desain ke Humed. Nama yang muncul adalah.. Gradita. Modal utama Gradita disarankan adalah karena beliau aktif sosial media. Dia gak terlalu bisa ngedisain. Tapi hebatnya, dia bisa mengumpulkan orang-orang jago ngedisain dalam satu Departemen. Dan desain-desain Prima 8 sangat jauh meninggalkan desain-desain saya. Terkadang saya pun ingin rasanya mengalahkan desain-desain yang bagus itu :D Tahu gak. Saya juga baru kenal Gradita saat Musyum.
PM (Prima Mandiri). Saya lupa, PM kapan dibentuk. Kalau tidak salah ingat PM juga merupakan Departemen baru sekitar 3 tahun lalu. Saat diawal dibentuk departemen ini gak aktif. Tapi saat Mas Daus yang megang, PM jadi bagus. Setelah Mas Daus PM tidak sebagus PM Mas Daus. Dan tahun ini target saya, penghasil utama Prima 8 adalah PM. Nama yang muncul secara tiba-tiba adalah Zulham. Semoga target itu kecapai.
PDK (Pusat Data dan Kesekretariatan) adalah Nazifa yang diamanahkan. Memilih beliau juga dengan pertimbangan yang sangat lama. Sama halnya seperti saya. Beliau juga gak aktif di Prima tahun sebelumnya. Alasan utama saya, karena saya sedang mengumpulkan orang-orang seidelogi dengan saya.
Satu bulan ini terasa sangat panjang. Bahkan Malik pun bilang, “Kok satu bulan terasa lama sekali ya”. Itu wajar. Dari pembentukan BPH sudah terlalu cepat menurut orang lain. Terlalu cepat. Tapi dalam target saya, 1 Januari saya sudah harus Musyker. Ada memang beberapa Ketua Departemen yang protes, MPO juga ada. Jangan buru-buru, bagusnya pelan tapi pasti. Saya dengan tegas menolak hal itu, waktu saya Cuma satu tahun. Target saya sangat banyak, harusnya kita berpegang prinsip kerja cepat, kerja cerdas, kerja ikhlas. Alhamdulillah, ada juga kok Ketua Departemen yang langsung ngambil ruh semangat saya. Saya satu bulan ini diuntungkan posisi. Jika saya bukan Ketua Prima, pasti ide gila saya ini gak bakal diterima. Saya terlalu ngotot ngejar target. Sesuai kata Kak Muji. Yang dikejar itu target, bukan Proker. Dar target-target yang saya buatpun gila-gila. Tapi ada juga Departemen yang gak bisa ngejar target. Teman-teman bisa lihat peringkat Departemen tiap bulan di Facebook Prima.
Mungkin saya bercerita berurutan dah ya. Saat Musyker ada Proker yang gak disetujui, lumayan banyak. Alasan, terlalu banyak Proker. Hm, memang itu benar, tapi pengalaman adalah guru terbaik. Saya percaya itu. Saya juga bersyukur dan sedih ketika diamanahkan menjadi qiyadah di berbagai tempat. Dari pengalaman-pengalaman itulah saya banyak belajar. Bukan satu dua kali, tapi semenjak SMP, SMA, dan kuliah. Antara sedih dan bersyukur, status qiyadah tak lepas dari pundak ini. Berbagai kebijakan memang saya ambil berdasarkan penglaman-pengalam sebelumnya. Terutama tentang Musyker. Sebelum bahas lebih jauh. Musyker (Musyawarah Kerja) nama sebelumnya adalah Raker (Rapat Kerja). Saya yang mengganti namanya, agar ruh Prima kembali. Ok. Saya lanjut. Musyker, di berbagai organisasi yang saya pimpin, menurut saya itu termasuk penting, tapi tak jarang, Proker yang dipersentasikan akan melesat sampai 50 persen. Yang hadir saat itu memang lebih dari jauh target. Yang disampaikan pun tidak bisa mengena langsung. Karena BPH yang belum terbiasa dengan kerja cepat. Sehingga ada Proker yang kesannya Ketua Departemen tidak mengerti. Karena memang di awal saya hampir sudah menyusun semua Proker Departemen. Walaupun gak kompleks. Musyker saya anggap adalah gagal. Namun kegalalan ini adalah awal dari kesuksesan. Saya lebih suka di awal kita gagal dibanding di akhir kita gagal. Kenapa? Ketika di awal kita gagal, maka kita bisa cepat menevaluasi. Beda ketika di awal sukses terus, tapi diakhir gagal. Musyker Prima 8 hanya menang dalam waktu saja. Persiapan dan lain-lainya kalah telak.
Lalu semuanya sibuk dengan UAS. Habis UAS, ada perayaan MILAD PRIMA KE-7. Kenapa namanya MILAD? Bukan HUT seperti saat dulu? Bisa dibaca alasannya di instagram.com/mujibnsjawahir . HUT ini adalah event kedua Prima 8. Acaranya berjalan dengan seru. Ada Ari yang berproses menjadi seorang Ketua Panitia. Ada Maryam sangat peduli ketika acara tidak bagus. Ada panitia-panitia yang lain yang (walaupun sedikit) saling membantu. Hingga tibalah MILAD itu. Perayaan berjalan dengan sederhana. Ada yang unik. MILAD tahun ini banyak puisinya :D Termasuk saya yang baca puisi. Ini semua karena Maryam yang memasukan nama saya dalam Run Down acara. Padahal sudah saya tolak dengan halus sekali tawaran itu. Akibatnya? Beberapa menanyakan tentang puisi kan ke saya. Kan jadi repot :D Tapi gak apa-apa dah. Mungkin saya bisa bertemu lagi dengan penikmat sastra seperti SMP dan SMA dulu, hampir 2 tahun lebih nih saya gak kumpul-kumpul lagi dengan penikmat sastra. Membicarakan sastra, menciptakan sastra, menikmati sastra. Acara MILAD bisa dikatakan lumayan bagus. Apalagi saat melepas balon satu sama satu. Lucu aja kalau ingatnya. Gak sabar nunggu Humed nerbitkan video itu di You Tube.
Ada rahasia kecil. Sebenarnya saya tidak mau bongkar rahasia ini. Tapi setelah saya berfikir, semooga dengan saya membongkar rahasia ini, ada ketua-ketua organisasi di luar sana bisa menangkap ruh semangat saya dalam memperbaiki organisasi yang dapat kita katakan sakit. Entah mengapa, saya seperti menjadi spesialis dalam memperbaiki sistem :D Saat saya menjadi Sekretaris Himafis, saya membentuk sistem sederhana sekali. Walaupun gak terlalu terasa, tapi sayang sistem itu gak bisa saya wariskan. Karena memang sulit ketika kita punya ide, tapi bukan kita yang ngerjakan. Saat di Tafa saya mulai membuat sistem yang kompleks. Saya tahu, sistem yang saya buat gak cocok buat organisasi fakultas yang kecil. Terlalu kompleks istilahnya. Tapi saya ngotot, banyak yang gak paham dengan apa yang saya buat. Tentang kaderisasi yang cara saya sangat berbeda dari cara pandang kaderisasi sebelumnya. Huft. Ikhtiar itu siapa yang lihat? Hanya Allah yang bisa nentukan. Tugas saya hanya berikhtiar. Tapi alhamdulillah, dengan perdebatan, yang dari awal kepengurusan sampai akhir kepengurusan, Tafa 2016 lumayan banyak menyisakan kader untuk pengurus selanjutnya. Dan sistem yang saya buat pun walaupun gak seratus persen berjalan, insya Allah itu akan mempermudah berjalannya kepengurusan. Sistem itu bisa saja berubah sesuai zaman.
Aduh kok bicara tentang Tafa? Hehe. Itu hanya muqodimah saja tentang rahasia kecil ini. Saya juga punya sistem yang lebih kompleks dibanding sistem di Tafa. Mulai dari renstra 2017. Jadi bulan Januari adalah tahap pembentukan. Februari adalah tahap uji coba. Maret-Juni tahap penstabilan. Juli-Desember adalah tahap pemawarisan. Dan strukter departemen terdiri dari: Ketua Dept, Sekretaris Dept, Bendahara Dept, Kepala Divisi, Wakil Kepala Divisi, Co. Bidang, Staff Ahli Bidang, Ketua Tim, dan PJ. Banyak banget :D karena anggota Prima memang banyak. Maka struktur departemen harus jelas. Mau bongkar rahasia lagi. Target bulan januari adalah: Pembentukan strukrur dept, logo dept, RAB tahunan Dept, RAB Februari, LPJ Februari. Walaupun gak semua Departmen yang bisa mencapai terget itu :) tapi luayanlah dalam tahap pembentukan. Rahasia kecil lagi. Jadi setiap bulan itu Dept buat RAB bulanan, dari bendahara dept ke Bendum. LPJ bulanan dari Ketua Dept ke Ketum. Bagi Dept yang gak buat RAB dan LPJ bulanan, dananya gak bakal keluar dari Pengurus Inti :D Siapa tahu kan sistem ini diikuti oleh organisasi lain. Sebenarnya gak mau bongkar rahasia ini, tapi semoga dengan saya bongkar rahsia ini banyak ketua-ketua organisasi bisa belajar dan jika tertarik, merapkannya di organisasinya.

***

Aku ingin berpesan pada Brighters (sebutan untuk anggota UKM Prima Unram). Kita punya target besar. Target yang sangat banyak. Terlalu banyak malah. Kita keras ngejar target. Tujuan kita target target lagi target. Tahu tidak, semua yang akan kita lakukan bakal sia-sia. Semua target yang akan kita capai gak bakal ada gunannya, kecuali hanya kebanggaan bahwa kita bisa kejar target, nggak lebih. Tapi. Hal itu bisa berubah, semua target itu akan bernilai double bahkan bisa berkali-kali lipat? Caranya? Niatka semua yang kita kerjakan semata karena Allah Subhana wa ta'ala. Tugas kita hanya ikhtiar iktiar dan ikhtiar. Do'a do'a dan lagi do'a.  Yang terakhir adalah tawakaltuallallah.. Kenapa seperti itu? Ketika kita berhasil ngejar target, kita nggak bakal jumawa, kita nggak bakal berbangga diri, tapi kita bisa kejar target, ya karena ada pertolongan Allah di sana. Dan ketika kita gagal dalam mengejar target, berarti itu adalah teguran. Bagaimana ibadahnya? Apa karena kejar target maka ibadahnya terkurang? atau malah bolong-bolong? Bagaimana niatnya? Apa cuma buat ajang bangga-banggaan? Kita ditegur. Bahwa ketika kita gagal nantinya. Langsung perbaiki niat. Ibadahnya diperderas. Minta pertolongan hanya pada Allah. Insya Allah. Niat kita, tujuan kita, tertuju hanya pada satu, Allah subhana watala.

Tidak ada komentar: