HUJAN (Jangan Pergi Lagi)




HUJAN (Jangan Pergi Lagi)
Oleh Mujib NS Jawahir

            Namaku Ratna. Dan aku adalah manusia paling bahagia di dunia. Bagaimana tidak. Aku mempunyai seorang ayah yang rupawan dan dielu-elukan banyak orang. Semoga Ibu gak cemburu ya :D Aku juga mempunyai ibu yang selalu ada untukku. Pernah suatu ketika, ketika aku sedih. Ibu mendekapku. Mengelus rambutku. Lancar sekali air mataku digitukan sama Ibu. Aku seperti menjadi kecil lagi. Kamu yang tidak pernah dielus rambutnya, pasi tidak tahu bagaimana nikmatnya. Jangan cemburu sama aku ya. Aku ini anak baik yang saying sama orang tua. Makanya ayah ibuku sangat saying padaku. Aku juga punya seorang kakak, aduh, baik banget deh. Bayangkan saja. Pernah saat aku kelupaan tas (entah apa yang aku pikirkan saat itu, soalnya aku telah bangun pagi, untuk saja aku sedang halangan, jadi tidak sholat) kakakku yang sudah berangkat kuliah, kembali ke rumah dan mengantarkan task e sekolahku. Ketika sampai di sekolah, aku malah marahin kakakku karena lama bawa. Kakakku malah senyum-seyum aja. Tahu apa yang dia bilang, “Aduh, adekku cantik sekali ya pagi ini. Marahnya aja cantik banget. Apalagi senyumnya. Tuh.. dia senyum. Aduh malu-malu lagi”. Aduh, bagaimana aku tidak senyum kalau digitukan. Yah, akhirnya aku yang minta maaf. Kakakku memang kakak terbaik di dunia. Hidupku ini rasanya hidup paling bahagia.
***
            Semuanya berubah. Hari itu, ketika aku pulang sekolah sambil membawa kertas ulangan yang bernilai sempurna. Seperti biasa. Aku bernyanyi dengan ceria. Melompat-lompat saking bahagianya. Ya, aku pasti akan dikasih hadiah sama ayah ibu. Mereka sudah janji, kalau aku dapat nilai sempurna, bakal dikasih hadiah yang istimewa. Tapi. Saat aku ingin memasuki kamar orang tuaku. Bukan perkataan halus yang kudengar. Yang terdengar hanya benda-benda yang terbanting. Suara kaca yang pecah. Suara ayah yang biasanya sejuk, hari itu seperti bukan seorang ayah yang aku kenal. Iya membentak ibu dengan bahasa kasar. Ibu, yang bahasanya selalu halus dan pelan, hari itu, tidak kalah kasar dari bahasa ayah. Aku bingung. “Ayah.. Ibu… Ratna sudah pulang..”. Aku tidak mau memperdulikan keributan itu. Bukankah keluargaku keluarga yang paling bahagia. Tapi, bukan senyum seperti biasa yang kudapatkan ketika itu. Air mata ibuku sudah penuh membasahi pipinya. Rambut ayahku, yang selalu rapi, kini sudah sangat acak-acakan. Aku yang masuk kamar, dibentak oleh mereka berdua. Tidak, aku tidak percaya aku sedang dibentak. “Ayah.. ayah kok pakaiannya gak rapi. Kata Ayah kan Ratna harus rapi. Ibu kok nangis? Kata ibukan Ratna gak boleh nangis”. Aku masih berdiri menyaksikan mereka bertengkar. Tidak. Aku tidak percaya. Ayah tega menampar wajah ibu. Ibu tersungkur. Tidak. Kenapa ibu tega melempar ayah dengan vas bunga. Kepala ayah jadi berdarah. Tidak.. Aku tidak percaya apa yang kulihat. Aku masih berdiri menyaksikan itu. Aku takut. Aku takut. Air mataku entah mengapa keluar dengan deras. Bukankah keluargaku, keluarga yang paling bahagia? Kenapa hari ini berbeda. Saat itu, aku tak kuat menahan rasa itu. Aku tak sadarkan diri.
***
            Aku perlahan membuka mataku. Wajah kakakku yang terlihat. Jarang sekali aku melihat kakaku menangis. Walau sedang menangis, wajah kakakku tetap cantik. “Kak.. Adek tadi mimpi tapi kayak nyata. Kalau ayah sama ibu bertengkar. Adek takut, Kak. Adek gak mau ayah sama ibu bertengkar”. Kakakku semakin menangis. Ia ingin berbicara, tapi seperti tertahan. “Kak, kok aku kayak di rumah sakit? Siapa yang sakit? Oh iya.. Ayah sama Ibu di mana kak?”. Kakakku dengan perlahan mengusap air matanya. Sudah dari tadi sebenarnya ia usap airmatanya. Tapi selalu keluar saja. Melihat kakakku menangis, aku pun ikut-ikutan menangis. “Kakak.. kok kakak mengais. Adek kan ikut menangis nih.. Aduh, kak.. Jangan nangis dong.. Adek kan ikut sedih..”. “Dek….” Suara kakakku terhenti oleh tangisnya, kembali ia mengusap air matanya. “Dek, Allah sedang menguji keluarga kita. Allah sayang sama keluarga kita, makanya Allah menguji keluarga kita. Supaya kita bisa tegar menghadapi cobaan-cobaan ini.” Suara kakakku yang lembut, kini berubah serak. Lama sekali aku berfikir, apa maksud kakakku. “Dek, ayah sama ibu baik-baik saja kok. Kamu gak perlu kuatir.” “Alhamdulilah.. Jadi ayah sama ibu gak bertengkar kan? Padahal Adek sudah takut sekali tadi.” “Adekku cantik sekali ya. Saat takut aja cantik, apalagi senyum. Kok gak senyum sih..” Kakakku mencoba seperti biasa, tapi bagaimana aku bisa senyum, sedangkan mata kakakku sedang sembab. Sudah lah. Aku ingin istirahat. Semoga besok semua kembali normal.
            Pagi ini aku bangun di kamarku yang biasa. Ada boneka-boneka hadiah kedua orang tuaku. Mereka sangat tahu bahwa aku suka boneka.             Suasana rumah tampak sepi, tidak seperti biasanya. Aku dengan malas-malas menuju ke kamar mandi. Mungkin aku bangun kesiangan lagi. Setelah aku sudah siap dengan pakaian seragamku, aku menuju ruang keluarga. Harusnya meja itu sedang terisi ayah, ibu, dan kakak yang sedang menungguku sarapan. Tapi, kemana semua orang? Apakah aku bangun kepagian? Atau sudah sangat kesiangan? Aku lihat jam masih menunjukkan pukul 6.30 sama seperti biasa kami sarapan. “Ayah.. Ibu… Kakak.. aku lapar nih.. Ayo kita makan..” teriakku, sebenarnya aku tidak lapar, aku hanya kangen sama mereka. Aku kangen dimarahin sama Ibu kalau aku selalu terlambat makan, tapi marahnya membuatku aku semakin lambat makan. Soalnya Ibu kalau marah jadi lucu. Aku juga kangen sama ayah yang selalu membela aku kalau ibu sedang marah lucunya. Ayah pura-pura marahin Ibu, tapi sebenarnya hanya menggoda Ibu. Ibu yang awalnya tampak biasa-biasa saja, kalau sudah digoda ayah, jadi salah tingkah. Romantis sekali. Kakak gak kalah romantis, kakak paling rajin mengambilkan aku makanan, soalnya kalau aku makan, pasti sedikit ngambilnya. Kakak yang selalu menambahkan. Sebenarnya aku suka makan banyak, tapi aku lebih suka melihat kakak yang mengambilkan aku makanan. Kalau kakak ngambil sesuatu itu, rasanya, dia kayak putri. Lembut sekali. Aku suka melihat kakakku yang cantik.
            “Maaf ya, Dek. Ayah sama Ibu buru-buru keluar. Ada pekerjaan yang harus diurus. Ini makanan kesukaan Adek. Nasi goreng panggang. Hehe” Tiba-tiba kakak membuyarkan lamunanku. Kakak hari ini tampak seperti biasa. Senyumnya yang manis, geraknya yang lembut, dan yang paling aku suka, matanya yang teduh. “Tapi kak, Adek gak lapar. Adek pengen ketemu sama ayah ibu. Anterkan Adek ya kak..” “Nanti ya Dek. Adek kan mau sekolah. Kakak juga mau kuliah. Adek harus makan, masak gak malu sama badannya yang kurus gitu.” “Aduh kak, badan Adek ini gemuk, satu mingu lalu badan Adek naik 10 ons. Adek harus sering-sering diet nih.” “Adek-adek. Perempuan itu harus sedikit berisi kulitnya, supaya bisa saling cubit sama suami.. Hehe” “Hu… Kakak suka sekali ya bahas tentang suamni, tentang anak, padahal kakak sendiri belum menikah. Adek aja sama sekali gak pernah kepikiran.” “Dek, harus kita persiapkan sejak dini. Kakak aja baca buku pernikahan semenjak SMA. Takutnya kalau ada yang lamar, kalau kakak belum siap kan repot. Aduh, kok bicarakan tentang nikah ya” Wajah kakak jadi salah tingkah. Ya, kakakku memang punya banyak sekali buku tentang pernikahan. Buku tentang anak-anak. Buku tentang keluarga. Sudah seperti ibu-ibu. Aneh sekali. Padahal kakakku tidak pernah dekat sama lelaki manapun. Mungkin laki-laki gak berani dekatin kakakku yang memakai jilbab yang besar. Berbeda dari aku. Aku tidak suka memakai jilbab. Aku lebih pede kalau mengeraikan rambutku. Aku pernah bertanya sama kakak, kok tidak gerah pakai jilbab besar. Aku aja yang gak pakai jilbab rasanya gerah sekali. Kakakku sambo senyum, adem banget malah pakai jilbab, kapan nih adek pakai jilbab? Kalau sudah ditanya kayak gitu, aku biasanya langsung kabur. Gak mau dengar ceramahnya kakak, hehe.
            “Mau kakak antar ke sekolah?” “Loh, ayah kemana kak?” “Ayah kan ada urusan yang mendesak. Kan kakak sudah kasih tahu tadi. Jangan-jangan adek gak mau ya diantar sama kakak” Wajah kakak jadi lucu kalau sedang manyun, hehe. “Oh iya, adek lupa. Kakak cantik ya kalau lagi manyun, apalagi senyum.. Hehe.. Aduh, kakak jadi senyum-senyum..” ini adalah kata-kata pamungkas kakak kalau nadapin aku kalau lagi marah. Ternyata manjur juga ya, hehe. “Kalau sudah selesai makannya, kita berangkat ya dek. Kakak takut telat ke kampus” Aku hanya mengangguk sambil mengunyah makanan. Ah, ternyata begini rasanya jika tidak ada ayah dan ibu saat makan pagi. Hambar sekali. Aku memang bisa tertawa, tapi tetap saja, ada hal lain yang aku rasa. Aku kangen ayah sama ibu.
            Kakak mengantarkanku sampai gerbang sekolah. Aku memeluknya lama sekali. Ia hanya mengelus-elus kepalaku. “Kak, Ayah bisa jemput adek gak nanti? Adek kangen sama ayah ibu.” Kakak hanya tersenyum. “Kakak berangkat dulu ya dek.. Assalamu’alaikum”. “Wa”alaikumussalam”. Saat kakaku sudah jauh. Aku segera mencari taksi. Dari awal aku memang tidak berniat ke sekolah. Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi di rumahku. Ketika sudah sampai rumah, aku mengendap-endap menuju tembok rumah. Seperti dugaanku. Ternyata ada Ibu di rumah. Yang membuat aku aneh, kok mobil kakak ke rumah. Bukankah kakak bilang tadi mau ke kampus? Tidak mungkin kakak bohong. Ah, mungkin saja kakak kelupaan barangnya.
            “Assalamu’alaikum..” Suara khas lembut kakakku. “Wa;alaikumussalam”. Suara ibu sedikit berubah, tidak selembut biasanya. Ia membalas salam dengan cepat. Terdengar suara kaki kakak mendekati Ibu. “Ayah ke mana Ibu? Tadi Adek nanya tentang Ayah aja. Kakak jadi merasa bersalah terus bohong sama Adek.” Apa? Jadi kakakng berbohong? “Kakak.. Jangan bikin kepala Ibu tambah pusing.. Bisa tidak kakak diam sebentar saja..” Suara Ibu meninggi, tidak pernah aku mendengar suara Ibu seperti itu. Aku jadi ketakutan. Setelah beberapa saat, kakak kembali bertanya. “Ibu, sebanarnya apa yang sedang terjadi sama Ayah dan Ibu? Kasihan Adek, Bu.. Kakak tidak bisa terus-terusan membohongi Adek.” “KAKAK.. BISA DIAM TIDAK? IBU SEDANG CAPEK!!!!” Ibu berteriak. Air mataku keluar dengan sendirinya. “Tapi kasihan adek, Bu...” Entah mengapa, pipi lembut kakak ditampar Ibu. Aku mendengar isakan kakak. Sakit sekali rasanya mendengarnya. Dan entah mengapa, aku menjadi benci sama Ibu. Sangat benci sama Ibu. Kenapa dia tega menampar pipi lembut kakak. Kakak salah apa? Kenapa Ibu marahin kakak, kakak salah apa? Tidak. Ayah di mana sekarang? Dalam situasi seperti ini, kenapa dia menghilang. Jangan yang terjadi kemarin bukan mimpi. Tidak mungkin. Aku jadi benci Ayah. Sangat membinya. Tega sekali dia menyakiti Ibu. Tega sekali dia membuat Ibu jadi marah. Tidak. Tidak. Kenapa aku sangat membenci Ayah sama Ibu. Ayah sama Ibu sudah tidak sayang lagi sama aku. Aku benci mereka. Aku tidak mau bertemu mereka lagi. Aku benci ayah ibu.
***
            Keputusanku untuk keluar rumah memang kuambil saat emosiku sedang tidak stabil. Ah, bukankah emosiku tidak pernah stabil. Aku yang selalu manja sama orang tua dan kakak. Kini harus berjalan sendirian. Aku bingung mau ke mana. Yang aku pikirkan hanya keluar dari rumah besar itu. Aku benci. Lalu aku teringat, ada rumah mbah yang pernah kami kunjungi saat lebaran tahun kemarin. Aku pun berjalan ke rumah mbah, membutuhkan 5 jam perjalanan. Perutku sudah sakit menahan lapar. Tubuhku sudah lelah, aku yang tak biasa berolahraga, kini harus aku paksakan bisa terus berjalan. Selama aku berjalan, air mataku tidak berhenti untuk keluar. Dan puncaknya. Tiba-tiba langit berubah mendung. Ah, biarkan saja. Toh hidupku sudah tidak punya arti lagi. Guntur pun meledak dengan keras. Aku sangat kaget. Sesaat kemudian, tanpa ada rintik-rintik, hujan deras langsung membasahiku. Tanpa ada aba-aba, aku sempurna basah kuyup. Aku tidak berniat untuk berteduh, aku terus berjalan dengan badan yang menggigil. Gigi yang gemertak. Aku harus kuat. Badanku memang lemah. Aku tidak kuat lagi manahan pusing. Mataku perlahan menutup. Dan tubuhku pun terjatuh. Aku benar-benar tak ingat apa yang terjadi.
            “Alhamdulillah... Aduh Ndok, mbahmu sudah takut sekali. Onok opo to Ndok?” Mbahku yang wajahnya sudah senja ini, tampak sangat cemas melihatku. “Adek mau tinggal di sini, Mbah.. Boleh ya Mbah.. Adek gak mau pulang” Mbahku hanya tampak bingung, dengan perlahan ia menganggukan kepalanya. “Ndok.. Ndok.. Yang sehat ya Ndok..” “Nggeh, Mbak.. Matur nuwun”. Kini aku hidup di rumah Mbah. Hidupku yang biasa penuh dengan kemnajaan, di sini aku menjadi perempuan yang mandiri. Mbah tidak segan-segan memarahi aku kalau tidak becus bekerja. Tapi aku tidak menangis ketika dimarah, karena aku tahu, Mbah memarahiku karena ingin yang terbaik untuk cucunya. Aku dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan. Mungkin karena mulutku yang memang cerewet, sehingga sangat mudah akrab dengan siapa saja. Rumah Mbahku sangatlah sederhana. Ia hidup sendiri setelah suaminya meninggal. Ia tidak mau ikut dengan anak-anaknya, ia tidak mau merepotkan siapa-siapa. Aku sampai menangis mendengar perjuangannya membesarkan anak-anakanya, sehingga kini semua anak-ananknya menjadi orang sukses dan terpandang, termasuk ayahku. “Mbah gak kangen ya sama ana-anak Mbah?” “Kangen ya kangen Ndok.. Tapi iki jalan mbah.. Sampean harus jadi orang hebat ya Ndok.. Banggakan kedua orang tua..” Entah mengapa, aku tidak suka kata orang tua aku dengar, tapi dalam hatiku, aku sebenarnya rindu akan mereka, mereka sekarang sedang apa ya.
***
            Hari-hariku dirumah Mbah banyak kulewati dengan menulis. Aku tidak sekolah. Semua berkas-berkasku ada di rumah besar itu. Mbahku pun tidak memaksaku untuk sekolah. Walau sering menganjurkan aku untuk tetap sekolah. Tapi ada satu hal yang aku temukan di tempat sepi seperti rumah Mbah. Banyak imajinasi yang aku dapatkan. Aku yang dulu tidak suka membaca, entah mengapa, sekarang sangat suka ke perpustakaan kampung. Aku menulis banyak sekali cerita-cerita fiksi. Puisi-puisi sedih. Bahkan menulis novel-novel romantis. Mbahku melihat aku yang suka nulis, menyuruh aku mengirimkan tulisanku ke penerbit-peberbit mayor. Tapi tak ada satupun yang diterima. Bahkan ketika aku kirimkan ke penerbit minor pun sama. Aku sudah tanggung, sangat ingin menerbitkan buku. Ternyata ada jalan lain, ada selfpublising, yang menerbitkan buku sendiri. Tapi aku tidak punya uang. Mbahku tahu akan hal itu. Mbah tidak langsung memberiku uang. Namun memintaku untuk membantunya jualan di pasar. Satu bulan lamanya. Setelah satu bulan, aku punya dagangan sendiri, rupanya aku sudah dipercaya Mbah. Aku pun menerbitkan sendiri tulisan-tulisanku. Buku-bukunya aku bagikan gratis ke siapa saja. Terutama orang-orang di pasar. Satu tahun lamanya aku sudah berjualan di pasar. Dan selama itu, sudah 20 puluh buku yang aku terbitkan sendiri. Aku sudah sangat puas akan hal itu. Aku memang hanya hobi menulis, tidak lebih dari itu.
            Hal yang tak diduga-duga itu ternyata muncul. Aku ditelpon salah satu penerbit mayor. Seperti mimpi. Ya seperti mimpi. Saat itu aku masih jualan. Saat tahu salah satu bukuku mau diterbitkan, aku segera meloncat dan berlari menuju rumah Mbah.. Jualanku tak lagi kupedulikan. “Mbah... Mbah..... Bukuku Mbah.... Mbah..” Aku berteriak-teriak di tengah pasar sambil berlari. Padahl rumah Mbak masih satu kilo lagi. Dengan terengah-engah, akhirnya aku sampai di rumah Mbah. Seperti biasa, rumah Mbah tampak sepi. Damai sekali rasanya. “Mbah.. Mbah.. Buku adek mau diterbitkan” Aku dengan semangat membukan pintu rumah. Tak ada respon sama sekali dari Mbah. Mungkin Mbah sedang istirahat. Aku perlahan mendekati Mbah. Ia sedang tidur terlentang. Wajahnya tersenyum. Tapi... Tidak.. Tidak... Mbah... Mbah... Jangan tinggalkan Adek Mbah.. Mbah.... Aku segera mendekap tubuh Mbah.. Aku hanya terisak. Sulit sekali menerima ini. Kau tidak akan tahu betapa dukanya ketika kamu ditinggalkan orang yang kamu cintai. Dengan bibir yang bergetar, dengan jantung yang berdetak cepat, dengan tubuh yang menggigil, kuucapkan, “Innalillahi wainnalillahi roji’un.”.
***
            Hidup ini cepat sekali berubah. Aku kini memiliki rumah sendiri. Berkat buku-buku yang selalu best seller. Ketika dulu aku yang mengirimkan buku ke penerbit, dan selalu ditolak. Kini aku selalu menolak ketika ada penerbit yang meminta karyaku. Aku punya penerbit sendiri. Hidupku pun sudah sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Aku bukan sekedar penulis. Aku juga terkenal bagai artis. Banyak PH yang memintaku jadi artis. Aku pun seorang penyanyi. Tak ada hari tanpa pekerjaan. Hidupku benar-benar berubah. Aku bukan lagi anak yang manja. Aku sudah benar-benar sangat mandiri.    Banyak sekali orang yang iri pada kesuksesanku. Bahkan mengira aku adalah manusia yang paling bahagia. Tapi hanya akulah yang tahu aku. Aku memang tersenyum, tampak bahagia di mana-mana. Tapi mereka tidak tahu. Setiap malam, aku tersiksa akan rasa rindu dan rasa benciku. Kau mungkin tidak tahu, bagaimana rasanya membenci orang yang sangat kamu cintai. Sulit sekali.
            Sebenarnya kedua orang tuaku sangat sering menelpon manajerku. Mengajak aku bertemu. Aku sama sekali tidak menghiraukan telpon itu. Sebanrnya dalam hatiku, aku sangat rindu akan pelukan mereka. Namun hari itu, tepat ketika aku akan menghadiri salah satu penhargaan sastra paling bergengi di dunia. Aku ditelpon ayah dan ibu. Tidak seperti biasa. Mereka biasanya akan menyerah pada telponan ke sepuluh, yang paling banyak sampai 50 kali. Tapi hari ini, sangat berbeda. Dari tengah malam sampai siang, mereka tetap menelponku. Karena merasa ada sesuatu yang aneh, aku meminta manajerku yang mengangkatnya. Aku harus sudah check-in untuk naik pesawat. Dan. “Mbak Ratna, kakak Mbak Ratna sekarang di rumah sakit, sedang operasi. Tumor”. Apa? Kakak? Tidak.. Jangan lagi. Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang aku sayang. Dengan cepat aku keluar dari bandara, segera ke rumah sakit. Selama perjalanan, air mataku terus saja menetes. Tidak.. Aku mohon... Pertemukan aku dengan kakakku.
            Sesampai di sana aku segera memasuki ruangan kakak. Ia tampak cantik dengan jilbabnya. Aku memegang tangannya yang kini tidak selembut dulu. Wajahnya pun tampak lelah. Matanya, aku rindu mata teduhnya. Tangan kakak perlahan bergerak, matanya pun perlahan terbuka. Ia menoleh padaku. Senyumnya langsung mengembang. Aku tidak tahan. Aku langsung memeluk kakakku sambil terisak, “Maaf Adek, Kak.. Adek tidak penah menemui kakak. Adek yang salah, ini semua gara-gara Adek. Maafkan Adek kak..” Kakak hanya tersenyum melihatku menangis. Sambil tangannya yang lemah, mengusap air mataku. “Adek kalau lagi nagis cantik ya.. Apalagi kalau tersenyum.. Aduh, kok gak senyum sih..” Kakakku masih saja sempat mengodaku. Aku semakin terisak dibuatnya. “Kakak baik-baik saja kok Dek, kakak malah mengkuatirkan Adek. Kakak takut, kalau Adek jauh dari kakak. Kakak takut Adek kenapa-napa” Wajah kakakku tampak sangat cemas, ada banyak kata yang ingin kakak keluarkan, tapi selalu ia tahan. “Dek, kakak tidak mau kehilangan kesempatan ini. Kakak harus menanyakan ke Adek. Adek harus menurut sama kakak” Aku hanya diam, pasti ini menyangkut ayah sama ibu. “Adek masih sayang sama ayah dan ibu kan?” Aku diam. “Dek kenapa Adek sangat benci Ayah sama Ibu? Bukankah mereka sudah meinta maaf berulangkali?” Nada kakak sekarang sedikit meninggi, namun tetap lembut. Aku hanya diam. Entah, apa yang harus kujawab. “Dek, kakak lelah Dek. Kakak lelah terus menahan rasa sakit ini. Tubuh kakak bukan pertama kali ini dirobek. Tubuh kakak sudah berulang kali dirobek. Dan sakit rasanya. Ditambah lagi robekan hati yang Adek buat. Jangan menambah rasa sakit Kakak ya Dek”. “Kakak sebenarnya tidak mau membebani Adek akan hal ini. Tapi kakak tidak kuat Dek, kakak membutuhkan kamu untuk menguatkan Kakak. Kakak sangat sayang sama Adek. Jangan-jangan Adek gak sayang ya sama kakak?” Air mata kakak pun menetes. Aku yang masih terisak, dengan susah payah menjawabnya, “Adek sangat sayang sama kakak.. Sayang sekali.. Kok kakak ngomong begitu.. Adek sayang sama kakak.. Sayang sekali...” “Kalau begitu, Adek janji ya. Akur sama Ayah dan Ibu. Bantu kakak ya Dek” Ucapnya sambil mengusap air mataku. Sedangkan air matanya sendiri masih mengalir. Aku pun mengusap air matanya. Aku tidak kuat dalam kesedihan ini. Aku ingin keluar kamar sebentar. Aku ingin menenangkan diri.
            Saat aku ingin masuk ke kamar, aku mendengar suara Ibu. Aku berhenti di dekat pintu. Mendengar percakapan Ibu. “Maafkan Ibu ya Kakak.. Ibu minta maaf. Ibu tidak tahu bagaimana jadinya kalau anak-anak Ibu tidak lagi cinta sama Ibu. Ibu kangen sama anak-anak Ibu.” Suara ibu terisak. Kenapa hari ini semua cerita penuh dengan isakan? Tapi aku bahagia mendengar suara Ibu, sebenarnya aku sangat merindukan Ibu. “Aduh Ibu.. Ibu berapa kali minta maaf. Kakak jadi gak bisa hitung deh.. Kan Kakak sudah bilang, Kakak sudah memaafkan Ibu sebelum Ibu minta maaf. Malah kakak yang banyak salah. Waktu kecil mungkin kakak sangat nakal, baut mamak jadi marah. Kalau sekarang kan, tugasnya kakak untuk menjaga Ibu. Waktu kakak kecil pasti Ibu sangat sayang sama Kakak. Sekarang tugas Kakak untuk sangat sayang sama Ibu. Terima kasih ya Bu.. Maaf selama ini kakak sering mengecewakan Ibu”. Ibu hanya terisak mendengar jawaban kakak. Aku sendiri menahan isakan agar tidak terdengar. Sedangkan air mataku tak bisa terbendung. Lekas aku mengusapnya. Tapi lagi-lagi ia keluar. “Eh, tahu gak Bu.. Tadi adek datang ke sini lo.. Dia sebenarnya sayang sama Ibu. Cuma Adek malu. Hihi..” Ibu hanya diam. Aku pun hanya diam. Ya, aku sebenarnya memang sayang sama Ibu. “Hm.. sama satu lagi. Ibu makin cantik kalau pakai jilbab itu. Kakak senang lihat ibu sekarang berhijab.. Ternyata do’a kakak didengar sama Allah. Alahmdulillah... Kakak bahagia sekali” ‘Ini semua karena Kakak.. Ibu sangat menyesal baru berhijab sekarang. Ternyata lebih nyaman berhijab. Ibu merasa lebih adem. Terima kasih ya kakak... Ibu sangat bangga punya anak seperti kakak.. Yang selalu menguatkan Ibu saat sedang sitimpa masalah. Ibu juga bersyukur, diberi cobaan oleh Allah. Karena cobaan itu, Ibu jadi berhijab dan lebih mendalami agama Islam. Makasih ya kakak..” Suara Ibu sangat sejuk. Lebih sejuk dari suara ibu yang biasanya. Aku jadi penasaran, seperti apa cantiknya Ibu memakai jilbab. “Ibu.. Hidayah itu datangnya dari Allah. Kakak Cuma sebagai perantara. Dan memang, rencana Allah itu tidak pernah didga-duga. Selalu ada hikmah dibaliknya. Alhamdulillah.. Jika kita berhasil meraih hidayahnya itu. Insya Allah, kita berkumpul lagi ya di syurga Allah..” “Aamiin” Ibu mengaminkan. Aku pun mengaminkan. Ya, aku sangat ingin berkumpul dengan keluargaku di syurga kelak. Tapi apakah aku akan bisa berkumpul dengan mereka? Sedangkan aku sendiri belum berhijab?
            Setelah Ibu keluar. Beberapa saat kemudia Ayah masuk ke kamar kakak. Aku sangat susah payah bersembunyi agar tidak diketahui keduanya. Setelah Ayah masuk, aku kembali ke dekat pintu, penasaran apa yang dibicarakan Ayah sama kakak. “Kakak bagaimana kabarnya? Kakak agak kurusan ya sekarang. Katanya jadi perempuan itu harus berisi, agar bisa saling cubitan sama suami. Hehe..” “Ayah ini bisa-bisa aja..” suara kakak tampak bahagia. Suara ayah kini lebih berwibawa dari sebelumnya. Aku jadi sangat penasaran. “Kakak, Ayah mau nanya. Kakak sudah ada calon ya? Kok dari SMA sudah mempersiapkan menikah.. Jangan-jangan kakak sudah siap menikah semenjak SMA ya..” Kakak hanya mengangguk sambil malu-malu. “Aduh.. Kok Ayah gak pernah dikasih tahu. Ayah jadi penasaran. Siapa sih laki-laki yang bisa merebut hati anak ayah yang satu ini” “Mm.. Kakak belum tahu Ayah. Tapi kalau ada laki-laki yang sholeh, yang berani melamar kakak, insya Allah jika Allah berkehendak, dialah yang sudah merebut hati kakak. Hehe..” Kakak menjawab dengan malu-malu. Aku di luar senyum-senyum sendiri. Iya ya, siapa ya laki-laki yang berhasil merebut hati kakakku yang sholehah ini. Pasti dia laki-laki yang sangat beruntung. “Yah, kakak penasaran. Kok Ayah sekarang pakai jenggot? Kan dulu jenggot ayah selalu dicukur kalau sudah tumbuh setengah senti.. hehe..” “Iya.. Ini berkat kakak yang tidak pernah lelah menasehi Ayah. Ayah sangat bersyukur sekali punya anak seperti kakak. Ayah juga bersyukur, diberi cobaan oleh Allah. Karena cobaan itu, Ayah jadi lebih dekat dengan Allah. Sekarang hidup Ayah sudah menjadi lebih baik. Lebih tenang rasanya.” “Ayah, hidayah itu milik Allah. Kakak hanya sebagai perantara. Dan memang benar, Allah selalu punya cara untuk hamban-Nya yang Ia cintai. Kakak sangat bahagia sekali, ternyata do’a kakak selama ini di dengar sama Allah.. Semoga keluarga kita dikumpulkan lagi di syurga ya Yah..” “Aamiin” Ayah mengaminkan. Aku pun dengan ragu mengaminkan. Bagaimana tidak ragu. Ayah dan ibu sudah berubah menjadi lebih baik. Sedangkan aku sendiri. Berhijab saja aku belum bisa.
            Aku segera bersembunyi ketika Ayah ingin keluar. Setelah merasa sedikit lama, aku pun memasuki kamar kakak. Aku hanya diam memandang kakak. Kakak hanya senyum-senyum memandangku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tiba-tiba dari belakangku ada yang memeluk. Tangan ini sangat aku kenal. Ini tangan Ibu. Kepalaku dielus dengan lembut, aku kenal dengan tangan ini. Ini tangan Ayahku. Aku hanya diam. Tidak tahu berbuat apa. Ibu terus mendekapku. Erat sekali. Seperti tidak mau kehilangan aku lagi. Air mataku tak terasa perlahan menetes. Kakakku sudah dari tadi menangis haru. Kebahagiaan ini. Rasanya. Indah sekali. Aku sangat merindukan dekapan ini. Aku sangat merindukan elusan ini. Kami pun tanpa berkata-kata, saling memeluk satau sama lain. Isakan tangis terus terdengar di telingaku. Bukan lagi isakan yang menyakitkan. Bukan lagi isakan yang meneyedikhkan. Isakan ini, sunguh, sangat-sangat membahagiakan. Tiba-tiba aku seperti sudah melupakan semua kepebencian pada Ayah dan Ibu, aku seperti adek kecil yang baru menemukan kembali keluarganya yang hilang. Benar-benar hari yang membahagiakan. Tapi aku sangat penasaran, kok Ayah Ibu bisa tahu aku ada di sini. Rupannya kakakku tahu maksud raut wajah bingungku. “Dek, sebenarnya Ayah sama Ibu tahu Adek sembunyi di dekat pohon. Sama baju Adek kelihatan di pinggir pintu. Tadi kita ngomongnya bisa-bisik supaya Adek gak dengar, hehe...” Aku jadi malu. Aku lihat wajah Ayah dan Ibu, memancarkan wajah kebahgiaan. Aku seperti mendapat keluarga baru, yang jauh lebih indah dari keluarga sebelumnya. Terima kasih ya Allah..
***
            Hari ini. Aku sangat bahagia. Bagaimana tidak, ternyata ada lelaki sholeh yang berani melamar kakakku. Saat aku bilang sama kakakku, “Beruntung sekali ya laki-laki itu dakapt kakak.” Tapi apa jawab kakaku, “Sebenarnya kakak yang beruntung, sekarang perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Kakak sangat beruntung sekali. Alhamdulillah, diberikan jodoh seorang laki-laki yang insya Allah sholeh..” Kakakku menjawab dengan wajah memerah. Cantik sekali kalau kakaku sedang merona. Hari ini pula, jadi sejarah hijrahku. Ternyata benar kata kakak, memakai hijab itu membuat aku merasa lebih nyaman. Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Betapa menyesalnya aku baru mengenakan hijab sekarang. Aku pun kini menjadi seprang penulis novel islami. Aku mengganti nama penaku. Dengan nama kakakku, Aisyah Wuandari.
            Keluargaku menjadi keluarga yang lebih bahagia. Kami masih tetap diberikan cobaan. Tapi kami menyikapinya dengan cara-cara Islam. Islam memang agama yang sempurna. Saat dulu Ayah mencintai Ibu, hanya karena ia mencintai Ibu. Begitu juga Ibu. Namun kini Ayah mencintai Ibu karena Allah, maka rasa cinta itu tumbuh berkali-kali lipat. Begitu juga Ibu. Jangan tanya kakak.. Cintanya pada suamninya itu karena Allah, bahkan ketika sebeum menikah, ia sudah menulis di buku hariannya, aku mencintaimu karena Allah, wahai kau calon imamku. Dan akupun kini, mencintai ayah, ibu, dan kakak. Karena Allah. Karena ketika kita mencintai seseorang karena Allah, maka Allah akan memberikan cinta yang berkali linat indahnya. Dan sepertinya aku juga harus menulis seperti kakak, “Aku Mencintaimu Karena Allah, Wahai Kau Calon Suamiku”. Dan mungkin belum waktunya jodoh datang, bukan lelaki sholeh yang datang, tapi penerbit yang berbondong menawarkan tulisan itu diterbitkan. Baiklah. Aku serahkan segala hidupku kepada Allah. Tugasku hanya beriktiar dan berdo’a. Aku percaya. Allah punya jalan yang tak pernah disangka-sangka. Rencana yang terbaik, yang tak pernah dipikirkan oleh siapapun. Insya Allah. Kita menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan bisa isiqomah di jalan-Nya. Aamiin.
 

Tidak ada komentar: