Bagaimanakah Sikap Kita Kepada Pemimpin? (Pertanyaan yang Jarang Dipertanyakan)



Mungkin harus di awal kayaknya saya tulis refrensi tulisan ini: alhujjah volume 49 Thn ke-13. Biar gak ngerasa sombong (akunya), dan yang membaca gak ngerasa kalau tulisan ini untuk mendukukng diri sendiri. Jangan membaca karena penulisnya, tapi karena manfaatnya.  
        
Kalau kita nanya, gimana sih sikap kita sama qiyadah? Maka yang harus kita baca adalah Al-Qur’an dan hadits, bukan Google atau buku sekuler lainnya (buku yang lebih mementingkan logika). Dalam Al-Qur’an dan hadits sudah jelas bagaimana seharusnya mereka menyikapi seorang pemimpin. Bahkan ada kewajiban bagi yang dipimpin. Nah lo, kayaknya kita selalu meminta hak kita, terus menerus menyuruh pemimpin melaksanakan kewajibannya (bersikap adil, dll). Malah kita lupa dengan kewajiban kita. Adapun beberapa kewajiban itu yang terkadang kita sepelekan (atau malah tidak mau dilaksanakan):
1.      Menaati pemimpin kecuali dalam maksiat kepada Allah
Wih, ini nih yang paling sering. Ada banyak pemimpin yang dizholimi, terus disalahkan. Kasih kebijakan ini, dicerca habis-habisan. Membuat keputusan itu, dikritik sampai gak berkutik. Bahkan dalam berbuat kebaikan pun, masih dibilang yang tidak-tidak. Masya Allah. Hm, kecil saja contohnya. Ketua organisasi kita dah kita lihat. Pernah gak kita dengan ikhlas mengerjakan apa yang diperintahkan (ingat, diperintahkan)? Kayaknya jarang deh, bahkan gak pernah. Malah kita banyak alasan malah :D

Padahal Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah kalian” (Q.S. An-Nisa’: 59)

Hm, ditambah lagi dengan sebuah hadits. Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Siapa yang taat padaku, dia telah taat kepada Allah, dan siapa yang menyelisihiku, dia telah menyelisihi Allah. Dan siapa yang taat kepada pemerintah, dia telah taat kepadaku, dan siapa yang menyelisihi pemerintah dia telah menyelisihiku” (H.R. Muslim)

Nah nah nah. Menohok sekali memang. Intinya, kalau kita menyelisihi pemimpin kita, maka kita menyelsisihi Allah. Betapa beratnya. Tapi apa yang terjadi pada diri kita, bahkan untuk diminta tolong satu saja, kita malah mengatakan “SAYA GAK SUKA DIPERINTAH!”. Wih wih, serem amat. Padahal sudah jelas bahwa kita harus taat kepada pemerintah. Gimana sih? :D

Dan ingat lagi, kita harus taat dalam hal kebaikan saja ya. Sesaui sabda Rasulullah:
“Sesungguhnya ketaatan itu hanya pada hal yang baik” (H.R. Bukhari)


2.      Menasehati Pemimpin Kalau Pemimpin Jauh dari Ridho Allah

Tahu gak, pemimpin itu juga manusia. Jadi wajar jika mereka banyak berbuat kesalahan. Apakah solusinya dengan mencaci maki, mengata-ngatakan, dan apa lagi ya yang sering kita lakukan? Oh iya, membencinya, atau mungkin ada rasa tidak suka dengan dia. Masya Allah. Beristigfarlah. Kalau tahu pemimpin kita di luar jalur, maka tugas kita itu menasehatinya. Sesuai sabda Rasulullah:
“Sesungguhnya Allah meridhoi tiga hal yang kalian lakukan, salah satunya adalah senantiasa menasehati siapapun yang Allah berikan kekuasaan atas urusan kalian (termasuk pemerintah)” (H.R. Ahmad).

Namun kita salah kaprah dalam menasehati. Terkadang kita menasehati mereka saat sedang rapat, atau sedang syuro’ atau mungkin saat sedang kumpul dengan yang lain. Tahu gak itu, menasehati orang lain dalam ramai itu hanya akan mempermalukan orang yang kita nasehati. Maka betapa indahnya Islam mengatur hal nasehat-menasehati. Sebagaimana sabda Rasulullah:
“Siapa yang ingin menasehati pemerintah, hendaknya ia jangan menampakkannya terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia memegang tangannya dan berdua dengannya, apabila nasehatnya diterima maka itulah yang diinginkan, dan jika tidak, dia telah melakukan kewajibannya” (H.R. Ahmad)

3.      Mendo’akan Kebaikan kepada Pemimpin
Iya, ini penting banget. Kekuatan do’a itu luar biasa sekali. Maka jangan pernah mendo’akan pemimpin dalam hal keburukan. Itu akan menyebabkan pemerintahan atau organisasi yang ia pimpin pun sama seperti yang kita do’akan. Maka dari itu, teruslah mendo’akannya dalam kebaikan.

Bahkan ketika Fudhail ibn ‘Iyadh waktu ditanya kenapa lebih memilih mendoakan pemerintah ketika ada satu do'a yang terkabul, beliau menjawab:
“Jika aku memperuntukkannya untuk diriku, yang akan mendapatkan manfaatnya hanya diriku. Dan jika aku memperuntukkannya untuk pemerintah, mereka akan baik, dan dengan baiknya mereka rakyat dan negeri akan ikut baik. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk mendo’akan kebaikan untuk pemerintah, dan tidak diperintahkan mendo’akan keburukan untuk mereka meskipun mereka berbuat zalim, karena kezaliman dan kejahatan mereka hanya mereka yang akan merasakan balasannya, sedangkan kebaikan mereka untuk mereka dan kaum muslimin” (Syarhu al-Sunnah li al-Barbahary).

4.      Bersabar atas Keburukan yang Mereka Lakukan

Ah……… ini dia. Terkadang kita langsung membangkang kalau pemimpin kita berbuat zalim. Pengen keluar dari barisan. Mengungkit semua aib pemimpin. Wih wih. Kejam amat. Padahal dalam sebuah hadits bahwa Salamah ibn Yazid al-Ju’fiy bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, apabila datang kepada kami para pemimpin yang hanya meminta hak mereka dan tidak memberikan kami hak kami, apa yang engkau perintahkan? Kemudian Rasulullah berpaling, ia bertanya lagi untuk kedua kalinya atau ketiga kalianya Rasulullah berpaling lagi, lalu al-Ats’ats ibn Qays menariknya dan Rasulullah bersabda:
“Dengarlah dan taati mereka, karena mereka wajib melakukan kewajiban mereka, dan kalian wajib melakukan kewajiban kalian” (H.R. Muslim).

Jelas.. sangat jelas. Bahkan sama orang yang seperti itupun kita harus tetap mendengarkan dan mentaati (dalam hal kebaikan). Hm, apa yang kita perbuat sehari-hari. Tiada hari tanpa tidak memperdulikan pemimpin. Bahkan membantahnya, menolaknya.

Padahal walaupun pemimpin itu tidak memberikan hak kita, kita tetap diperintahkan untuk menaatinya.

Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku sikap egoism (mementingkan diri sendiri) dan perkara-perkara lain yang kalian ingkari”
mereka berkata: Apa yang engkau perintahkan wahai Rasulullah?
Beliau bersabda:
“Tunaikan hak mereka dan mintalah apa yang menjadi hak kalian kepada Allah” (H.R. Bukhari).

Bayangkan, betapa dahsyatnya perintah untuk mentaati pemimpin. Kenapa kita meminta hak kepada Allah? Karena memang hanya Allah-lah yang mampu membantu hidup kita.


***

Kita mengakhiri tulisan ini dengan sama-sama beristigfar. Semoga segala perintah Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa kita dirikan. Termasuk dalam hal mentaati pemimpin. Apalagi pemimpin itu orang baik-baik.

Mm, kecil saja kita praktekan. Coba praktekkan di organisasi masing-masing, insya Allah organisasi kita akan cepat berkembang dan besar, insya Allah.

Tidak ada komentar: