Diajak, Tidak Diajak, dan Mengajak

Oleh Mujib NS Jawahir



Mungkin ada seseorang teman kita, ketika diajak sesuatu, pasti ada saja alasannya. Ketika ia tidak diajak, dia ingin diajak. Dan ketika dia mengajak, tidak sabaran. Dan tanpa kita sadari, kitalah yang memiliki ciri-ciri tersebut.

Ketika kita hitung, ada berapa orang yang mengajak kita, maka akan banyak catatan yang mengejutkan. Contoh kecil, dalam satu hari ada lima orang yang mengajak jalan-jalan, ada tiga orang mengajak belajar, dan ada satu orang yang mangajak mengaji. Nah, coba lihat catatan kita, yang mana sering kita ambil ajakannya? Ah, tentu saja jalan-jalan. Ada banyak alasan kenapa ajakan ini sangat sulit ditolak. Salah satunya adalah, "Saya capek, butuh refreshing." Memang tidak salah memilih ajakan ini, sangat tidak salah. Namun alangkah baiknya jika refreshing itu kita ubah dengan refreshing yang lain, seperti refreshing hati. Ya, ikut pengajian. Dan coba bandingkan hasilnya, ketika keluar dari pengajian dan selesesai jalan-jalan. Sejukan yang mana?

Ada juga sifat aneh kita yang lain. Ketika ada teman yang mengajak kebaikan kepada orang lain (bukan kepada kita), kita seolah merasa tidak dihiraukan. Kita seolah ingin diajak juga. Dan tanpa kita sadari, ada sebuah pertanyaan yang menyelip di antara perasaan itu, "Mengapa kita tidak diajak olehny?" Ada jawaban yang simple untuk menjawab pertanyaan ini, "karena sangat kecil kemungkinan kita melaksanakan ajakannya." Maka dia tidak mau repot-repot membuang tenanga mengajak kita. Cobalah untuk lebih mendekatkan diri kepada orang-orang yang sering melakukan hal-hal baik. Ketika kamu melakukan hal yang salah, ia pasti akan menegurmu dengan lembut. Dan ketika kamu tetap melaksanakan hal itu, jangan pernah berharap mendapatkan teguran yang sama. 

Selain diajak, terkadang kitapun ingin mengajak. Namun ada kalanya ajakan kita tidak dihiraukan oleh orang lain. Tahu tidak itu dikarenakan apa? Jawabannya tidak lain, karena kita jarang bahkan tidak pernah menghiraukan ajakan kebaikan orang lain. Bagaimana orang lain mau respect dengan kita, kalau kita sendiri tidak pernah respect. Selain itu, mengajak kebaikan harus pula penuh dengan kesabaran. Jangan pernah putus menyebarkannya. Jika hanya ada beberapa orang yang tak mau mendengar, cobalah tinggalkan mereka sejenak. Cari yang lain yang lebih membutuhkan. Karena kita lebih baik memberikan kepada orang yang merasa membutuhkan, bukan kepada orang yang merasa dibutuhkan.

Sebelum kita mengajak kebaikan, kita harus banyak-banyak mengiyakan ajakan kebaikan oleh orang lain. Karena dari sanalah kita belajar, apa saja kebaikan yang harus dikerjakan. Ketika kita tidak diajak, maka lakukan saja kebaikan itu tanpa harus merasa kesal. Dan ketika kita sudah merasa baik dengan kelakukan kita, maka saatnya menyebar kebaikan. Salah satunya, terus saja melakukan kebaikan.

Tidak ada komentar: