Seperti Malam yang Tak Dapat Menolak Awan, Seperti Malam yang Selalu Merindukan Bulan


           Seperti hari-hari biasa, aku menempuh perjalanan yang melelahkan ini dengan jalan kaki. Aku tak mampu mengukur berapa jauh jaraknya antar rumahku yang di gunung dengan kampus tujuanku. Kakiku yang sudah kurus kering ini, terkadang tak mampu memopong tubuhku sendiri, ditambah bakul jualan di pundakku. Kulitku yang penuh dengan kerutan-kerutan usia. Rambutku yang putih dan kasar. Siapa yang peduli dengan nenek renta sepertiku, tanpa sanak keluarga di sekitarnya. Tapi aku bahagia dengan pilihanku ini. Suamiku yang penglihatannya yang tak lagi dapat berfungsi, terpaksa hanya menjaga rumah, yang tentu saja tak ada yang harus dijaga. Aku sangat mencintainya. Ia jauh lebih tua dariku, hampir sembilan puluh tahun kini usianya. Ia sudah sangat sulit untuk berjalan sendiri, walaupun dengan bantuan tongkat. Aku yang selalu setia memapahnya dengan kesabaran yang benar-benar sabar. Terkadang aku sangat ingin mengeluh, walau aku tahu tak ada yang bisa kukeluhkan. Ini pilihanku dan aku bahagia dengan pilihanku.

            Aku seorang penjual ubi rebus yang dimasak dari tungku api. Ada banyak ubi yang kami tanam di pekarangan rumah reot kami. Yang jika dari jauh, maka rumah kami terlihat seperti kandang ayam yang berada di tengah-tengah kebun ubi kayu. Karena keadaan yang tak memungkinkan, tak ada lagi yang menarik ubi-ubi kayu tersebut. Aku pun menanam ubi jalar ungu untuk membuat penghasilan baru. Maka dari itu aku hanya menjual ubi rebus. Dan itu, penghasilannya terkadang hanya untuk keperluan yang benar-benar pokok, itupun sangat jauh dari kata cukup. 

Beberapa tahun belakangan, kami tidak lagi memakai beras, terlalu mahal. Kami pun memakan ubi rebus ini sebagai makanan pokok kami. Bukan hanya itu saja, kami sangat tergantung dengan hujan. Aku sudah tak kuat menggotong dirijen-dirijen air sungai bawah gunung ke rumah kami yang di atas. Terkadang ketika hujan tak kunjung datang, dengan susah payah aku ke bawah dan membawa setengah dirijen air. Aku tak marah melihat suamiku yang tak lagi seperti dulu, aku sangat mencintainya. Walaupun ia hanya dapat terlentang, namun ia selalu dapat membuatku tersenyum. Dengan cara-cara yang hanya dia yang dapat melakukannya.

Aku berangkat jualan setelah sholat shubuh. Dengan obor bambu di tangan dan bakul yang berisi ubi rebus yang masih panas di punggung. Aku terkadang beberapa kali istirahat demi memulihkan tenagaku agar dapat berjalan lagi. Aku tak pernah bosan dengan rutinitas ini, karena memang tak ada lagi yang dapat kukerjakan. Jika aku tak bekerja, lalu bagaimana aku dan suamiku bisa bertahan? Apakah kami harus mati kelaparan di ranjang? Itu sangat tidak romantis.

Ketika kampus masih terasa sepi, aku sudah ada di gerbangnya. Mungkin satpam merasa iba denganku, nenek tua renta yang kasihan, mungkin seperti itu pikir mereka ketika aku melewati mereka. Maka aku dibiarkan masuk tanpa dicegah sedikitpun, padahal aku tahu bahwa kampus ini tidak boleh ada penjual liar masuk. Sebagai tanda terima kasih kepada mereka, setiap pagi aku membagikan satu buah ubi rebus kepada ketiga satpam itu. Mereka tentu saja menolak, tapi aku bersikeras memberikannya. Akhirnya mereka menerima dengan tetap memberikanku uang. Aku malah merasa memaksa mereka membeli ubi rebusku. Dari situ aku tak lagi memaksa mereka menerima ubu rebusku lagi. Namun setelah kejadian itu, setiap pagi mereka selalu saja membelinya. Entah karena ubi rebusku yang enak atau hanya sebatas kasihan kepada nenek renta ini.

Matahari masih belum terlihat pagi ini, hanya sinarnya yang keluar dari balik gunung. Dinginnya pagi ini, tak lebih dingin saat malam hari di rumahku. Terkadang aku melihat anak-anak kuliah menggosokkan kedua telapak tangannya sambil menggigil sebentar. Aku sedang duduk di bangku panjang, yang aku tak tahu milik siapa, aku terlalu lelah. Seorang anak, dengan senyum lebar menghampiriku. Laki-laki dengan tinggi profesional, melangkahkan kaki dengan lebar-lebar. Ia tanpa canggung mencium tanganku, aku selalu saja diperlakukan seperti itu. Dia yang selalu membantuku, mengapa ia yang mencium tanganku. Ia bukanlah anakku, apalagi cucuku. aku tak memiliki kedua hal tersebut. Dia dengan kehangatan tatapannya, mencari ubi jalar yang paling kecil dan memakannya. Tanpa banyak bicara memang, tapi perlakuan lembut darinya, membuatku sedikit terhibur pagi ini. Setelah memakan satu biji rebus itu, ia menyelipkan beberapa lembar uang ke bakulku. Karena ia tahu, aku pasti menolaknya. Dengan tersenyum lagi, ia pamit, dan lagi mencium tanganku. Ingin sekali kuelas kepalanya, tapi apa pantas aku yang bukan siapa-siapanya mengotori rambut anak ini yang selalu terlihat rapi. Aku selalu memandang punggungnya sampai menghilang di antara bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.

Aku masih istirahat di bangku panjang ini, masih memulihkan tenagaku yang sudah terkuras habis di perjalanan. Dan menjadi kebiasaanku pula memperhatikan tiap mahasiswa lewat di depanku yang semakin lama semakin banyak datangnya. Kulihat beberapa mahasiswa sedang tertawa dengan terbahak-bahak, entah sedang menertawakan apa. Sedangkan beberapa mahasiswi terlihat saling bercerita, semangat sekali, walau mereka sedang berjalan sekalipun. Aku tertuju oleh seseorang mahasiswi dengan terburu-buru, mengenggem setumpuk kertas, yang mana mungkin aku tahu apa isinya. Matanya lurus ke depan, ada satu batu besar di depannya, dan kalau ia tetap seperti itu bisa saja ia jatuh. Aku segera saja bangkit, ingin berteriak, tapi suaraku tertahan di tenggorokkan, ya, aku sudah sangat sulit bicara, apalagi berteriak. Kulihat ia jatuh sambil berdesis marah, entah siapa yang ia marahai, mungkin batu. Aku menghampiri mahasiswi itu, ingin membantu memunguti kertas-kertas itu. Ia terlihat sangat tergesa-gesa. Aku hanya dapat mengambil satu kertas dan langsung kuserahkan. Ia terdiam sejenak sambil mengambil sesuatu dalam kantongya, dan aku segera beranjak. Saat aku berbalik, kulihat ia tak lagi ada di tempatnya. Dia pasti sedang mengejar banyak tanda tangan, sempat kulihat tadi kertas yang dulu sering aku kerjakan. Dan aku dulu mungkin lebih sibuk darinya.

***

            Aku terlahir di keluarga yang kaya, sangat kaya. Kedua orang tuaku terlalu sibuk untuk mengurus anak semata wayangnya ini. Dan akupun terlalu sibuk dengan urursanku sendiri. Banyak sekali kegiatan yang selalu kuikuti, dumulai saat aku umur tiga tahun sampai aku masuk kuliah. Di kampus, aku menjadi ketua BEM. Mungkin merasa aneh jika melihat aku seorang perempuan dan memimpin banyak mahasiswa lainnya. Ada banyak yang menentang saat aku terpilih menjadi ketua BEM, terutama organisasi-organisasi agama yang memang melarang seorang wanita menjadi pemimpin. Karena aku sendiri bukan menganut agama tersebut, aku tetap memutuskan menjalankan tanggung jawab besar ini. Aku kuliah di kampus terbesar di provinsiku, mungkin masuk lima besar dalam kampus terbaik di negeriku. Dan kegiatanku akan cukup untuk membuatku semakin sibuk dan melupakan mereka, kedua orang tuaku.

            Aku tak pernah membenci mereka, mungkin aku sayang sama mereka. Aku juga terkadang merindukan kehadiran mereka, di mana mereka sangat sering ke luar negeri untuk mengurusi bisnis. Mereka selalu menasehatiku agar aku jauh lebih sukses dari mereka. Dan aku sangat memegang janjiku saat itu. Aku tak mau bersedih seperti banyak anak orang kaya yang kesepian. Di dalam kesepian itulah aku mendapatkan semangat yang membara, ingin membanggakan mereka. Walau terkadang niatku bukan itu, hanya ingin membuktikan, tanpa mereka aku bisa. Dan tetap saja, aku sangat merindukan mereka.

            Aku menjalani tugasku sebagai ketua BEM dengan samangat keras. Aku ingin membuktikan bahwa perempuan tak selemah yang mereka pikirkan. Banyak kendala-kendala yang kuhadapi dengan tenang dan berfikir jernih. Isu-isu bahwa aku hanya menyuruh dengan imbalan uang, mengingat aku adalah anak orang kaya. Padahal tak sedikitpun aku memakai cara itu. Aku banyak bekerja sendiri karena banyak yang memang tak mau membantuku. Kesibukanku yang tahun lalu sebagai ketua himpunan yang menguras banyak tenaga, kini berkali-kali lipat ketika bekerja di tempat yang sangat besar tapi sedikit yang bekerja. Aku tak pernah menyerah dengan itu, aku anggap itu sebagai tantangan, terus memegang tanggung jawab ini. Dan aku percaya akan kemampuanku. Penuh percaya diri dan punya keinginan yang semuanya harus tercapai.

            Kerja kerasku membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tahun itu, kampusku mengadakan kontes sains tingkat internasional. Dan itu untuk pertama kalinya kampusku mengadakan acara sebesar itu, yang diikuti oleh 32 negara. Dan semua itu tanpa bantuan dari orang tuaku, biarlah mereka semakin bangga denganku. Dan itu yang kuharapkan, mereka bangga, dan menemuiku untuk mengucapkan selamat. Tapi aku terlalu bermimpi tinggi, mengucapkan selamat saja tidak, apalagi menemuiku.

***

            Aku menghela napas dengan sesak. Ingatan-ingatan masa lalu terkadang membuatku merasa sangat tidak enak. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi aku bahagia dengan pilihanku. Pagi ini, matahari telah setengah tampak di balik ujung gunung sana. Aku harus berkekeliling menjual ubi rebus ini yang mulai dingin. Saat ingin menghampiri para mahasiswa, terkadang aku merasa tidak enak hati. Aku dulu sangat terganggu jika ada yang menjual jajanannya padaku, selalu menganggap mereka tak mengerti bagaimana sibuknya aku. Tapi lihatlah aku sekrang, aku yang malah menganggu anak-anak ini. Dengan berat hati, aku terkadang hanya sekilas mampir tanpa menawarkan. Namun masih ada beberapa mahasiswa yang memanggilku dan aku sangat bahagia sekali. Dan aku tahu, mereka hanya kasihan melihatku. Mana ada ubi rebus dijadikan sebagai cemilan untuk menemani diskusi. Kalaupun ada, mungkin bukan seperti anak-anak ini. Aku terkadang sangat menyesal telah mengambil uang mereka. 

            Aku tahu diri di kampus ini, aku tak pernah masuk ke dalam kelas. Aku hanya berjalan saja, tanpa menawarkan. Terkadang aku hanya duduk di bangku-bangku yang biasa mahasiswa duduki. Ketika ada mahasiswa yang mendekat, aku lekas saja berajak dari situ. Aku tak ingin membuat mereka tidak enak untuk menegurku, aku tahu diri. 

            Aku kembali berjalan melewati mahasiswa yang tampak semakin banyak dan semakin sibuk. Aku berjalan dengan menunduk, takut tertimpa batu seperti perempuan tadi pagi. Jika aku terjatuh, siapa yang mau menolong nenek sepertiku. Jualanku hari ini sama seperti biasa, hanya beberapa yang membeli. Itu pun hanya sebagai balas kasihan mereka. Aku terdiam ketika melihat sepatu putih yang bersih, yang talinya terikat rapi, langkahnya perlahan mendekatiku. Aku dengan perlahan melihatnya. Lelaki dengan raut wajah yang bahagia, tersenyum padaku. Dia mahasiswa yang selama ini membeli ubi rebusku yang paling kecil dan membayarnya dengan paling besar. Aku membalasnya senyumnya dengan wajah gembira. Apalagi yang bisa kulakukan, memeluknya? Di tengah keramaian ini? Siapa yang tidak malu jika aku melakukan itu. Tapi ia di luar dugaanku, ia memelukku dengan erat, erat sekali, di tengah kerumunan mahasiswa ini. Air mataku perlahan mengalir. Masih ada anak sebaik dia. Kuusap perlahan kepalan rambutnya yang lebut. Aku sudah tak kuasa ingin memeluk dan mengusapnya. Aku sangat menyanyangi anak ini.

            “Nek, mau ya ke rumah?” Ia menawariku saat masih memelukku. Aku hanya menganggukkan kepala dengan perlahan. Saat ia melepaskan pelukan itu, matanya lembab menahan air mata. Aku sendiri membiarkan air mata haru itu mengalir dengan tenang.

            Kami menaiki mobilnya menuju rumahnya. Ini adalah pertama kalinya ia mengajakku ke rumahnya. Dan tidak mungkin aku menolaknya. Sesampai di depan gerbangnya, terlihat rumah yang mencolok tinggi. Aku hanya tertegun melihatnya. Sama besar dengan rumahku dulu. Kami pun memasuki pekarangan, banyak sekali bunga-bunga yang terawat rapi, seperti baru disiram beberapa jam yang lalu. Aku hanya diam saja memperhatikan sekeliling rumahnya

            Sesampai di dalam rumahnya, ia menangis dengan menjadi-jadi. Aku yang selalu ia tolongnya, terenyuh mendengar isakannya. Aku sangat ingin bertanya, apa yang terjadi. Tapi ia menceritakan duluan. Tentang kisah hidupnya di masa kecil yang sulit, ditinggal mati oleh kedua orang tuanya saat usia lima tahun. Ia pun pindah ke rumah pamannya, namun ia diperlakukan seperti seorang pembantu. Ia banyak sekali mengerjakan pekerjaan rumah, pernah ia tidak sempat melakukannya, ia ditampar, ditendang, dan hampir dibanting. Pamannya memang sangat keras, pegawainya pun banyak yang tak betah bekerja padanya. Jika ia keluar dari rumah itu, kemana lagi ia harus tinggal. Perlahan tapi pasti, ia menabung dari hasil kerjanya secara diam-diam di rumah orang lain. Setelah terkumpul lumayan banyak, ia memutuskan meninggalkan rumah itu, ia hanya menitipkan sebuah surat. Ia mencari kontarakan paling murah, namun hanya beberapa bulan bertahan, ia diusir. Ia dengan sangat sabar terus mencari pekerjaan, sampai akhirnya ia mendapatkannya. Di sana ia bekerja sangat keras sekali, membuat atasannya ingin membantu menyekolahkannya. Ia pun sekolah, dengan sedikit bantuan atasannya, karena upahnya langsung dipangkas untuk biaya sekolah. Ia tidak bekerja di satu tempat, ia juga bekerja serabutan, apa saja yang bisa dikerjakan akan ia kerjakan. Sampai akhirnya ia bisa hidup mandiri, seperti saat ini, ia sedang melanjutkan S3. Tapi ia merasa sangat kesepian, ia rindu dengan ibunya, dengan ayahnya. Ia bahkan pernah satu malam tidur di makam keduanya saking rindunya. Dan hari ini pun, ia sangat rindu dengan keduanya. Aku yang mendengarnya saja sampai lima kali mengeluarkan air mata.

            Aku terus mengusap kepalanya dengan lembut, membiarkan ia menumpahkan semua emosi yang ada dalam dirinya. Lama sekali ia menangis. Dan aku tetap mengelus kepalanya. Cerita anak ini menginngatkan aku dengan ceritaku dulu, tentang pilihanku yang membuat aku benar-benar berpisah dengan kedua orang tuaku.

***
           
Satu semester aku telah menjabat sebagai ketua BEM, dan dapat dikatakan kinerja paling baik dari yang pernah ada. Bagaimana tidak, aku bekerja ekstra keras, demi membuktikan bahwa perempuan juga bisa memimpin dan lebih baik dari laki-laki. Tapi tetap saja, masih banyak yang tidak mengakuiku. Walau ada beberapa yang mulai percaya akan kemampuanku. Namun aku tak pernah menyangka, setelah acara terbesar yang aku adakan, beramai-ramai orang dengan bendera putih mencegatku keluar ruangan. Aku didemo, disuruh segera turun dari jabatanku. Aku yang memang keras kepala, malah melabrak mereka semua dengan kata-kata kasarku. Aku sangat emosi saat itu. Bagaimana mungkin aku yang sedang kelelahan malah dibuat semakin lelah. Karena kata-kata kasarku itu, mereka semakin meneriaku, sepontan aku semakin marah. Dan tanpa aku rencanakan, aku melempar sepatuku ke wajah salah satu kerumunan orang itu. Dan terjadilah hal yang tak pernah terbayangkan olehku, mereka beramai-ramai melemparkan sepatu mereka ke arahku. Dan bukan saja sepatu, bahkan batu beberapa kali menabrak kepalaku. Yang aku ingat saat itu, seseorang berteriak-teriak sambil menghampiriku.

Aku tersadar dalam keadaan berbaring dan infus di mana-mana. Ada seseoraang di balik kaca tembus pandang sedang berbincang-bincang. Ia terlihat memakai pakaian yang sama dengan orang-orang yang menentangku. Kulihat ia melihatku yang telah siuman, segera memasuki ruanganku. Wajahnya terlihat sangat khawatir, entah karena melihat keadaanku atau yang lain.
“Dengan nama Allah, aku mohon maaf atas sikap saudara-saudarku,” suaranya bergetar, namun terdengar menyejukkan. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum. Namun ia tetap saja menundukkan kepalanya. Dari hari itu, aku semakin dekat denganya, lelaki yang suaranya menyejukkan.

Aku sangat banyak bertanya tentang agama yang ia anut, karena aku sendiri yang awalnya tidak membenci agama itu, malah menjadi benci setelah kejadian yang aku alami. Ia menjawabnya dengan halus dan menyenangkan. Tak ada paksaan untuk menerima jawabannya, tapi aku selalu membenarkan jawabannya walau hanya dalam hati.

“Kenapa dalam agama kalian tidak boleh wanita yang memimpin?” aku bertanya dengan hati-hati. 

Ia tidak terkejut dengan jawabanku, masih dalam kepala tertunduk, ia menjawab dengan tenang. “Alasannya ada pada kejadian yang sedang kamu alami,” ia tersenyum, melanjtkan. “Kamu memang mencoba selalu terlihat kuat, tapi tidak di mata orang lain. Perempuan tetaplah perempuan. Ia adalah aurat yang harus dijaga. Coba bayangkan, ketika kamu dihadapi masalah yang sangat besar saat masa-masa datangnya hal rutin itu. Apakah akan tenang menghadapinya? Mungkin kamu mencoba untuk terlihat tenang, kamu rasa kamu bisa, tapi tidak di mata orang lain. Dan yang paling terlihat adalah, memang benar tidak akan membuat bahagia jika dipimpin oleh seorang wanita. Seperti orang kaya, dia sukses, banyak uang, tapi tidak tentu yang ia hidupi seperti anaknya bahagia. Sama seperti pemimpin wanita, mungkin ia sukses, banyak yang diwujudkan, tapi tidak membuat bahagia yang ia pimpin, seperti mahasiswa-mahasiswa itu. Tujuan hidup kita kan saling membahagiakan. Kalau kita mengalah untuk menang, mengapa kita tidak melakukannya.”

Dan masih banyak lagi yang ia sampaikan padaku, dengan nada halus dan menyenangkan. Sangat berbeda dengan mereka yang berteriak lantang, dengan kata-kata kasar, dan tak memperdulikan hati orang lain. Dia seperti tahu apa isi hatiku, bagaimana menyikapi orang keras kepala sepertiku. Dan ia berhasil membuatku jatuh cinta, padanya.

Setelah kuutarakan perasaanku, ia meminta izin agar aku menunggu jawabannya beberapa hari. Aku merasa heran, apa susahnya bilang ya atau tidak. Tapi ternyata pemikirannya tidak sesimpel pemikirannku, ia langsung melamar ke rumahku. Aku sangat tidak menyangka ia seserius itu. Aku pun paham ketika ia menjelaskan lagi bagaimana seseorang yang mendekati zina saja sudah besar dosanya, dan ia tidak mau hal itu terjadi. Ia ingin memilikiku bukan hanya untuk dunia saat ini, tapi ia juga ingin memiliku di dunia yang sedang menunggu. 

Aku membuat suatu pilihan yang sangat besar. Aku menerima pinangannya, tapi tidak dengan kedua orang tuaku. Mereka marah besar, mengatakan banyak sekali bahasa yang tak sepantasnya mereka ucapkan. Dengan tanpa perasaan mereka akan menyetujui pernikahanku jika aku meninggalkan rumah yang selama ini kutempati. Deraslah air mataku saat mendengar kata itu. Sangat berat rasanya harus meninggalkan semua kenangan yang ada, bukan sekedar rumah, tapi mereka, kedua orang tuaku. Bagaimanapun juga, aku sangat menyayangi mereka berdua. Tapi tekadku telah bulah, pilihanku tidak akan kucabut. Dan aku siap menerima resiko atas pilihanku ini.

Saat kami menikah, aku yang sudah menjadi mualaf segera meninggalkan jabatanku sebagai ketua BEM. Aku tetap kuliah dengan biaya yang kami tanggung berdua. Pekerjaannya dari semenjak aku mengenalnya adalah menjadi guru honorer dan beberapa kali mengisi ceramah untuk pengajian di masij-masjid. Dengan susah payah, akupun wisuda dengan nilai yang sangat memuaskan. 

Setelah aku wisuda, bukan kemudahan yang kami dapatkan, semakin banyak kesusahan yang harus kami hadapi. Sekolah tempat mengajar suamiku tak mampu lagi membayar tenaga honorer karena masalah finansial. Aku yang baru wisuda tidak kunjung mendapatkan pekerjaan di kota yang sangat padat penduduk ini. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke provinsi lain, yang jaraknya sangat jauh. 

Kami mulai mendapatkan pekerjaan baru, menabung sedikit demi sedikit untuk membeli tanah. Namun saat uang kami sudah mencukupi membeli sebidang tanah, krisis moneter terjadi. Harga tanah melonjak tinggi, harga sewa kontarakan kami pun naik berkali-kali lipat. Terpaksa kami tetap tinggal di kontrakan tersebut dengan uang tabungan kami. Setelah beberapa tahun, ia memutuskan tetap membeli tanah walau berada di atas gunung. Di sana kami menanam sayur-mayur yang akan kami jual di pasar. Karena kami lebih sering berladang di atas gunung, akhirnya kami membuat rumah sederhana di sana. Kami meninggalkan kontrakan kami yang ada di tengah kota. 

Hari demi hari kami lewati dengan penuh kebahagiaan. Rasa cintaku padanya tak pernah lekang di kikis waktu. Malah semakin lama semakin besar, belum lagi sikapnya kepada seorang istri, sangat membuatku semakin menyayanginya. Tapi tetap saja, aku juga menyangi kedua orang tua, dan aku selalu merindukan mereka. Seperti tanah tandus di malam hari, yang membutuhkan air hujan untuk menyuburkanku. Jika ada awan, tak mungkin malam menolaknya. Sama halnya denganaku, aku yang sangat jauh dari kata kebenaran dan ketika ia datang melamarku, tak mungkin aku menolaknya. Seperti malam yang selalu merindukan bulan. Sama halnya dengan aku, walau aku memang mebutuhkan dia untuk mengajarkanku, aku juga sangat merindukan kedua orang tuaku.

***

            Ia telah berhenti menangis, tapi kini giliranku yang mengeluarkan air mata. Di usiaku yang sudah sangat tua ini, kenangan masa lalu selalu saja hadir tanpa rencana. Sedikit saja kejadian yang menyinggung potongan-potongan kejadian itu, ia akan datang dengan beribu-ribu potongan masa lalu.

            Aku yang tersadar akan waktu ketika melihat jam diding rumahnya menunjukan pukul 12. Aku terus saja memperhatikan jarum jam itu dengan hati yang tak tenang.

            “Nenek pengen pulang?” ia bertanya dengan lembut ketika ia menyadari aku terus saja melihat jam dinding. Aku hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu.

            “Makan dulu ya, Nek” aku hanya mengelang dengan pelan. Ia menatapku begitu lekat. Akhirnya ia pun mengntarkanku kembali.

            Aku di dalam mobil sangat tidak tenang, jam 10 aku harus ke pasar membeli kebutuhan untuk memasak. Jam 11 aku harus kembali ke rumah. Jam 12 aku harus sudah makan bersama suamiku.

            “Nenek kok kayak galau sekali?” ia mencoba menenangkan suasana, tapi aku masih saja tak tenang.

            “Oh ya, Nek. Saya bawakan beberapa keperluan yang mungkin bisa Nenek gunakan untuk beberapa minggu” ia menunjukan tumpukan di belakang kami, saking tidak tenangnya aku dalam mobil, tidak menyadari ada banyak sekali barang-barang di sana, ini malah lebih banyak dari kebutuhanku berbulan-bulan. Aku menatapnya dengan sangat lama, ia tersenyum saja melihatku yang terus menatapnya.

            Ia tak pernah ke rumahku, ini pertama kalinya ia mengantarku. Kami berhenti di rumah penduduk yang berada di dekat gunung. Ia memikul bawaanya yang sangat banyak itu dengan kelelahan. Aku ingin membantu, tapi ia tidak mau. Kami pun naik jalan setapak yang berliku-liku, bagiku yang sudah biasa naik turun gunung, tidak banyak mengeluarkan keringat. Tapi ia mangajakku banyak sekali istirahat, aku tetap saja melanjutkan perjalanan, aku sudah sangat senang ingin menceritakan kepada suamiku bahwa dia datang, anak kuliah yang selalu menyelipkan uang yang banyak untuk membeli satu biji ubi rebus kecil.

            Sesampai di depan rumahku, ia lama berdiam diri. Aku segera menyuruhnya agar segera istirahat di dalam. Sesampai di dalam, aku lekas menghampiri suamiku yang sedang berbaring. Aku ingin bercerita banyak hari ini, aku ingin membuatnya senang, karena selama ini hanya dia saja yang dapat membuatku tertawa di usia kami ini. Aku bercerita dengan terpatah-patah, sangat sulit bercerita jika usia sepertiku. Mulut sangat mudah lelah, tapi aku terus saja bercerita bahwa ada anak yang baik hatinya, selalu membantu kita, dia tadi pagi memelukku. Walau aku tahu, hanya aku sendiri yang mengerti perkataanku. Kendati demikian, suamiku selalu saja menanggapinya dengan hal-hal yang membuatku semakin senang, tapi kali ini berbeda. Ia diam saja, aku gemetar. Jangan sekarang, aku mohon. Kupegang tanganganya, dingin sekali. Air mataku sudah keluar dengan derasnya, aku berteriak-teriak membuat tenggorokanku sangat sakit. Aku tak sanggup, walau aku tahu, kami tidak jauh dari hal ini, tapi setidaknya izinkan aku menemaninya saat menghempus napas terakhir. Tapi lihatlah ia, tak ada yang menemani dia, semakin deras air mataku. Kucium keningnya, kucium pipinya, kucium hampir semua wajahnya sambil melafaskan inna lillahi wainnalillahi raji’un. Aku tahan air mataku agar tak menetes di wajahnya. Aku tak dapat menghentikan perasaan kehilangan ini, dan semua tak terkendali, aku tak sadarkan diri.

***
           
Sumiku selalu punya cara untuk membuatku bahagia di sisinya. Dari masa sulit sampai sangat sulit, aku selalu betah mendampinginnya. Aku paling suka melihat matanya, menyejukan sekali. Namum aku tak lagi dapat melihat keindahan itu lagi, ia kecelakaan saat mengantarkan sayur ke pelanggan. Matanya tak dapat dibuka lagi. Aku sampai menangis saat melihatnya diperban. Aku tak sanggup melihat suamiku menderita seperti ini. Tapi ia malah menggodaku, “Dek, kalau aku punya banyak bola mata, aku pasti taruh semua di kamar, biar kamu liatin terus.” Aku yang mendengarnya hanya menangis. “Tapi mataku yang sering kamu lihat ini, sedang dipinjam, mungkin aku gak baik nyimpannya, suka melihat yang kamu gak suka. Kamu kan sering sekali cemburu,” ia sambil tertawa mengatakan itu, dan tangisku pun tercampur dengan tawa.

Semenjak matanya tak dapat melihat, ia sangat sering mengulang hafalannya. Ia takut nanti tak bisa ingat lagi. Aku yang mata normal saja tak sebisa itu menghafal Al-Qur’an. Belum lagi suaranya yang jernih, merdu, membuatku merasa sangat tenang di dekatnya. Sering ia memintaku untuk membenarkan hafalannya, tapi sampai sekarang pun hanya satu dua kata yang salah, itupun langsung ia perbaiki dengan sendirinya. 

Mulai saat itu, ia lebih banyak di ruamh. Memegang benda-benda rumah, mengingat letak posisinya. Aku pun tak pernah memindahkan benda-benda yang telah ia pegang. Jika aku memakainya, lekas kucuci lalu menaruh kembali ke tempatnya.

“Dek,” ia selalu memanggilku dengan lembut. “Abang ngerasa Adek terlalu bawa emosi.”

“Maksud Abang?” aku memang tak mengerti dengan perkataanya itu.

“Ini sudah berapa minggu Adek nemani Abang?” ia bertanya dengan lembut, aku hanya diam. “Abang sudah bisa kok hafal sekitar rumah. Apalagi hafalin keberadaan Adek,” lagi-lagi ia membuatku tersenyum malu. Aku sangat suka digodanya.

“Tapi Bang..” ia tiba-tiba memberhentikan perkataanku, sambil tangannya mencariku. Lekas kudekati diriku padanya.

“Coba, arahkan tanganku ke bibir Adek,” pintanya dengan sangat halus, aku sangat takut saat itu, karena aku tahu tidak boleh membantah suami. Dengan gelisah kuarahkan tangannya ke bibirku. “Ini ya bibir yang merah itu, kok lembut sekali. Tapi hanya rasanya saja lembut, perkataanya jauh lebih lembut dari rasanya.” Aku tahu itu adalah nasehat darinya, yang sangat halus.

“Adek bisa kok ninggalin Abang di sini, Abang bisa melakukan hal-hal kecil itu. Apa sih bedanya punya motor dan sepedanya, kan sama-sama untuk kendaraan, satunya cepat satunya lama. Cuma itu,” lagi-lagi ia mencoba membuatku agar lebih tenang.

“Atau jangan-jangan Adek kangen ya sama Abang, sampe-sampe nggak mau ninggalin Abang?” aku tersenyum malu. “Sini, pipinya mana? Biar kangennya sedikit diobati. Pipi orang yang suka kangen itu beda rasanya, lembut-lembut gimana gitu,” ia tertawa saja sambil mengecup pipiku. Aku hanya bisa membalasnya dengan air mata haru. Beruntung sekali aku mendapatkan seorang suami sepertinya. Tak akan pernah menyesal seumur hidupku.

***

 Suamiku dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahnya, mahasiswa yang selalu membantuku. Anak itu mengajakku tinggal di rumahnya, walaupun sangat berat meninggalkan banyak kenangan di rumahku. Ia memutuskan agar aku tetap tinggal selama satu minggu dirumahku baru aku benar-benar pindah. Anak itu sangat mengerti sekali bahwa aku membutuhkan waktu sendiri, mengenang tiap kebaikan yang suamiku berikan padaku. 

Aku kini tinggal di rumah anak itu, yang tanpa kusadari matanya mirip dengan mata suamiku, menyejukkan. Aku sangat senang menatapnya diam-diam, di mana tiap melihat matanya, perlahan-lahan air mataku mulai menetes. 

“Boleh ya saya manggil Nenek sebagai Ibu?” ia menatapku dengan matanya itu, membuatku semakin menangis. Digenggamnya tanganku, dipeluknya diriku, ia sama seperti suamiku jika menenangkan hatiku. “Kalau Ibu saya masih hidup, pasti sama cantiknya dengan Ibu saya yang ini.” Ucapannya dengan lembut.
Kini ia memperlakukan aku dengan sangat baik. Tak lagi seperti dulu, aku selalu mengurus keperluanku sendiri. Ia mempunyai pekerja yang melayaniku dengan sepenuh hati. 

Aku mulai mencoba berdamai dengan keadaan, mencoba mengingat tiap kejadian. Entah dari mana datangnya, perasaan ini, sesuatu jawaban yang selama ini kutanyakan. “Dimana balasan bagi orang-orang yang bersabar?” karena dari dulu aku sudah bersabar dan belum pernah merasakan balasan itu. Kini baru aku sadari, balasan tak selalu dilihat dari materi yang ternilai. Balasan terkadang timbul dari sekeliling yang tak pernah kita duga. Dan aku, sudah lebih bersyukur atas apa yang kumiliki. Itu semua karena kejadian yang kualami, membuatku semakin bersyukur atas nikmat-Nya, atas semua cobaan-Nya, dan segala pertanyaanku yang telah dijawab dengan cara-Nya.

***







Cerpen oleh Mujib NS Jawahir.

2 komentar:

BukuQof mengatakan...

Maju terus Mujib, terus berkarya... Bravo!

siti hediyanti mengatakan...

Wiiih kren Jib.. :)
Smpe ngantuk bcax,, he ,, buat film aja jib.. :)