Ketika Jatuh Cinta


Oleh Mujib NS Jawahir



            Entah mengapa, semua kenangan masa lalu terngiang kembali di kepalaku. Pertama kali bertemu dengannya, dengan wajah garangnya menatapku. Tapi hatiku berkata lain, dia sedang menatapku. Kutatap balik matanya, satu lontaran kalimat yang kuingat kala itu darinya, “Mau goda saya? Mentang-mentang kamu cantik gitu?”. Baru kali ini aku dibilang cantik, aku sangat tersanjung. Kulirik lagi dia yang sedang berkacak pinggang, dengan mata yang menyala, menghampiriku tepat berapa inci di depanku, berteriak, “Tiarap!”.

            Namanya Muhsamar Irawan, ketua OSIS. Aku sangat berbeda dengan siswa lainnya, jika mereka memilih menghindar dari masalah, aku malah yang membuat masalah. Jam setengah enam tepat, siswa harus ada di sekolah, maka aku akan datang satu jam setelahnya. Aku bukannya telat bangun, aku sengaja. Soalnya yang menghukum anak-anak terlambat adalah kakak itu. Aku ingin lebih dekat dengannya, walau dalam keadaan yang selalu dibentak, yang terkadang air liurnya muncrat-muncrat membuatnya semakin terlihat lucu. Tiga hari sekolah kami mengadakan MOS, selama itu pula aku bertatap muka dengan kakak itu. Karena hal-hal seperti itu, di akhir MOS aku diberikan hadiah sebagai siswa yang tidak patut diteladani. Aku dikalungi kaleng-kaleng dan botol-botol bekas. Bangga sekali rasanya, yang mengalungi itu tidak lain adalah kakak itu.

            Sama seperti pagi ini, aku sangat menyesal tidak terlambat, dia ada di sana, sedang menghukum anak-anak yang terlambat. Aku masuk kuliah jurusan Pendidikan Biologi, tepat dua tahun setelah dia masuk fakultas ini. Dari hari inilah hari-hariku akan berubah seutuhnya. Terkadang sebuah angan tidak seharusnya terwujud saat diinginkan, ada waktu yang akan menjawabnya. Aku sangat percaya itu. Perasaan yang selalu kupendam, suatu saat akan terkuak juga, entah itu sebagai kebahagian atau sebaliknya.

***

            Kemewahan, ketenaran, kebebasan, semua telah kumiliki. Tapi entah mengapa, ada yang kurang dalam hidupku. Kebahagiaan. Semua yang kulakukakan seakan sebagai pelampiasan untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Sibuk dalam organisasi dalam maupun luar kampus. Sibuk mengembangkan bisnis yang awalnya kecil sekarang berubah menjadi besar. Sibuk dalam pementasan kesenian. Sibuk dalam pelajaran matematika. Dan kesibukan lainnya yang telah kuciptakan sendiri. Tapi aku selalu bertanya, untuk apa semua itu? Untuk orang tuaku? Dari kecil aku tak pernah melihat wajah mereka. Kelas lima SD aku keluar diam-diam dari panti asuhanku, mencari kerja, apa saja. Sampai akhirnya aku dipungut oleh orang kaya, dia mengajarkanku etos kerja yang sangat tinggi. Sampai aku SMP, aku keluar dari rumah itu. Aku ambil semua ilmu darinya, aku bangun hidupku sendiri. Tinggal sendiri tanpa ada keluarga yang kukenal, adalah salah satu kebebasan yang paling bebas yang pernah kurasakan kala itu. Tapi kini semua berubah, ada yang terasa kurang dari hidupku.

            Sahabat? Aku tak pernah merasakan bagaimana persahabatan. Aku yakin mereka mau berteman denganku karena aku pengusaha muda kaya dan hidup sendiri, aku tak butuh teman seperti itu, apalagi dijadikan sahabat. Dalam lubuk hatiku, ingin rasanya mengumumkan siapa yang ingin menjadi sahabatku, menerimaku di setiap kondisi. Aku tak yakin ada orang seperti itu. Mungkin karena aku terbiasa sendiri, membuatku seperti tak membutuhkan orang lain. Padahal aku sangat ingin berbagi cerita ketika sampai di rumah. 

            Rumah? Aku mempunyai rumah berlantai tiga. Lantai satu dengan lima kamar yang besar. Lantai dua penuh dengan buku pribadiku. Lantai tiga penuh dengan hasil karya seniku. Di rumah sebesar itu, aku hanya sendiri. Pembantu? Untuk apa menyewa seorang penganggu. Aku bisa melakukan semuanya. Jika datang rajin, aku akan membersihkan semuanya tanpa ada yang memuji. Jika datang malas, aku bisa membiarkan semuanya tanpa ada yang menegur. Jika datang marah, aku bisa memberantakan semuanya tanpa ada yang mengaturnya kembali.

            Mahsamar Irawan, adalah nama yang kubuat sendiri. Namaku sebenarnya bukan itu, tapi aku tak sudi diberikan nama oleh orang yang wajahnya saja tak kukenal. Saat ujian nasional SD aku menulis nama itu di lembar jawaban. Dan betapa rasa merdekanya aku ketika ijasah SD ku tertera nama Mahsamar Irawan. Siapa yang peduli? Guru? Tahu apa mereka tentang diriku.

            Dari semua kesepian itu, ada hal yang membuatku tahu untuk apa aku di sini. Aku jatuh cinta, ini bukan pertama kalinya, ini yang kedua. Ada seorang teman kuliah yang sekelas denganku, orangnya biasa, sangat biasa. Lalu mengapa aku tak memulai? Itu adalah salah satu kesengajaanku. Aku ingin merasakan jatuh cinta, lagi dan lagi. Ketika aku memulai, maka aku tidak lagi jatuh cinta, tapi cinta yang jatuh. Kugunakan setiap perasaan itu untuk membuat kesenian. Wajahnya, senyumnya, suaranya, adalah hal yang sangat berharga dalam karyaku. Ketika dia terlihat mesra dengan lelaki lain, maka kecemburuan, kemarahan, kebencian akan menjadi satu, karya seni yang emosional. Aku bangga dengan itu. Walaupun aku tampak seperti seorang pecundang, aku sangat ingin berbicara berdua denganya. Mengungkapkan semua yang selama ini yang kupendam. Aku ingin setia jatuh cinta padanya. Tapi ketika aku telah memutuskan hal ini matang-matang, ada satu, bahkan dua kendala yang menghalangiku. Dia akan pindah, semester ini juga. Dan yang tak terduga, wanita yang aku jatuh cintai pertama kembali hadir. 

***

             Aku sangat merindukan hal-hal seperti ini, ya, hal-hal gila. Menguntit langkahnya, menguping pembicaraannya, dan yang lebih gila, mengikuti tiap geraknya. Sudah dua tahun aku tak seperti ini. Aku selalu bertanya, apakah tiap orang yang jatuh cinta akan melakukan apa yang kulakukan? Hm, aku tak tahu siapa yang aneh di sini, mungkin saja dia. Ya, dia mungkin saja telah menyihirku, kalau itu benar, aku juga ingin menyihir dia. Supaya dia melakukan apa yang kulakuin padanya. Sepertinya akan sangat seru.
            Aku juga selalu menebak, apa ya nama yang cocok untukku, pengagum rahasia? Bagiku itu kurang dramatis, seperti penguntit setia. Bicara masalah menguntit, bukan berarti aku tak pernah dipergoki. Hampir dua puluh kali malah. Karena sudah keseringan, aku pun telah menjadi profesional untuk mengelaknya, seperti pura-pura angkat telpon, lalu marah-marah. Itu masih mending, awal kali aku dipergoki menguntit dia lebih kacau, aku masih ingat, itu ketika dia menuju perpustakaan. Dia jalannya cepat sekali, karena sudah tertinggal jauh aku berlari. Dan ketika dia tiba-tiba berhenti, berbalik ke arahku. Aku yang sedang berlari langsung menamparnya, keras sekali. Plakkkkkkkk. Aku sangat grogi. Cepat-cepat aku ingin minta maaf, tapi dia keburu pergi, tidak lagi keperpusatakaan, entah kemana. Itu adalah awal pertamaku menyentuh pipinya. Dan aku bertanya lagi, apakah tiap orang grogi akan langsung menampar?

***

            Kutatap dinding-dinding kamarku yang penuh dengan lukisanku. Aku menyebutnya sebagai lukisan perasaan. Aku yakin, orang awam akan melihatnya sebagai coretan anak TK. Kudekati dinding itu, dengan kuas kugores lagi garis demi garis, menambah dua buah coretan yang melintang. Kututup mataku, merasakaan perasaan bimbang. Mencari jawaban ditiap pertanyaanku. Apa yang kurang dari hidupku?

            Sudah dua jam aku berdiri di depan coretan baruku. Mentapnya dengan tatapan kosong, berharap aku menemukan jawaban itu. Tetap saja, lukisan hanyalah gudang penyimpan perasaan. Menatapnya, akan selalu mengingatkan perasaan yang disimpan dalam lukisan itu. Ketika kusenteh garis itu, kelembabanya masih belum hilang, seiring perasaan ini masih belum hilang. 

            Entah sadar atau tidak, pesan yang selalu kusimpan itu telah terkirim.

 ***

Ketika jatuh cinta
Ada kata yang tak bisa dijelaskan
Entah bagaimana menerpaku begitu saja
Lembar demi lembar, membawaku ke arah yang tak kukenal
Sekat demi sekat, menyapaku dengan suara yang tak kukenal
Balkon demi balkon, mengamatiku yang penuh tanda tanya
Apa benar aku menyukaimu

***

            Ini adalah sebuah pesan yang tak pernah kubayangkan. Dari nomor yang selalu ingin kukirimkan pesan. Ada puluhan kata-kata yang kusediakan untuk kukirim padanya. Tapi malam ini, ini sudah kelewatan dari batasku. Kubaca lagi pesan itu di layar telpon gengamku. Kuulangi terus membacanya. Dia mengirimkan pesan ini di waktu yang salah, besok aku ada kuis, apa iya aku mengisinya dengan namanya.

***

            Apakah dia adalah jawaban yang selalu kucari? Kututup kedua mataku, merasakan hangatnya selimut tebal ini. 

***

            Satu bulan dari insiden pesan itu, dia seakan ditelan bumi. Ya, bahkan aku tak bisa mengucapkan sepatah dua kata. Aku sudah punya sepuluh nomornya, semuanya aktif saat satu bulan yang lalu. Padahal saat selesai kuis aku langsung menelpon dia, ingin mengatakan kalau aku sukses mengisi lembar jawabanku dengan namanya. Atau jangan-jangan dosenku membaca jawabanku, lalu marah, terus melaporkan ke dekan. Dekan merasa prihatin, terus ngelaporin ke rektor. Lalu rektor buat surat skorsing buat kakak itu. Ah, tidak, ternyata ini semua salahku. Coba saja aku menulis namanya di jawaban nomor lima, bukan di nomor satu.

            Aku bukan gadis yang cengeng, aku sangat suka tertawa. Entah kejadian yang lucu atau tidak. Aku juga terkadang merasa aneh dengan diriku. Harusnya aku sedih saat kakak itu hilang. Tapi aku malah menjalankan hariku seperti biasa, kecuali menguntitnya. Jika dipikir-pikir, apakah benar ketika jatuh cinta yang pertama kali akan sangat sulit diluapakan? Aku masih jatuh cinta padanya, walaupun sekarang dia lagi hilang.

***

            Punggungnya, terasa sangat jauh. Entah mengapa bahasa tubuhku menyuruhku mendekatinya. Dadaku terus bertempur bersama dengan keringat di keningku. Dedaunan terus berjatuhan, menerpanya dengan lembut. Dengan hembusan napas yang kupaksakan, aku akan menyapanya. Tiba-tiba ia berbalik. Plakkkkkkk. Dia menamparku, lebih sakit saat tamparan dulu. “Aduh Kak, maaf Kak,” tak ada tampang bersalah dari wajahnya, ia bahkan menahan tawanya. “Ini Kak, pipiku. Tolong tampar juga,” dia memejamkan matanya. Plakk plakkk plakkkkkkk. “Kok beneran sih Kak?” dia meringis. Sungguh, aku tak tahu kenapa aku menamparnya sangat kuat. Bahkan tanganku terasa panas. Seumur hidupku, aku tak pernah bertemu dengan seseorang dengan sapaan saling menampar. 

            Angin terus berdatangan dengan kencangnya. Satu ranting kayu jatuh tepat di tengah meja bundar di depan kami, membuat lamunanku buyar. Kulihat arlojiku, jam tiga, berarti sudah dua jam kami hanya saling diam setelah adegan saling menampar itu. Suasana ini sangat berbeda ketika aku duduk dengan orang-orang lain. Di dekatnya, walaupun hanya diam pun terasa sangat menenangkan. Namanya Rizka Damayanti, yang selalu menguntitku.

***

            Dari hari itu, kami selalu bersama. Bahkan aku diajaknya ke rumahnya yang super besar. Aku memang sangat awam akan seni, tapi kuakui lukisan-lukisan abstrak di dinding rumahnya sangatlah bagus, untuk membuatku tertawa. Yang sangat aneh itu, ada gambar kepala mirip ayam yang paruhnya kayak cocor bebek, terus badanya seperti gentong yang punya gigi, dan kakinya kecil-kecil mirip kaki seribu. Katanya itu adalah gambar pencarian jati diri, punya filosofi yang sangat mendalam. Jujur, aku gak bisa tahan lagi, ketawa sepuasnya.

            Ia juga mengajakku mengunjungi beberapa perusahaanya, memang tidaklah sangat besar, tapi dapat dibilang sangat sukses untuk seorang mahasiswa sepertinya. Ia mengajariku bagaimana caranya ia memulai usaha dari penjual asongan, lalu menabung uang itu untuk membuat usaha baru, begitu dan begitu terus. Katanya lagi, yang membuat orang gagal, ketika ia mendapatkan beberapa laba, mereka menggunakan uang itu untuk membeli keinginan mereka. Selain seni, ternyata bisnis lebih membuatku banyak diam. Tidak tahu mencari kelucuannya di mana, soalnya aku sangat ingin tertawa.

            Yang paling penting adalah, ia mengajariku pelajaran. Walaupun dia berbeda jurusan denganku, tapi pengetahuannya sangat luas. Tapi yang aku gak suka darinya, kalau lagi ngajar raut wajahnya terlalu serius. Untuk mencairkan suasana, di tengah-tengah kesulitan aku mengerjakan soal pemberiannya, aku akan tertawa dengan meledak-ledak. Berharap dia menjawab pertanyaannya sendiri. 

            Selain hal-hal yang menyenangkan, ada juga hal yang lebih menyenangkan. Para penggemarnya banyak sekali. Jika mereka berbondong-bondong menghampirinya, aku akan berbaur dengan mereka. Aku merasa sangat bahagia bisa melakukan hal yang sama, mengejernya. Kami berlari dengan sekuat tenaga kami, sampai dari kami semua kelalahan. Dan jika dia menyerah, maka kami akan berdesakan ingin dekat dengan dia, dan tentu saja aku yang paling heboh dianatara semuanya. Ya, aku sangat suka bersaing dengan sehat.

            Aku selalu tertawa jika mengingat kejadian-kejadian selama hampir dua tahun bersamanya. Hampir tidak ada kesedihan, semuanya hanya ada tawa dan tawa. Aku bahkan tidak mau jatuh cinta selain kepadanya. Aku juga tidak pernah berpikir kalau dia akan menjauh dariku. Semua hal-hal lucu itu seakan menjadi penguat hubungan kami. Ya, aku sangat percaya semua itu. 

            Tapi, senja itu. Dengan tatapan dingin ia menghampiriku. Aku yang selalu ingin tertawa jika melihat wajahnya yang serius, tapi tidak kala itu. “Aku ingin memutuskan semua hubungan ini,” ia berucap tanpa ada nada menyesal. Tanganku bergetar ingin manamparnya, ia memandangku tak seperti biasanya. Sangat ingin aku tertawa terbahak-bahak, tapi yang ada aku menangis. Dan itu sakitnya sangat sakit. Semua kenangan itu muncul lagi, membuatku menangis lagi. Lagi dan lagi. 

***

            Maaf.

***

            Cadar ini, aku harap bukanlah sebagai pelempiasan sakit hatiku. Tak ada yang mampu menenangkan hatiku selain mengeluh kepada-Nya. Sangat aneh memang, jika melihatku di awal semester ini tiba-tiba memakai cadar. Tak ada lagi mulut yang tertawa dengan lebar, tak ada lagi mata yang mencari hal-hal yang lucu untuk ditertawai. 

            Sangat banyak yang menanyakan, mengapa aku memakai cadar, terasa sangat tiba-tiba. Sebelum mereka menanyakan hal itu, aku telah dulu menyakan kepada diriku sendiri, mengapa aku memilih memakai cadar? Bukan hanya sehari, butuh berminggu-minggu aku mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri. Ya, aku tak ingin wajahku sebagai fitnah. Entah, mengerti atau tidak dengan jawabanku, kuharap mereka tak lagi mempermasalahkan pilihanku.

            Tak seperti yang kubayangkan, memakai cadar akan menjadi sangat nyaman. Ada banyak candaan yang membuatku sakit hati, walaupun aku tahu itu hanya candaan. Seperti kata-kata yang sering terlontar, ninja, ninja, dan ninja. Apa yang salah dari memakai cadar? Apakah tiap orang yang memakai cadar diwajibkan untuk ditakain ninja? Aku sebenarnya sangat ingin marah.

            Dari bercadar, aku juga lebih paham bagaimana rasanya mencuci pakaian yang lebih besar dari biasanya, menyetrikanya dengan teliti, dan tetap menggunakannya di keadaan panas. Bukan hanya pemeliharaannya, bahkan memakainya tak sesimpel memakai baju biasa. Kaos kaki, kaos tangan, adalah hal yang terus dipakai. Aku terus bertahan dengan semua hal-hal berat ini.

            Memakai cadar, sama halnya seperti aku memulai menggunakan jilbab. Yang awalnya dipaksa, lalu lama-lama kegunaanya akan melekat sendiri. Jika aku menunggu kapan hatiku siap, maka tak akan pernah siap aku memulainya. Butuh suatu tindakan untuk menundukan hati. Dan cadar ini, bukan hanya sebagai penutup dari segala fitnah, aku berharap mendapatkan ridha dari-Nya. Aku sangat berharap akan hal itu.

            Jujur, wajahnya selalu saja terselip tiap mataku terpejam. Aku berusaha agar tak menangis memikirkan itu. Apakah aku pernah menangis karena-Nya? Mengapa hanya kepada sesosok manusia ciptaan-Nya aku bisa sesedih ini. Lalu apa gunanya aku mamakai cadar, jika diluarnya tampak terus berzikir padan-Nya padahal di dalamnya menangisi seseorang yang hubungan darahpun tak ada. Aku sangat malu kepada-Nya. Aku terus berdoa, agar Dia mencintaiku. Aku ingin jatuh cintaku pada-Nya lebih besar saat jatuh cinta pada ciptaan-Nya.

***

            Pertanyaanku, apa yang kurang dalam hidupku. Yang aku pikir dia adalah jawabannya, ternyata tetap membuatku merasa ada yang kurang. Dalam hidupku, aku terus mencari jawaban itu. Akibatnya, aku tak lagi memperhatikan bisnisku, seniku, bahkan dia. Itu berlangsung selama dua tahun, mencari dan terus mencari. Saat aku selesai wisuda, aku bingung mau ke mana kakiku melangkah. Sampai suatu hari, bisnisku berantakan. Modal-modal yang kupinjam tak bisa kukembalikan, semua barang-barang milikku adalah jaminannya. Aku tidak tahu berbuat apa lagi. Hidupku telah menjadi sangat kacau.

            Hingga akhirnya, sebuah adzan maghrib memanggil. Langit yang merekah jingga, membuatku teringat sesuatu, ada yang lebih indah dari seni siapapun, langit ini buktinya. Suara adzan terus kudengar, sudah lama telingaku tak mendengar adzan seperti ini. Saat aku mengenal bisnis, aku selalu disibukkan dengan pekerjaan yang berat. Sampai-sampai aku lupa siapa diriku sebenarnya. Aku menganggap, semua hartaku adalah hasil dari kerja kerasku. Tapi apa yang kupunya sekarang, semuanya telah Dia ambil kembali. Tak terasa air mataku menetes perlahan. 

            Dari masjid itu, aku mendapati kabar bahwa ada pondok pesantren yang akan dibuka dan membutuhkan pekerja. Aku langung saja mendaftarkan diri. Di pondok itu, aku tidak saja membersihkan masjid dan menyapu halaman. Aku juga belajar mengaji, mulai Iqra’ satu. Kubuang rasa malu itu dalam-dalam, bersama anak-anak kecil kueja satu demi satu huruf hijaiyah itu. Sampai sembilan tahun aku mengabdi di pondok itu, kini bukan lagi sebagai pekerja biasa, tapi pengajar. Aku telah menamatkan hafalan tiga puluh juz. Dengan waktu yang sangat lama itu, aku sangat banyak belajar hal-hal yang selama ini terus aku pertanyakan. Di sinilah aku mendapatkan jawaban itu.

            Aku telah jatuh cinta kepada-Nya yang telah memberiku hidayah untuk menjawab pertanyaanku. Aku telah jatuh cinta pada ilmu yang mengajariku melaksanakan hidup yang sesungguhnya. Aku telah jatuh cinta pada pondok ini, beserta semua penghuninya yang membantuku dalam mencari jawaban itu. Dan aku jatuh cinta, pada semua ciptaan-Nya yang membentang dari partikel kecil ke alam semesta yang sungguh luas. Lalu ada satu yang selama ini kulupakan, kini kembali hadir dalam kejatuhcintaan itu. Aku akan melamarnya.

***

Ketika jatuh cinta
Jadikan aku semakin mendekat-Mu
Tak ada mata yang memandang rasa itu sebagai kesakitan
Kaulah yang memberi rasa
Kaulah pula yang mengambilnya
Hanya pada-Mu aku meminta
Jadikan rasa itu sebagai rasa yang sesungguhnya rasa
Ketika jatuh cinta
Hanya pada-Mu aku mengadunya

***





Cerpen oleh Mujib NS Jawahir

1 comment:

RIVANI GUNAWAN said...

Assalamualaikum...., ini cerita yang luar biasa Akhi. kapan kapan di share ilmunya akh...., :D