SASAKALA LALA


Kau,
dengan pensil yang patah
menulis dengan tersedak
menunduk dan berlari ke lapangan

Setiap kau
menatap langit
ada serpihan kaca
yang menusuk kulit

meski aku tak pernah
mengungkapnya
aku sudah merasakan
sakit

musim hujan
tak lama lagi hilang
melebur dalam
kesakitan hati

tak ada lagi hujan
yang meremangkan air matamu
tunjukan kesedihanmu

aku tahu
kau perpura-pura kuat
dengan kelemahanmu

Berbaliklah,
aku selalu berdiri di belakangmu
air mata itu
aku ingin mengusapnya






Mujib NS Jawahir
Mataram, 26 April 2015

Tidak ada komentar: