SECITASMA & CITASTRO



masih ingatkah kau
ketika dulu kita besorak sorai masuk SMA
ada semangat yang baranya menyala-nyala
untuk meraih itu mimpi

sampai habis itu waktu meninggalkan kita
kita kejar, tapi tak bisa sampai
biarkan aku meradang dulu
lalu berlari lagi

semangat yang kian dikikis waktu
otak hampir habis ditelan malas
tubuh sudah lesu ditantang cita

oh, cinta yang tak bisa kugapai
melukis perih yang bernyanyi di relung hati
oh, cita yang terus kukejar
menepih asa yang hinggap dan menjalar

ketika aku ini bermimpi
tolong, bangunkan aku
akan kugenggam itu mimpi
lalu kutaruh di tempat yang lebih tinggi
semakin tinggi
dan matilah kau mimpi bersamaku.

aku paling benci ketika ada yang berkata;
‘jangan bermimpi setinggi langit’
aku ini bisa bangun
bertatih
bertahan
dan, gagal
tapi aku juara
karena aku mencoba melampui batasku
matilah kau mimpi bersamaku.

ada bulan yang remangnya mengindahkan mimpiku
ada surya yang terangnya membangunkan mimpiku
ada senja yang mengingatkanku akan mimpiku
ada malaikat yang selalu ada untuk mimpiku


ini bukan akhir dari cerita yang indah
ini adalah awal penantian untuk kita membahagiakan
orang tua, malaikat yang selalu hadir di dalam mimpi

ada kata yang sebenarnya tak mau kuucap;
selamat tinggal
tunggu aku yang akan membuatmu tersenyum


Note: Puisi dibacakan ketika perpisahan di SMAN 1 Taliwang, Mei 2014.


***



Dimana Pluto dibuang? Dindingnya beku tak dihirau

Dimana aku berjuang? dadaku remuk cemoh berderau
Mimpiku masih berkantar, sampai berhenti Bumi berputar
Protocita yang keluar, terangnya menghambar
Melebar masuk kedalam mimpi yang kelakar

Tak ada kata yang harus terjulur, membentur
Merenggangkan kaki, melompat
Aku butuh cepat
Sampai semua mengganjar, sadar
Tak ada cita yang tak bisa capai
Walau terus melambai
Ada bintang sebagai tujuan
Ada Dia sebagai landasan
Ada kamu sebagai harapan

 


 Note: Puisi ini menjuarai lomba puisi At-Attafakur, September 2014.

***


Mujib NS Jawahir, lahir di Gunungsari pada tanggal 29 Desember 1995. Anak pertama dari Nuris dan Saidah.

Tidak ada komentar: