Aku Ingin Mimpiku Nyataku



Malam itu, hembusan angin yang menusuk tulangku tak kuhiraukan. Dedaunan yang saling bergesek semakin menenangkan malamku. Desa Sidera yang berdekatan dengan Poso ini terasa aman malam ini, tak ada suara tembakan seperti satu bulan yang lalu. Aku tinggal di persawahan tengah hutan daerah Poso. Disini aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan kedua adikku, hanya mereka saja, tak ada tetangga di sekeliling rumaku. Besok adalah pengambilan ijazah SMP. Ayah dan ibuku adalah lulusan pondok pesantren, maka setiap maghribnya aku menyetor hapalanku pada ibuku. Hapalanku masih di Surah Al-Ma’idah. Impian besarku menghafal tiga puluh juz Alquran. Dan aku percaya, semua itu bisa kucapai, aku yakin Allah Mahamendengar dan selalu mendengar doaku. Aku menatap bulan kuartil awal dengan hiasan bintang di sekelilingnya. Bulan adalah sahabatku berkeluh kesah setiap malam, bagiku dia adalah pendengar yang sangat baik. Terkadang saat bulan baru aku terus mencari bulan, aku tak mengerti mengapa setiap bulan baru aku sangat merindukan bulan.
Di bawah cahanya ini aku mengingat saat aku pertama masuk SMP, SMPN 4 Poso. Dengan seragam merah putih, kuinjakan sepataku di depan kelas dengan sangat percaya diri, saatnya memperkenalkan siapa diriku. “Perkanalkan, nama saya Muhammad Aditya Pratma, lahir di Sidera, cita-citaku menjadi dosen untuk memberantas kebodohan di Indonesia. Setelah SMP disini saya akan melanjut di SMAN 1 Poso, selanjutnya saya akan ke Universitas Tadulako untuk sarjana, sedangkan magister dan doktonya saya akan ke luar negeri, minimal Australia. Setelah lulus saya akan mengabdi di Unversitas Tadulako, agar sarjana-sarjana daerah Sulawesi tidak kalah saing dengan daerah-daerah Jawa. Ingat, suatu saat nanti bukan cuma jawa saja saingan kita, tapi Asean. Kenapa saya memilih sarjana di  Universitas Tadulako? Karena saya ingin alumni universitas daerah pun bisa berhasil, bukan hanya daerah tapi nasional dan internasional. Dan yang paling penting, saya ingin membuktikan kalau orang kaili juga bisa mempunyai nama besar di negara kita ini,” tepuk tanganpun membahana di kelasku. Aku tampil dengan sangat percaya diri, aku memang sangat suka membaca semenjak kelas tiga SD, terutama bacaan yang membicarakan perekonomian, kualitas tenaga kerja, dan kuliah. Di SMP aku sangat tergila-gila ke perpustakaan, setiap jam istirahat pasti aku langsung lari kesana. Karena perpustakaan, aku semakin memperkuat cita-citaku, dosen Fisika. Bagaimana bisa aku harus diam saja, aku membaca di buku-buku itu tentang pemanasan global dan minyak mentah yang semakin sedikit serta borosnya manusia menggunakan listrik. Aku ingin mengubah dunia lebih baik, mungkin cara terkecil adalah membuat orang-orang mempunyai cita-cita sepertiku sebanyak mungkin lalu sama-sama mewujudkan impian besarku ini. 
Di SMP, aku dekat dengan ibu Widuri, guru Fisika yang lulusan pondok pesantren. Pernah suatu kali dia memintaku untuk ikut MTQ tingkat kabupaten karena hapalanku pada saat itu sudah tiga juz setengah. Aku memang tergiur dengan hadiahnya, cukup buatku melanjutkan SMA. “Maaf, Bu! Dalam keluarga saya, Alquran ataupun yang bersangkut pautkan dengan agama tidak boleh dijadikan ajang pencarian upah. Beda dengan pelajaran dunia, orang tua saya setuju untuk dilombakan. Mohon maaf sekali lagi, Bu. Mungkin ada orang lain yang lebih baik ketimbang saya”. Terkadang akupun heran, mengapa kata-kataku selalu terlihat bijak, mungkin karena terlalu banyak baca buku, mungkin saja. Setelah aku mengutarakan alasanku pada Ibu Widuri, tahun ini tak ada perwakilan sekolah kami dalam MTQ, biasanya setiap tahun pasti ada satu perwakilan. Mungkin karena ucapanku yang lalu, tapi itulah prinsipku, tidak mengharuskan orang lain mengikutinya dan cukup aku saja yang melakukanya.
Saat aku naik kelas tiga SMP, kegilaanku dalam belajar semakin menjadi-jadi. Tak ada waktu tanpa memegang buku, bahkan ibuku sampai pernah memarahiku membaca saat sedang makan. Targetku agar mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran ujian nasional, supaya mendapat beasiswa dari pemerintah. Dikelulusan SMP-ku, aku bahagia mendapatkan nilai tertinggi, tapi dengan nilai yang kuanggap sangat mengecewakan, tak ada penghargaan, apalagi beasiswa, dan aku baru sadar sekolahku memang sekolah terpencil yang tidak menerapkan penghargaan bagi yang berprestasi, hanya ucapan selamat saja. Aku mencoba menghibur diri sendiri, aku sepatutnya bersyukur karena diluar sana banyak mereka yang ikut bimbel tapi tidak tentu nilai mereka tertinggi di sekolahnya. Setiap hari aku selalu mempositifkan pikiranku, sampai akhirnya aku menemukan lagi semnagatku. Menjadi seorang dosen, maka kumulai impian itu dengan masuk SMA. Aku harus mencapai semua yang kutargetkan, apa pun yang terjadi, aku harus sekolah.
Ayahku adalah seorang yang pendiam, hanya hal-hal yang penting saja yang ia ucapkan. Pagi itu, raut wajahnya yang selalu menyebarkan senyum telah hilang. Ia memanggilku, “Nak!”. Aku langsung menghampirinya yang sudah duduk di pekarangan dengan pakaian sawahnya yang berbau keringat, aku tahu ada hal sangat penting akan ia sampaikan sampai harus meninggalkan pekerjaan selepas sholat shubuh dan mengaji tadi. “Maafkan, ayah!” hanya itu katanya, singkat penuh makna, romannya gusar dan penuh hati-hati, matanya lembab. Aku tahu arti kata itu, tak ada biaya untuk melanjutkanku kejenjang SMA. Apalagi adikku sekarang kelas tiga SMP dan kelas lima SD. Kuresapi kata ayahku itu, ada rasa kecewa yang terdengar dalam hatiku. Kucoba untuk memakluminya, kututp mataku untuk menerima kenyataan ini, bahwa keluargaku bukanlah keluarga yang berkecukupan apalagi kaya raya. Kuingat kembali ketika awal masuk SMP dulu, sewaktu perkenalan di depan kelas, “Perkenalkan namaku, Muhammad Aditya Pratama. Lahir di Sidera. Cita-cita ingin menjadi dosen agar bisa memberantas kebodohan di Indonesia. Saya yakin saya akan menjadi dosen”. Mataku perih dan sesak akan airmata, aku tak mau menangis di depan ayahku, tapi tak bisa. Lalu aku menangis sejadi-jadinya, berteriak tak karuan, melempar kerikil-kerikil yang ada di dekatku, lalu menendang pohon-pohon yang ada di sekitar rumahku, sampai aku terjatuh dan tak sadarkan diri, yang aku ingat pada saat itu ayahku berlari menghampiriku sambil mengucap, “Istigfar, nak. Istigfar, nak!”.
***
            Tiga tahun lamanya aku tidak sekolah, tiga tahun pula hatiku terus menjerit. Bahkan semangatku yang bergelora dulu kini mulai padam, baranya pun mulai menjadi abu. Disetiap selesai sholat, aku selalu berdoa agar diberikan kesempatan untuk kembali sekolah, maka airmataku tak kan berhenti membasahi pipiku. Malam itu, aku tatap bulan yang sedang purnama. “Apa kamu tahu rasanya malu? Takut? Dan tak berguna? Mungkin cita-citaku terlalu tinggi bagi orang sepertiku, tapi apa itu salah? Bukankah kita hidup untuk bermimpi? Kamu tahu kenapa aku malu? Karena aku sudah mengumbar mimpiku yang besar itu ke setiap temanku, guruku, bahkan padamu. Tapi apakah itu juga salah? Bukankah semakin banyak yang tahu impian kita, maka semakin banyak yang mendoakan mimpi kita tercapai? Dan apakah kamu tahu kenapa aku takut? Aku takut tak bisa menggapai mimpiku yang kutaruh dilangit itu. Tapi bukankah seandainya kita tidak mecapainya maka akan jatuh diantara bintang-bintang? Mungkin aku memang tak berguna, hanya punya mimpi yang besar, omongan yang besar, doa yang besar, tapi kurasa usahaku juga sudah besar. Jadi kenapa mimpiku belum terjawab? Apakah aku sudah ditakdirkan untuk tidak sekolah? Bukankah hambanya bisa mengubah takdirnya. Lalu kenapa SMA saja aku tak bisa, kenapa?” aku berkeluh kesah pada bulan, ia hanya diam saja menerangi malam itu. 
            Setiap pagi, aku bekerja di sawah. Siangnya aku menggayuh sepeda untuk jualan di pinggir jalan. Sorenya kembali ke sawah. Setelah maghrib aku langsung ke rumah sahabtku yang masuk SMA, untuk belajar dan meminjam buku. Setelah itu baru aku menghafal Alquran. Dan setelah shubuh baru menyetor hapalanku. Awalnya memang aku tak sanggup melakukan ini semua, tapi lama-lama tubuhku merasa biasa dengan aktivitasku yang super berat ini. Terkadang ada rasa malas yang menghampiriku, bukan hanya satu dua kali saja. Jika rasa malas menjangkitku, maka kupaksakan kegiatanku agar tetap berjalan, bahkan kegiatan yang biasanya ringan, kuberatkan agar rasa malas itu lekas menghilang.
            Indonesia mewajibkan sekolah enam tahun dan aku telah memenuhinya. Untuk masuk SMA pun biayanya tidak cukup hanya modal tekad, tapi dengan modal uang. Awal masuk harus membeli ini dan itu, setelah masuk mebeli buku sana dan sini, setiap semester ada yang harus di bayar, terima ijazah pun harus membayar. Aku tak menyalahkan biaya pendidikan yang mahal, bukan juga mendukung. Aku tahu semua itu untuk memajukan dunia pendidikan, tapi aku belum bisa merasakan kemajuan itu. Orang tuaku pun sebenarnya bisa membiayai aku sekolah, tapi bagaimana dengan kedua adikku? Dan bagaimana dengan kehidupan kami? Apakah adiku tidak perlu sekolah dan kami tidak perlu makan agar aku bisa sekolah? Terkadang aku benci menjadi orang yang tidak mampu, tidak bisa membantu orang yang sedang kesulitan. Tapi aku juga benci kepada orang kaya yang tidak mau membantu orang yang kesulitan, seperti kami. Ayahku pernah sampai kena bentak karena memaksa orang kaya untuk meminjamkan uang untuk membiayai aku  sekolah. Aku yang ada disampingnya tak terima dengan perlakuan itu, kubalas memnbentak orang kaya itu. Tapi ayahku malah mohon maaf kepada dia dan ketika sampai di rumah aku marah habis-habisan karena membentak orang yang lebih tua. Aku tak habis pikir, apakah ayahku memang seorang malaikat yang menjelma menjadi seorang ayah. Dari semua rasa kecewa karena aku tak ditakdirkan menjadi orang mampu, namun ada hal yang paling kusyukuri, keluargaku. Mereka sangat harmonis, terutama ibuku, ia bagaikan dewi yang selalu menolongku dalam kegelisahan. Ayahku yang sifatnya seperti malaikat, menyadarkanku akan kesalahanku. Adik-adikku yang membuat aku betah di rumah, canda mereka selalu menghibur hatiku yang sedang kecewa. Aku selalu berfikir, bahwa keluargaku adalah keluarga yang paling bahagia di dunia ini.
***
            Hari ini, aku sudah melangkahkan mimpiku ke tingkat yang lebih tinggi, perguruan tinggi. Aku lulus dengan mudah di Universitas Tadulako, karena nilai ujian nasionalku tertinggi di Sulawesi Tengah. Aku meninggalkan kedua orang tua dan adikku ke Palu, sangat sedih rasanya bila mengingat perjuanganku bersama mereka. Setelah mengenal arti tawakal dan ikhlas, baru aku bisa masuk SMA. Bukan hanya usaha dan doa saja, tapi yang terpenting adalah menyerahkan segalanya kepada Allah hasil dari usaha dan doaku. Tak kusia-siakan semua pengorbananku selama tiga tahun, aku belajar sampai larut malam, bangun lagi sebelum sholat shubuh dan belajar lagi. Saat aku masuk SMA, rasanya cita-citaku terasa dekat sekali, maka aku harus mengejarnya detik itu juga. Kubuang rasa maluku ketika umurku yang paling tua di dalam kelasku, akupun tak malu bertanya kepada mereka. Aku sudah benar-benar merasakan jika Allah itu Mahamendengar, tugasku hanya tawakal.
            Di perguruan tinggi, tekadku yang sempat luntur kini semakin menguat. Bukan hanya cam laude yang kutargetkan tapi nilai sempurna. Karena dari SMP dan SMA aku belum bisa merasakan nilai sempurna. Aku yakin, sebuah mimpi itu akan menjadi nyata jika kita bangun lalu berdiri, melangkah, berlari, dan terbang setinggi mungkin menggapai mimpi itu. Tapi ada disaat terjatuh, maka aku kembali bangkit walaupun terjatuh lagi di satu langkah kemudian. Aku sudah terbiasa dengan kehidupan ini yang terkadang tak selalu mendukungku. Dari setiap kejadian yang kualami, baru aku mengerti arti dari kata, pengalaman adalah guru terbaik. Kata itu baru muncul disaat aku bisa melewati masa sulit, harusnya aku sudah sadar sejak pertama kali gagal. Mimpi itu bukan untuk dibawa tidur atau dibawa melamun, tapi aksi untuk meraihnya, biarkan Allah yang menilai usaha dan doa serta tawakal. Dan yakin mimpi itu akan jadi nyata.
Di malam ketika bermimpi
Buka matamu, lihat sekelilingmu yang gelap
Bangun dari tidurmu, melangkah menuju mimpi itu
Berlarilah ketika mimpi itu semakin menjauh
Ketika terjatuh, maka berdirilah
Disaat mimpi itu mulai menghilang
Terbanglah mengejar bayang-bayangnya
Ketika sayapmu patah, maka memohonlah pertolongan kepada-Nya
Jika sayapmu belum juga pulih, maka bersabarlah dan terus memohon
Jika sayapmu semakin rapuh dan tinggal satu mili kau akan terhempas di bebatuan, maka serahkanlah semuanya kepada-Nya
Pada saat itulah mimpimu akan melihatmu, mengejarmu
Teguhkan hatimu yang sempat retak itu, jangan lepaskan mimpi yang sudah di depan matamu itu
Genggam dia, bawalah mimpimu dalam nyatamu
Hingga mimpi dan nyata adalah satu
Menjadi rasa syukur.
***


Mujib NS Jawahir, lahir di Gunungsari pada tanggal 29 Desember 1995. Anak pertama dari Nuris dan Saidah.

Note: Cerpen ini menjuarai lomba cerpen At-Attafakur, September 2014.

Tidak ada komentar: