EKAMATRA




Taruh mimpimu di langit tertinggi, gapai dia perlahan.
Dan ketika terjatuh, bangkit lagi. Ulangi sampai kau tak bisa berdiri.

*****
                Loleng, sebuah desa yang mungkin kamu tidak tahu dimana. Aku tinggal di sini, bersama ayah ibuku dan ketiga adikku. Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kamu pasti tahu Sungai Mahakam, sungai terbesar di Indonesia. Kau tahu aku sekarang sekolah dimana? Aku sekolah di SMAN 1 Kota Bangun, tepat di samping sungai raksasa itu.
Hidup ini seperti garis liku-liku yang terus memanjang dan tak pernah kembali ke awal, seperti halnya dimensi satu dimana garisnya tak pernah bersentuhan, itulah filosofi ekamatra. Sama seperti diriku dalam memandang hidup, terus menatap kedepan dan tak pernah menyesal akan masa lalu. Aku masih kelas sepuluh, lulusan SMPN 5 Kota Bangun. Aku memang tinggal di desa yang terbelakang, tak ada warnet, wartel, warkop, bahkan warteg. Tapi aku masih bisa berbangga di Loleng ini, karena ada pasar, walaupun itu hanya satu kali dalam seminggu, malam Rabu. Kalau kamu ke desaku, rata-rata rumahnya berkayu ulin, kayu paling kuat dan mahal. Rumahku, tidak perlu kamu bayangkan, rumah panggung, hanya dari papan-papan bekas dan punya banyak celah, atapnya ilalang yang sudah bolong sani-sini, dan pondasinya dijadikan rumah oleh rayap. Walaupun aku tinggal di desa terpencil ini, tapi cita-citaku sangat tinggi. Aku hanya heran, kenapa di desa anak-anak tidak punya cita-cita seperti anak-anak di kota.
Bagiku, mimpi itu adalah kewajiban setiap insan, merugilah bagi orang yang tak pernah bermimpi. Mimpiku, menjadi pengusaha yang kaya. Aku ingin membantu orang-orang yang sedang mengejar mimpinya. Tapi aku sadar, aku masih SMA dan makanpun masih dengan orang tua. Setidaknya aku sudah membuktikan usahaku dengan bekerja jadi buruh tani saat pulang sekolah, dari jam dua siang sampai lima sore. Dan sorenya bebek-bebek sudah menungguku pulang, lalu mematuk-matuk kakiku, waktunya makan. Jadi buruh tani itu ternyata tidak sesulit yang dipikirkan orang, hanya mencabut rumput, mencangkul, menanam, memetik, dan tidur di lading. Memelihara bebek pun sangat menyenangkan, cuma diberi makan pagi dan sore, mereka pun rajin mandi di rawa belakang rumahku, walaupun badan mereka semakin kotor. Setelah salat magrib, rumahku sudah berdatangan anak-anak yang belajar Alquran. Setelah salat isya, waktunya tidur. Aku hanya bisa belajar sebelum subuh, itupun harus minum dulu air yang diembunkan di pekarangan, agar napasku panjang saat mengaji. Sangat dingin rasanya, tapi membuat tenggorokan ini plong. Dan jangan tanya kapan aku berangkat sekolah, setelah salat subuh. Aku salat sudah pakai seragam dan dasi. Berangkat pakai sepeda BMX karatan yang rantainya sering copot, ke Kota Bangun yang jaraknya lima belas kilometer, ditambah gunung-gunung yang mahatinggi. Aku bisa, karena aku punya mimpi.
                Aku lupa mengenalkan namaku, Sumit. Tarmizi Hasan lengkapnya. Sumit itu bahasa Kutai, artinya kumis. Julukan itu semenjak aku kelas lima di SDN 008 Kota Bangun. Pagi ini tidak seperti biasanya, kepalaku sangat sakit, berdenyut-denyut tanpa henti. Setelah bersalaman dengan ibuku yang sedang membaca Alquran, lalu ayahku yang sedang memasukan ikan-ikan lele dan mujair ke dalam boks yang diikat di atas motor ceketer yang tidak punya lampu belakang, pelat, bahkan STNK. Ayahku berangkat jualan ikan saat aku berangkat ke sekolah, hanya saja aku menuju barat dan ayahku kebalikanya, jadi aku tetap memakai sepeda setiap hari. Masih dengan kepala berat, kugayuh sepeda itu menaiki gunung pertama dan aku terjatuh, yang kuingat pagi itu venus terlihat indah dengan pantulan cahaya mataharinya, bintang kejora.
“Alhamdulillah, Nak sudah sadar. Mamak sangat kuatir sekali Nak!” kulihat ibuku, pipinya sudah basah.
“Mamak kan harus ke sawahnya Lek Gito? Hasan gak mau mamak sampe kena marah. Hasan baik-baik aja kok, Mak.”
Setelah membujuk ibuku untuk tidak mengkhawatirkanku, akhirnya tinggalah aku sendiri di rumah yang sunyi ini, yang di sekelilingnya pohon-pohon karet yang terkadang monyet-monyet putih bergelantungan kesana-kemari. Aku mencoba berdiri, tapi sangat berat. Aku sangat kaget melihat sekujur tubuhku membiru, sangat sakit. Aku hanya bisa berdoa, menangis menahan sakit yang luar biasa, dan kembali tak sadarkan diri. Mimpiku, datanglah kau pada hidupku, aku mengejarmu, tidakkah kau menantiku?
                Berkas-berkas cahaya dari lubang-lubang atap ilalang rumahku menyilaukan mataku, aku terbangun. Kulihat ada kain kafan menutupi tubuh seseorang, sebesar diriku. Aku tidak mau menduga, aku linglung. Kucari ayahku, kuliat matanya memerah. Ibuku, tangisanya membuatku sangat takut, adik-adikku? Jangan-jangan. Kulihat mereka berdua duduk dengan menunduk. Lalu siapa yang meninggal? Aku merinding ketakutan.
“Yah, siapa yang meninggal?”
“Mak, siapa yang meninggal?”
“Dek, siapa yang meninggal?”
Mereka, bahkan menolehpun tidak. Kusentuh ibuku, dan tak bisa. Ada apa ini, aku semakin ketakutan. Kucoba beranikan membuka kain kafan itu. Tidak mungkin, badanya putih pucat, mengeluarkan banyak air mata, dia sangat mirip denganku, aku berteriak sejadi-jadinya. Lalu rumahku itu berubah menjadi sebuah tempat yang tak kukenal, orang-orang yang berdatangan, sekarang memakai jubah serba hitam. Ayah, ibu, dan adik-adikku, mereka tetap seperti sebelumnya. Aku benar-benar tidak bisa menahan rasa takutku ini, tubuhku terasa melayang, dan rasa sakit yang luar biasa kembali terasa kurasakan. Gelap, lalu kucoba perlahan membuka mataku, aku hanya bermimpi, mimpi buruk. Kulihat ibuku memelukku dengan erat, kucoba untuk memegangnya, tetap tak bisa. Tanganku tak bisa digerakan, kulihat sekujur tubuhku membiru tua. Saat ayahku dan kedua adikku masuk ruangan yang serba putih ini, aku sudah tak sadarkan diri.
“Siapa Tuhanmu?” salah satu dari orang berjubah hitam itu bertanya, tapi aneh aku tak bisa menjawab, padahal aku sangat ingin menjawab, tapi tidak tahu harus menjawab apa.
“Siapa nabimu? Aku tidak tahu dia bertanya apa.
“Apa agamamu?” aku benar-benar tidak tahu apa-apa lagi.
Lalu dengan cambuk mereka memukulku dengan keras, rasanya bahkan lebih sakit dari yang kurasakan saat tubuhku membiru. Dan mereka mengulangi pertanyaan itu, ketika aku tak bisa menjawab, mereka kembali memukulku. Sampai tubuhku sudah hampir remuk, aku terbangun lagi dari tidurku. Kulihat para dokter menggunakan seragam hijau dengan mulut ditutup masker. Ditangannya alat-alat kecil yang tajam, dadaku terasa disobek-sobek.
“Apakah biusnya tidak mempan?” salah satu dari mereka bertanya dengan wajah tegang.
Kulihat mereka langsung mondar-mandir entah sedang apa, aku mencoba memberanikan melihat tubuhku. Dan aku kembali tak tahan melihatnya, seperti daging yang diiris-iris.
“Coba sebutkan, apa kelebihanmu?” orang yang berjubah itu bertanya lagi.
“Aku pekerja keras, suka menolong orang lain, di kelasku aku juara, aku rajin beribadah, dan walaupun aku hidup susah tapi aku punya mimpi yang sangat besar,” aku sangat bangga dengan jawabanku.
“Coba sebutkan, apa kekuranganmu?” aku menggeleng dengan mantap.
Dia menanyakanya sampai tiga kali, dan aku tetap dengan pendirianku. Karena aku merasa semua yang kukerjakan semuanya baik. Dia meninggalkanku dengan rasa kasihan, aku sangat ingin bertanya. Tiba-tiba dia berbalik.
“Tanyalah!” aku terperanjat kaget.
“Kenapa aku seperti ini? Bukankah aku anak sholeh dan berbakti pada orang tuaku?”
“Sombong! Hanya Allah yang tahu kamu sholeh atau tidak. Bertobatlah sebelum Munkar dan Nakir menanyakan pertanyaan yang tak bisa kau jawab itu,” semuanya kembali seperti semula, atap ilalang yang bocor membuat sinar matahari menyilaukan mataku.
Kulihat keluargaku dan para tetanggaku gembira melihatku dapat membuka mata. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada diriku selama ini, aku merasa mimpi panjang yang punya dua cerita. Alam kubur dan rumah sakit. Aku bangkit, kutatap mata kedua orang tuaku, tak terasa air mataku menetes dengan sangat deras. Kupeluk mereka berdua, aku menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan Hasan, Mak! Selama ini Hasan tidak pernah membahagiakan Mamak. Hasan hanya ingin mengurangi beban Mamak. Tapi Hasan sadar, semua itu hanya membuat sakit hati Mamak,” aku tidak tahu darimana kata-kata itu keluar, tapi hatiku terasa sangat lega. Kulihat ibuku menatapku dengan mata lembab.
“Iya, Nak. Mamak selalu memaafkan kamu. Mamak selalu berdoa agar suatu saat kamu bisa menggapai cita-citamu yang tinggi itu. Tapi, Nak. Sekarang belum saatnya kamu membanting tulang. Sekolah yang harus kamu perioritaskan, bahkan Mamak selalu melarang kamu untuk bekerja. Tapi kamu selalu ngotot, Mamak gak mau kamu berfikir kalau uang itu gampang didapat dan tidak butuh orang tua. Mamak sayang sama kamu, makanya kamu harus sekolah yang tinggi. Tinggikan dulu mutumu, baru mencari pekerjaan!” nasehatnya membuatku sadar akan keegoisanku.
Bahkan yang kita anggap sebuah kebaikan untuk kita, terkadang membuat kita tersesat akan hal itu, tanpa mendengar nasehat orang tua yang lebih tahu yang terbaik untuk anaknya. Akupun pernah berpikir untuk berhenti sekolah, karena tanpa sekolahpun aku bisa menjadi pengusaha yang sukses. Tapi ibuku menyadarkanku, orang yang sukses tanpa ilmu tidaklah sama derajatnya dari orang yang sukses karena ilmu. Bahkan Tuhan pun memerintahkan kita untuk menuntut ilmu setinggi dan sejauh mungkin. Aku tak pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi padaku, kujadikan itu sebuah pelajaran yang sangat berharga. Pengalaman adalah hal yang paling melekat dalam hidupku, kujadikan titik-titik yang membentuk sebuah garis yang kadang lurus, kadang berliku naik turun, dan garis itu tak pernah kembali dari garis awal yang telah terjadi.
                Kini aku lebih banyak belajar daripada bekerja, nasehat-nasehat ibuku selalu aku ikuti. Terkadang harus dipaksa, tapi tetap kulakukan, karena kutahu itulah yang terbaik. Ke sawahpun pada saat hari-hari libur saja. Aku banyak menghabiskan waktu belajar di rumah. Dengan suara burung yang bernyanyi merdu, suara gesekan daun yang ditiup angin, tapi tidak dengan bebek-bebek yang bersuara sumbang, setiap hari kudengar. Dan mulai hari ini, hariku akan ditemani sebuah bunga yang diberikan oleh ibuku, kutanam di depan rumahku dengan rasa bangga.
“Mak, darimana mamak dapat bunga ini? Cantik sekali!”
“Tadi waktu cabut kangkung, gak sengaja kebawa. Itu rumput Nak, kok ditanam?”



Mujib NS Jawahir
Lahir di Gunungsari pada tanggal 29 Desember 1995.  Anak pertama dari H. Abdul Hamid Nuris (alm) dan Siti Saidah.



Tidak ada komentar: