Juni & Juli



Oleh Mujib NS Jawahir


Pernah ngerasain jatuh cinta yang terpendam? Hm, kalau saya sih sampai sekarang belum pernah ngersain jatuh cinta. Tapi saya punya banyak mantan. Saat ini saya lagi duduk di kelas XII. Nggak lama lagi ujian nasional. Tapi, saya tidak akan menceritakan pengalaman tentang mantan-mantan saya. Tapi, saya akan bercerita tentang sahabat saya, Juni. Nama saya Agus, lelaki tampan dan pintar menurut saya, hehe. Saya sangat suka bergaul dengan berbagai kalangan. Sedangkan Juni, bisa dibilang cuma saya temannya yang paling dekat. Soalnya dia pendiam dan pemalu banget. Dan bagaimana jadinya kalau dia jatuh cinta sama adik kelas yang namanya sangat terkenal di SMA kami. Namanya, Juli. Walaupun baru kelas X, tapi Juli sudah banyak membanggakan sekolah kami. Bagi saya wajahnya tidak secantik mantan-mantan saya yang berkulit putih mulus dan berambut hitam lembut. Soalnya, kulitnya tidak terlalu putih juga tidak terlalu hitam. Bisa dibilang putih standar untuk orang Indonesia. Rambutnyapun tidak pernah kulihat, karena selalu terbungkus oleh jilbabnya. Saya hanya aneh saja dengan Juni. Padahal banyak banget yang suka sama dia, apalagi si Novi, hampir tiap hari dia datang ke kelas kami buat ngasih kado ke Juni. Saya sih bahagia, soalnya isinya jajajn dan selalu saya yang makan, hehe. Kalau saya jadi Juni, saya bakal pacarin semua cewek yang suka sama saya dan Juli, dia bakal menyesal tidak pernah mendekati saya. Tapi akhirnya saya mengetahui mengapa dia sangat mengagumi Juli. Bukan karena dia cantik ataupun pintar, tapi karena Juni kagum padanya, ya cuma kagum. Masih bingung? Begini, saya tahu ceritanya dari buku hariannya. Tentunya saya baca diam-diam. Jangan kasih tahu ya kalau saya curi buku harianya, nanti dia malu, ckck. Begini cerita yang ia tulis.

***

Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan jalan kaki, seperti biasa tepat pukul setengah tujuh. Udara pagi ini sangat sejuk. Saat aku sedang berjalan, di depanku ada seorang wanita dengan seragam batik sekolahku. Tiba-tiba saja ia berbalik, aku mengerutkan kening. Sangat familiar wajahnya dimataku, tapi aku lupa dia siapa? "Assalamualaikum, kak Juni," senyumnya manis sekali. "Boleh bareng jalanya?" aku hanya mengangguk. Pagi ini aku hanya bisa berjalan dengan mata tertunduk. Aku masih mengingat-ingat, siapakah perempuan ini. "Kak, kok nunduk aja jalannya?" aku melihat sepintas, ternyata dia memperhatikanku dari tadi. "Takut zina". "Zina? Maksud kakak?". "Zina mata," aku masih menunduk dan dia kembali diam. Karena sudah sangat penasaran, maka kuberanikan bertanya padanya, "Mm, boleh saya tahu namamu siapa?". Kulihat dia menatap heran, mungkin aku yang aneh karena tidak tahu namanya. "Juli" ia menjawab sambi sambil menyodorkan tanganya, aku hanya menempelkan kedua telapak tanganku tanpa menyentuhnya. Kami pun berjalan bersama tanpa ada pembicaraan lagi. Semakin lama aku didekatnya, entah mengapa jantungku semakin berdetak kencang. "Maaf, boleh saya duluan?" aku sudah tidak kuat jika masih didekatnya. Benar-benar detakan jantung seperti ini bisa membuat sesak dada. Aku mempercepat langkahku dan sesekali berlari kecil meninggalkannya.

Hari ini ketemu lagi dengan Juli di perpustakaan. Dia melepaskan senyuman, sama seperti biasanya, manis sekali. Lekas kutepis penglihatanku. Aku baru sadar kalau Juli itu anak kelas X paling berprestasi di sekolahku. Ada perbedaan mendasar dari kami. Dia anak orang kaya, sedangkan aku hidup tanpa orang tua. Setiap hari aku bekerja di warnet dan memanfaatkan peluang itu membuat bisnis di internet. Alhamdulillah, bisa dibilang hasilnya dapat mencukupi hidupku. Di warnet itu, aku mempunyai seorang teman yang seumuran denganku, namanya Desi. Dia anak pemilik warnet itu. Biasanya Desi membawakan aku makanan atau minuman setiap siang dan malam. Sebenanrnya aku menolak, tapi karena terlalu sering ditawari akhirnya aku mau, sampai sekarang pun aku masih makan siang dan malam di warnet itu. Untuk membalas kebaikan Desi, biasanya aku membantu mengerjakan PR atau mengajari dia pelajaran yang kurang dia pahami. Aku berjanji, harus menjadi orang sukses agar bisa membalas semua kebaikan keluarga Desi.

Pulang sekolah tadi ketemu lagi sama Juli. Kok bisa ya tiap hari ketemu dia saja? O ya, hari ini saya benar-benar marah sama sikap Novi. Setiap hari selalu menggodaku, kalau mau berteman ya berteman, tapi bukan begitu caranya. Tanganku selalu kujaga agar tetap tak tersentu dari kulit yang tidak dihalalkan, namun tadi siang, Novi dengan lancang memegang tanganku. Aku sangat kaget dan cepat-cepat aku melepaskan genggamanya. Akupun langsung marah-marah. Aku melihat wajahnya memerah, mungkin dia malu sekali soalnya aku jarang sekali bicara apalagi marah. Aku ingin minta maaf, tapi dia langsung lari menuju kelasnya. Maaf ya Novi, bukan maksud untuk membuat kamu tersinggung. Tapi aku ingin kesucian tanganku tetap terjaga dan tanganmu juga harus kamu jaga, Novi. Mudah-mudahan dia bisa mengerti maksudku memarahi dia, agar tidak mengulangi perbuatanya itu. Aku memang dianggap aneh oleh teman-temanku. Mereka rata-rata sudah punya pacar dan selalu pegang-pegangan tangan. Sedangkan hanya aku yang menjomblo, bagaimana mau pacaran, menatap perempuan saja aku tak berani. Tapi aku bahagia dengan keanehan ini, aku masih bisa bertahan diatas godaan yang berat ini. Ayah, ibu, aku berjanji akan menaati nasehatmu menjadi anak yang sholeh. Ya Allah berikan kekuatanmu agar aku kuat menghadapi segala cobaanmu.

Pelajaran jam ketiga tadi, Matematika, tak biasanya aku ke kamar mandi. Ini pertama kali aku keluar dari kelas saat jam pelajaran, rasanya aneh sekali. Sewaktu keluar dari kamar mandi, aku melihat Marten dan Septi sedang pacaran. Tidak sengaja aku melihat Marten sedang mencium pipi Septi. Septi pun membalas ciuman itu ke pipi Marten. Melihat hal itu, darahku naik. Aku menghampiri mereka dan langsung membentak-bentak mereka, kalau perbuatan mereka itu adalah zina yang sudah besar. Tapi mereka malah mencemohku dan menganggapku orang yang aneh, "Makanya cari pacar!". "Iri kali? Haha..." dan tiba-tiba mereka berciuman tepat di depan mataku. Darahku makin memanas, cepat-cepat aku menghindar dari pandangan yang menjijikan itu. Aku memohon di dalam hati kepada Allah, agar mereka diberikan hidayah supaya mereka menemukan jalan yang lurus. Ternyata benar remaja adalah masa yang sangat rentang untuk melakukan hal-hal yang diluar batas, batas kehormatan diri. Aku benar-benar ingin muntah jika mengingat kejadian itu lagi. Ketika aku melupakan kejadian itu, dipikiranku malah terbayang wajah Juli. Astagfirullahulazim, setan memang ada dimana-mana. Sungguh cobaan masa remaja ini berat sekali.

Jika kemarin aku melihat hal yang menjijikan, maka hari ini aku melihat hal yang mengerikan. Ya, Janu dan Febri datang ke warnet tempatku bekerja layaknya preman, memakai celana yang robek-robek dan rokok yang masih menyala di mulutnya. Dalam pikiranku, bagaimana jadinya bangsa ini jika remajanya seperti mereka. Untung mereka tidak terlalu lama. setelah beberapa menit kepergian mereka, Juli datang. Aku yakin ini adalah kali pertama dia ke warnet, tidak mungkin dia yang kaya tidak punya modem. "Kak Juni? Kak Juni yang punya warnet ini?" tanyanya dengan senyum sambil menghampiriku. "Enggak, tapi cuma bekerja disini" jawabku sambil menunduk. "Kok masih bekerja, kan tinggal dua minggu lagi ujian nasional. Mm, enggak dimarahi sama orang tuanya entar?". "Orang tua udah meninggal. Kalau enggak kerja gak bisa makan, hehe..." aku memaksakan tersenyum. Kulihat dia menatapku cukup lama. "Kak, ada titipan untuk kakak" sambil menyodorkan sebuah amplop putih, setelah itu ia langsung pergi dengan begitu saja. Aku hanya diam ketika melihat isi dari amplop tersebut berisi uang seratus ribuan, entah ada berapa jumlahnya. Aku berniat untuk mengembalikannya besok.

Hari ini aku ke kelas Juli, namun ia tidak masuk sekolah, ia sakit. Aku menitipkan uang itu ke temanya, Mei, tapi dia menolaknya. Aku melihatnya sepintas, ia tersenyum, rambutnya lurus dan matanya sipit, dia satu-satunya yang beragama Khoi miliknghucu di sekolahku. Disamping Mei, seorang lelaki dengan rambut kriting dan berkalung salip seperti milik Desi, ia menghampiriku, "Kak Juni, titipin salam ke kakak Desi dari Okto!". Aku mengiyakanya dengan senyuman. Begitu harmonisnya hubungan Juli dengan teman-temannya, walaupun berbeda agama namun sepertinya mereka saling menghormati kepercayaan masing-masing. Aku teringat ketika aku masih kecil, teman-teman Islamku mengejek teman yang beragama Kristen. Walaupun aku Islam, aku sangat tidak menerima hal itu. Aku marah, tapi sayang pembelaanku itu hanya menuai cacian dari teman-teman Islamku. Aku pikir hal itu hanya terjadi pada anak kecil saja, tapi setelah aku SMA, ternyata semakin sering aku temukan hujat-menghujat antar agama. Apa yang harus kuperbuat, selain berdoa kepada Allah agar mereka diberikan jalan yang lurus. Dan seandanya aku ini presiden, aku akan mempenjarakan siapa saja yang menghina agama manapun. "Kakak tahu Juli sakit apa?" Mei membubarkan lamunanku. "Tidak" aku melihat ke arah Mereka yang tertunduk. Kulihat mulut Okto bergerak, suaranya hampir tidak terdengar, "Tumor otak". "APA? TUMOR OTAK?" bulu kudukku merinding. Aku bingung mau melakukan apa, baru kemarin aku melihatnya tersenyum, tapi mengapa waktu terasa cepat sekali berubah. Ingin rasanya aku berlari agar bisa melihat dia, tapi harus berlari kemana? Kakipun terasa berat untuk sekedar berjalan dan mulutku tiba-tiba terkunci rapat. Benar-benar hari ini dunia tersa hampa. "Ya Allah, jangan biarkan rasa cintaku lebih besar kepada Juli daripada kepadaMu" aku berucap lirih.

***

Bagaimana dengan ceritanya Juni? Sangat mengharukan kan? Sungguh saya tidak menyangka dalam diamnya ia menyimpan rasa kepada Juli. Tapi akhir-akhir ini dia tidak mengisi buku harianya setelah Juli sakit, tepat satu minggu yang lalu. Hari ini mungkin hari paling bahagia bagi Juni, karena saya melihat Juli sudah masuk sekolah.Saya tidak tahu mengapa wajahnya yang dulu kuanggap biasa saja, kini terlihat sangat menarik. Saya merasakan detak jantung yang tak karuan jika melihatnya, sepertinya saya telah jatuh cinta, jatuh cinta untuk pertama kali. yang akan menghianati sahabatku sendiri, Juni. Saya sadar, harus membuang perasaan ini jauh-jauh, tapi sangat sulit karena baru kali ini jantungku berdetak kencang, padahal cuma melihatnya saja, ya hanya melihatnya. Sangat berbeda ketika saya pacaran, saya mencium pipi wanitapun sama sekali tidak ada rasa dek-dekan. Hanya nafsu yang nyaman sesaat. Kali ini aku benar-benar meraskan persaan yang tumbuh dari dalam hati. Namun aku membenci perasaan ini, kenapa harus Juli? Apakah hanya Juli yang bisa membuat jantungku berdetak seperti ini?

Pada malam itu, saya mendapat sms dari April, entah dia pacar keberapaku. Ia mengajakku untuk balikan. Saya benar-benar pengen berubah, mengikuti jejak Juni. Rokok yang menjadi candu dunia remajaku perlahan kutinggalkan walaupun mulutku terasa gatal ketika ingin menghisap putung rokok yang manis itu. Tapi entah mengapa, aku malah menerima tawaran April untuk balikan, padahal saya pengen kayak Juni, menjadi alim. Sekitar pukul setengah sepuluh, saya pergi ke kost Juni. Kulihat senyumannya sangat menetramkan. Aku langsung memeluknya, air mataku tak terasa menetes, aku terisak dipundaknya. Aku teringat akan semua dosa-dosaku, aku malah menyia-nyiakan sahabatku. Kurasakan tangan Juni menepuk-nepuk punggungku dengan pelan. Malam itu aku merasa jauh lebih bahagia sekali. Aku tidak malu menangis, malah bahagia sekali. 

"Jun, aku pengen berubah" ucapku mantap. "Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah, Engkau telah menurunkan hidayahmu kepada sahbatku ini" ia menepuk pundakku dengan bangga. "Tapi aku sudah berbuat kesalahan, Jun. Tadi aku sudah terlanjur menerima balikan sama April dan...". " Dan apa sahabatku?" dia tersenyum. "Aku sepertinya jatuh cinta dengan Juli" kulihat Juni diam sangat lama. Sebenarnya aku tidak mau menyebutkan ini di depannya, namun aku harus jujur sepenuhnya. "Berdoalah kepada Allah, mintalah petunjuk" dia kembali tersenyum. "Agus, kamu bisa meminta kepada Allah jodohmu itu yang kayak gimana, bukan siapa jodohmu. Jodoh, rezeki, dan mati itu hanya Allah yang tahu. Tugas kita ikhtiar dan berdoa. Termasuk aku yang terkadang lalai dengan banyaknya godaan diusia remajaku ini" aku melihat betul kalau Juni adalah sahabat yang istimewa yang tidak boleh kusia-siakan. Aku menyesal, mengapa baru sekarang aku sadar untuk berubah. Tapi Juni selalu menyemangatiku, tidak ada kata terlambat untuk melakukan hal yang baik.

***

Sungguh Juli sangat merindukan sosok kakak Juni. Setiap malam, Juli bangun dan berdoa dalam sujud Juli memohon agar kak Juni dilindungi olehNya. Sekarang Juli sudah berumur tujuh belas tahun. Tapi sosok yang Juli tunggu-tuggu di ulang tahun Juli tidak kunjung memberikan kabar. Apa kak Juni lupa dengan Juli? Juli disini selalu mempikirkan kakak. Juli tahu kakak menuntut ilmu di Australai, tapi kenapa tidak sedikitpun ada rasa rindu kakak ke Juli, sebuah surat pun Juli belum pernah baca dari tulisan kak Juni. Seandainya kak Juni ada disini, ada hal yang pengen Juli beritahu ke kakak. Kalau Juli naik kelas akselerasi. Juli pengen berbagi kebahagiaan dengan kak Juni. Juli tahu, kak Juni sangat mandiri dan pantang menyerah. Jika Juli menjadi kakak, mungkin Juli akan menyerah duluan, tidak kuat menghadapi cobaan yang diberikan ke kakak. Dari kakak, Juli belajar untuk semangat sembuh dari penyakit yang sangat kecil kemungkinan sembuhnya. Juli bahagia kak, bisa melewati masa-masa kritis. Semua itu karena semangat yang kakak miliki. Apa kakak enggak merasa sudah berjasa bagi Juli? Apa kakak tidak mau mendengar terima kasih dari Juli? Air mata ini kak, sangat bersemangat menetes ketika mengingat kakak. Juli mungkin belum bisa menjadi wanita yang kakak jelasin, tapi Juli terus berusaha. Juli sekarang selalau memakai jilbab yang kakak saranin, pakaian yang kakak gambarin, ibadah yang kakak jelasin, sampai kesabaran yang selalu kakak nasehatin. Tapi kak, rasa rindu ini sudah diluar kesabaran Juli. Juli mohon, berikan kabar kak Juni ke Juli. Juli sangat kuatir sama kakak. Juli pengen membalas semua jasa-jasa kakak. Juli sayang kakak, sangat sayang.

***

Musim hujan Desember, ketika aku mengatakan perasaanku pada Juli pada hari ulang tahunya, aku malah diberikan sebuah surat yang basah dengan air mata. Aku sungguh tidak bisa menghilangkan rasa cinta Juli kepada Juni. Aku hanya tidak tega melihat Juli yang sangat menantikan Juni, sedangkan Juni sendiri telah meninggal saat tiba di Australia. Aku tidak berani mengungkapkan kebenaran itu, tapi mau bagaimana lagi, aku harus mengatakanya, "Juli, aku mohon maaf jika telah menyimpan rahasia terlalu lama". Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Juli dengan suara keras dan marah kepadaku, "Kak, kakak tahu kan kalau Juli sayang sama kak Juni. Kenapa kakak tega mengatakan itu ke Juli. Apa kakak pikir Juli bisa ngelupain kak Juni? Ngak kak!" perlahan air mata Juli menetes. Dengan suara gemetar, aku tetap mengeluarkan suara, "Sebenarnya.. Juni sudah pulang dengan tenang setiba dia di Australia". Kulihat wajahnya berubah menjadi keruh, matanya yang lembab kini semakin basah. "Apa? Enggak.. Engak mungkin.. Engak..." kulihat air mata Juli makin deras. Aku bia merasakan kepedihan di dalam hatinya. Bunga-bunga bulan ini yang bermekaran, seakan semakin membuat hati Juli merapuh.

Semenjak aku memberitahukan berita meninggalnya Juni, Juli kembali sakit. Aku sangat menyesal telah mengatakan tentang kepergian Juni. Kenapa dulu aku tidak pura-pura saja menulis surat ke Juli agar dia bahagia, bukankah aku akan bahagia jika dia bahagia. Hari ini aku menemaninya di rumah sakit, ia terlihat sangat pucat. "Assalamualaikum, kak Agus" dia tersenyum menyapaku, masih bisa tersenyum walau keadaanya seperti itu. Senyumnya itu membuatku semakin merasa takut, entah takut karena apa. "Maafkan saya Juli, saya tidak bermaksud untuk membuat kamu sakit lagi" aku tertunduk. "Enggak kok kak, Juli yang harusnya minta maaf karena selama ini kakak selalu nemenin Juli, tapi Juli selalu marahin kak Agus. Maafin Juli ya kak, soalnya Juli enggak lama lagi mau ketemu kak Juni" ia mengatakan dengan lirih sambil tersenyum, itu adalah senyuman pertamanya padaku, sangat-sangat indah. Tapi aku tak siap menerima kenyataan, ia dengan senyumnya yang masih mengembang menutup matanya dengan perlahan dan tenang. Hatiku yang sudah kuikat padanya, rasanya memberontak, tak mau kehilanganya. Dunia yang awalnya terasa indah berbunga, kini berguguran secara tiba-tiba. Awan-awan yang dilangit, tak lagi tampak indah dimataku, semua terlihat gelap. Aku berusaha ikhlas, tapi tak bisa, malah air mataku dan isakanku semakin keras keluar. Aku pun teringat kata Juni bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali. Aku bisa merasakan kebahagiaan Juni dan Juli di atas sana. Mungkin cinta mereka tidak pernah sampai di dunia tapi kuyakin cinta mereka bertemu dengan erat dan tidak akan pernah lepas, selamanya.



Mujib NS Jawahir
Lahir di Gunungsari pada tanggal 29 Desember 1995.

No comments: