The Teller Group - Sebuah Kisah


Boni hari ini begitu berbeda, di markas Band TTG atau The Teller Group. Ia seperti Boni yang mereka kenal sangat baik, kini seperti kerasukan setan. "Kenapa kalian tega hancurin band ini? Sibuk dengan urusan sendiri-sendiri! Ingat, kita merangkak bareng, susah bareng, senang bareng, kenapa kalian sekarang berubah, HA? Ucap Boni marah sambil menendang gitar yang ada di depanya. Roni yang merasa paling bersalah karena dia adalah vokalis yang harus selalu ada untuk penampilan TTG. "Maaf, Boni! Aku benar-benar-benar minta maaf!" ucap Roni menundukan kepala. Koni yang melihat Roni meminta maaf, ia pun memberanikan diri untuk minta maaf. "Kalian berdua mentang-mentang sudah punya pacar, tega ninggalin grup ini demi kebahagiaan kalian sendiri!". "Enggak, Boni! Enggak ada maksud untuk itu!" jawab Koni sambil meneteskan air mata. "Akh..." Bomi semakin marah. "Boni, mereka kan sudah minta maaf, mungkin mereka akan kembali kayak dulu" ucap Zoni, sahabat dekat Boni. "Diam kamu, Zoni! Kamu bela mereka yang terang-terang  hianati kita? Bayangin, Zoni! Cuma kita berdua yang latihan setiap hari, sedang mereka pergi jalan-jalan sama tu pacarnya, sakit hatiku, Zoni!" Boni memelankan suaranya, tetapi tetap dengan nada marah. "Assalamu'alaikum. Maaf, Boni! Saya terlambat, habis rapat mendadak tadi!" Ani datang dengan sangat rapi. "Kamu ya, Ani. Mentang-mentang udah jadi ketua organisasi, tega kamu menduakan band ini! Sungguh terlalu kamu! Dulu kamu yang paling aktif, tapi sekarang, terlambat aja kerjamu! Kalau kita mau bubaran, ayo bubaran!" Boni langsung keluar dari ruang studio. Ia menendang benda-benda yang ada dihadapanya. Sedang Koni hanya bisa menangis saja. "Sudah, Koni! Sabar-sabar, mungkin Boni sedang banyak masalah" ujar Roni sambil mengelus pundak Koni.

TTG akan tampil diacara pembukaan sebuah band ternama di Indonesia. Waktu mereka tinggal satu minggu, sedang Boni sampai sekarang tidak muncul-muncul. Boni adalah drummer TTG, sekaligus sebagai ketuanya. Ani yang melihat ketegangan itu, langsung berinisiatif menelpon Boni, tapi sayang nomor yang dihubungi tidak aktif. "Boni...Boni.. Kamu yang dulu ngajarin aku main bass, buat masuk di grup ini. Tapi kenapa sekarang kamu pengen bubarin ini grup? desah Ani tertunduk lesu. "Sudahlah Ani, Boni mungkin ingin sendiri dulu! ujar gitaris TTG, Zoni. "Ini semua salahku, aku terlalu menjauhi dia. Coba saja waktu itu aku....." Koni lagi-lagi menangis. Roni dengan setia memberikan pundaknya sebagai sandaran kepada Koni. Koni awalnya adalah sahabat paling dekat Boni, namun setelah ia mempunyai pacar, entah mengapa Boni tampak berubah. Koni sendiri ditubuh TTG sebagai lead gitar. "Teman-teman kita harus tetap latihan! O, iya. Aku bawa lagu ciptaan Boni. Judulnya, sebuah kisah" ucap Zoni. "Bagaimana kalau kita bawaain lagu ini, kren banget ini lagu!" ucap Roni tak percaya kalau Boni bisa menciptakan lagu. "Bener, sayang banget penciptanya sekarang gak ada. Untung ada Zoni yang udah tau kinci-kuncinya!" ujar Ani. Dan Koni hanya mengangguk pelan sambil membaca lirik lagunya yang menambah kesedihanya, menambah basah pipinya.

Sebuah Kisah
aku ingin bicara kepada air matasebuah kisah tentang sahabat yang hilangdulu ia datang dengan senyuman yang membahagiakankini ia pergi dengan senyum palsu yang menyakitkan
Sungguh, sakit hatikumelihat dia, yang kini telah sangat berubahPerih, perih hatikumendengar suara, suaramu yang kini jarang memanggil namaku
dan kini aku seperti tak asa artinya lagibiarkan aku sendiritak perlu ada yang peduli
Sungguh, sakit hatikumelihat dia, yang kini telah sangat berubahPerih, perih hatikumendengar suara, suaramu yang kini jarang memanggil namaku

Koni tidak bisa koentrasi memegang neck gitar, saat Roni menyanyikan lirik lagu milik Boni maka air matanya terjatuh, semakin Roni mengeraskan suaranya dibagian reffnya, maka semakin keras pula jatuh air matanya. "Boni, Maafin aku! ucap Koni.

Suasana di alun-alun kota sangat ramai, ditambah lagi teriakan histeris para fans fanatik dari band yang akan tampil. MC pun keluar dan menyemangati para penonton, para penonton pun semakin histeris dari sebelumnya. "Oke... sebelum kita melihat penampilan dari band idola kita, mari kita sambut band pembuka, The Teller Group!" para penonton pun bertepuk tangan riuh. TTG hanya berformat empat orang, minus drummer. Apa pun yang akan terjadi, mereka harus tetap tampil. "Lagu ini untuk sahabat terbaik kami, Boni!" ucap Roni sebelum bernyanyi. Roni pun mulai bernyanyi dengan diiringi musik oleh ketiga sahabatnya. Penonton yang tadinya riuh, kini tiba-tiba hening mendengar lagu mereka.
aku ingin bicara kepada air matasebuah kisah tentang sahabat yang hilangdulu ia datang dengan senyuman yang membahagiakankini ia pergi dengan senyum palsu yang menyakitkan
Tak terasa, air mata Roni jatuh dengan derasnya. Ia membayangkan betapa beratnya menjai Boni yang memimpin band mereka, yang memimpin persahabatn mereka, tapi mereka tak pernah menyadari itu. Para penonton mengangkat tangan dan mengayunkanya, menambah suasana sangat mengharuskan bagi Boni yang menyaksikan mereka. Ia pun berlari ke atas panggung dan....
Sungguh, sakit hatikumelihat dia, yang kini telah sangat berubahPerih, perih hatikumendengar suara, suaramu yang kini jarang memanggil namaku
Roni semakin tidak jelas mengucapkan lirik-lirik lagu. Tangan Koni terasa kaku memegang gitar, dan terus bergetar saat memetik senar gitar. Ani menahan agar ia tak menangis, tapi tetap saja. Sedang Zoni, ia langsung melepaskan gitarnya dan segera memeluk sahabatnya Boni. Boni sendiri tak tahan dengan suasana haru tersebut.
dan kini aku seperti tak asa artinya lagibiarkan aku sendiritak perlu ada yang peduli
Para penonton bertepuk tangan dengan sangat meriah. Mereka berlima akhirnya bisa bersama lagi. "Aku minta maaf ya teman-teman. Jujur aku gak bisa apa-apa tanpa kalian!" Aku sayang kalian semua" ucap Boni terbata-bata sambil menangis tangis. Mereka berlima pun tiba-tiba tertawa sambil berputar-putar dengan tangan saling memeluk pundak. Tak terasa air mata mereka samakin lama semakin banyak. Sungguh malam yang paling membahagiakan.
Sungguh, bahagia hatikumelihat dia, yang kini telah kembaliSenang, senang hatikumendengar suara, suaramu yang kini kembali memanggil namaku



Mujib NS Jawahir
Lahir di Gunungsari tanggal 29 Desember 1995.



1 komentar:

Ar Rahman mengatakan...

crtanya kyk beneran.. terharu bcx..