ALTER EGO




Oleh Mujib NS Jawahir

            Gedung tambang itu banyak dijauhi oleh orang-orang. Kepolian negara ini, sudah lepas tangan. Begitu juga dengan satuan khususnya. Tak ada yang mampu menanandingi kekuatan Kelompok Mel ini. Kelompok manusia-manusia kanibal, yang terorganisir.
            Regu A dari W.I. (interpol dunia) dipanggil untuk mengurusi kelompok Mel. Regu A berjumlah 30 orang dengan satu komandan. Tubuh mereka kekar namun sangat lincar berlari dan melompat. Sangat ahli menyamar dan mengendap-endap ke markas musuh. Tak ada yang berani membantah komandan, apapun tugas, harus dilaksanakan walaupun diminta untuk bunuh diri. Inilah W.I. Organisasi yang tidak diketahui oleh umum, bahkan petinggi-petinggi FBI ataupun CIA tidak mengtehaui adanya keberadaan W.I. ini. Mereka hanya dikira sebuah mitos. Interpol ganas nan mematikan.
            Kelompok Mel terus berjaga-jaga di sekitar gedung. Tangan komandan Regu A terangkat, menandakan lima detik dari sekarang penyergapan secara serentak dengan strategi yang sudah dirancang. 6 ke bagian barat, timur, utara, selatan, dan ke bagian inti ruangan. Jumlah mereka memang Cuma tiga puluh, sedangkan jumlah musuh ratusan. Ini terlalu mudah bagi mereka. Mereka pernah mengalahkan satuan tentara suatu negara hanya dalam satu jam pertempuran.

Sebelum Tidur! (Lucid Dream)




Oleh Mujib NS Jawahir

            “Nak, jangan lupa wudhu sebelum tidur.” Ibu Andre dari tadi menasehati yang tak pernah digubris olehnya. “Iya, Ma.. Nanti..” tapi Andre sudah berbaring aja.
            “Ranjangnya udah bersihin belum?” namun Andre masih tak acuh.
            “Jangan lupa baca do’a sebelum tidur” Ibnya sekali lagi menasehati. Bagaimana mau baca do’a sebelum tidur. Sholat aja mungkin ia lupa bacaanya. Apalagi do’a sebelum tidur. Nggak pentinglah itu.
            Andre baru lulus SMA. Besok ia akan liburan ke Villa keluarga Anto. Pesta kelulusan. Asyiknya.
***

Seutas Senyum Bidadari 2



Oleh Mujib NS Jawahir

            Hari ini hari wisudaku. Yang jadi waliku ummi (adalah ibu dari Kak Adnan). Aku memanngilnya Ummi karena aku sudah menganggapnya ummi sendiri. Bahkan ummi juga yang membantu biaya kuliahku beberapa kali. Orang tuaku sudah cerai, keluargaku yang lain sibuk dengan pekerjaanya. Mungkin juga mereka tak peduli denganku. Sudahlah, aku kan udah punya ummi.
            Ummi datang dengan cantik. Ia mendekapku dengan lama. Tak terasa air mataku menetes. Mengingat perjuanganku menjadi khadimah (pembantu perempuan) di rumah ustadzah. Bahkan aku dulu sama sekali tak pernah bermimpi kuliah. Tapi berkat Kak Adnan yang kala itu lulus S1. Meng-SMS-ku. “Niati harus kuliah juga”. Hanya itu SMS-nya. Tak ada lagi.
            Kak Adnan itu selalu menunduk dan menghindar bila bertemu denganku. SMS-ku jarang dibalasnya. Bahkan walaupun hanya menanyakan kabar. Sekarang Kak Adnan di Jogja, menyelesaikan S2-nya tahap akhir.
            Wisuda berjalan secara sederhana, aku kuliah di STIT Nurul Islam, mengambil jurusan PAI.
            Hari itu kebahagianku hanya separuh. Aku memikirkan masa depanku, siapakah yang akan menjadi suamiku?

Ayah dan si Putri Kecil




Oleh Mujib NS Jawahir

            Aku harus beli petasan, pasti mereka mau jailin aku lagi.Ucap Putri yang sudah berumur sembilan tahun itu.Dia adalah anak perempuan yang sedikit tomboi, lihat saja celananya selutut dan bajunya sesiku, dan coba lihat rambutnya sudah sebahu diikat seperti tokoh Genji (tokoh film Crow Zero). Kalau dilihat sepintas ia lebih mirip anak laki-laki. Maka dari itu teman-temannya bukan memangilnya Putri melainkan Putra. Dan Putri tidak merasa aneh dengan panggilan itu, malah ia suka. Soalnya lebih kedengan jago.Iya, dia adalah jagoan di kampung ini.Anak laki-laki saja hampir semuanya sudah dia pukul dan kalah telak dengan ilmu bela dirinya.Sungguh Putri kecil yang mengerikan.
            Benar saja, petasan itu mendarat tepat di bawah kakinya. Belum sempat ia lari, petasan itu meledak dan membuat kakinya sedikit memar. Dia tidak menangis, dia cuma meringis.Kemarahan sudah sampai kepalanya, Awas kalian. Gerutunya sambal mengendap-endap mencari persembunyian.Dan gerombolan anak laki-laki itu tampak kebingunan mencari Putri.Tawa mereka sempat terhenti.Namun ketika melihat sandal Putri dibalik tembok masjid, mereka tertawa lagi.Lalu mereka ramai-ramai melemparkan petasan yang sudah merea nyalakan ke arah sandal itu.Suara petasan meledakpun terjadi ramai-ramai.Mereka tertawa terbahak-bahak.

Seutas Senyum Bidadari






Oleh Mujib NS Jawahir


            “Niati..” sebuah panggilan yang hampir setiap hari kudengar. Segera saja aku turun ke bawah, karena kamarku ada di lantai atas. “Enggeh ustadzah…” aku baru membalasnya sesampai di depan ustadzah. “Bisa minta tolong simak santriwati nanti ba’da maghrib. Ustadzah ada janji keluar jadi tidak bisa nyimak.” “Enggeh ustadzah, insya Allah.” Sebenarnya aku takut bercampur bahagia mendengar permintaan ini. Ini pertama kalinya aku diminta menyimak setoran hapalan santiwati. Aaaa… aku harus gimana nih. Padahal sebelumnya-sebelumnya tugasku ya nyapu, ngepel, nyuci baju, dan tugas-tugas khadimah lainnya. Aku pun segera ke kamarku, entah aku mau apa ke kamarku.
            “Ti, ngaain mondar-mandir kayak gitu?” suara Ummi mengagetkanku. Beliau bukanlah ibu kandungku, tapi di Pondok ini beliau sudah kuanggap ibu sendiri, maka dari itu kupanggil saja ummi. Lumayan punya ibu tambahan. “Eh, Ummi.. Ati lagi bingung nih Mi… Diminta muraja’ah santriawti..” Bukannya bersimpati, ummi malah ke kamarnya, seakan menganggap tidak terjadi apa-apa. “Ummi mau kemana? Tolong bantu Ati Ummi” aku mencegah Ummi masuk ke kamarnya yang berada di samping kamarku. “Bibik dhuha dulu” jawab ummi dengan santai. Oh ya ummi ini selalu menyebut dirinya Bibi walaupun setiap hari aku selalu memanggilnya Ummi. Biarlah, aku sudah jatuh cinta padanya.

Jangan Pergi Lagi





Oleh Mujib NS Jawahir

            Namaku Ratna. Dan aku adalah manusia paling bahagia di dunia. Bagaimana tidak. Aku mempunyai seorang ayah yang rupawan dan dielu-elukan banyak orang. Semoga Ibu gak cemburu ya :D Aku juga mempunyai ibu yang selalu ada untukku. Pernah suatu ketika, ketika aku sedih. Ibu mendekapku. Mengelus rambutku. Lancar sekali air mataku digitukan sama Ibu. Aku seperti menjadi kecil lagi. Kamu yang tidak pernah dielus rambutnya, pasi tidak tahu bagaimana nikmatnya. Jangan cemburu sama aku ya. Aku ini anak baik yang saying sama orang tua. Makanya ayah ibuku sangat saying padaku. Aku juga punya seorang kakak, aduh, baik banget deh. Bayangkan saja. Pernah saat aku kelupaan tas (entah apa yang aku pikirkan saat itu, soalnya aku telah bangun pagi, untuk saja aku sedang halangan, jadi tidak sholat) kakakku yang sudah berangkat kuliah, kembali ke rumah dan mengantarkan task e sekolahku. Ketika sampai di sekolah, aku malah marahin kakakku karena lama bawa. Kakakku malah senyum-seyum aja. Tahu apa yang dia bilang, “Aduh, adekku cantik sekali ya pagi ini. Marahnya aja cantik banget. Apalagi senyumnya. Tuh.. dia senyum. Aduh malu-malu lagi”. Aduh, bagaimana aku tidak senyum kalau digitukan. Yah, akhirnya aku yang minta maaf. Kakakku memang kakak terbaik di dunia. Hidupku ini rasanya hidup paling bahagia.

Seperti Malam yang Tak Dapat Menolak Awan, Seperti Malam yang Selalu Merindukan Bulan




Oleh Mujib NS Jawahir



           Seperti hari-hari biasa, aku menempuh perjalanan yang melelahkan ini dengan jalan kaki. Aku tak mampu mengukur berapa jauh jaraknya antar rumahku yang di gunung dengan kampus tujuanku. Kakiku yang sudah kurus kering ini, terkadang tak mampu memopong tubuhku sendiri, ditambah bakul jualan di pundakku. Kulitku yang penuh dengan kerutan-kerutan usia. Rambutku yang putih dan kasar. Siapa yang peduli dengan nenek renta sepertiku, tanpa sanak keluarga di sekitarnya. Tapi aku bahagia dengan pilihanku ini. Suamiku yang penglihatannya yang tak lagi dapat berfungsi, terpaksa hanya menjaga rumah, yang tentu saja tak ada yang harus dijaga. Aku sangat mencintainya. Ia jauh lebih tua dariku, hampir sembilan puluh tahun kini usianya. Ia sudah sangat sulit untuk berjalan sendiri, walaupun dengan bantuan tongkat. Aku yang selalu setia memapahnya dengan kesabaran yang benar-benar sabar. Terkadang aku sangat ingin mengeluh, walau aku tahu tak ada yang bisa kukeluhkan. Ini pilihanku dan aku bahagia dengan pilihanku.

            Aku seorang penjual ubi rebus yang dimasak dari tungku api. Ada banyak ubi yang kami tanam di pekarangan rumah reot kami. Yang jika dari jauh, maka rumah kami terlihat seperti kandang ayam yang berada di tengah-tengah kebun ubi kayu. Karena keadaan yang tak memungkinkan, tak ada lagi yang menarik ubi-ubi kayu tersebut. Aku pun menanam ubi jalar ungu untuk membuat penghasilan baru. Maka dari itu aku hanya menjual ubi rebus. Dan itu, penghasilannya terkadang hanya untuk keperluan yang benar-benar pokok, itupun sangat jauh dari kata cukup. 

Ketika Jatuh Cinta


Oleh Mujib NS Jawahir



            Entah mengapa, semua kenangan masa lalu terngiang kembali di kepalaku. Pertama kali bertemu dengannya, dengan wajah garangnya menatapku. Tapi hatiku berkata lain, dia sedang menatapku. Kutatap balik matanya, satu lontaran kalimat yang kuingat kala itu darinya, “Mau goda saya? Mentang-mentang kamu cantik gitu?”. Baru kali ini aku dibilang cantik, aku sangat tersanjung. Kulirik lagi dia yang sedang berkacak pinggang, dengan mata yang menyala, menghampiriku tepat berapa inci di depanku, berteriak, “Tiarap!”.

            Namanya Muhsamar Irawan, ketua OSIS. Aku sangat berbeda dengan siswa lainnya, jika mereka memilih menghindar dari masalah, aku malah yang membuat masalah. Jam setengah enam tepat, siswa harus ada di sekolah, maka aku akan datang satu jam setelahnya. Aku bukannya telat bangun, aku sengaja. Soalnya yang menghukum anak-anak terlambat adalah kakak itu. Aku ingin lebih dekat dengannya, walau dalam keadaan yang selalu dibentak, yang terkadang air liurnya muncrat-muncrat membuatnya semakin terlihat lucu. Tiga hari sekolah kami mengadakan MOS, selama itu pula aku bertatap muka dengan kakak itu. Karena hal-hal seperti itu, di akhir MOS aku diberikan hadiah sebagai siswa yang tidak patut diteladani. Aku dikalungi kaleng-kaleng dan botol-botol bekas. Bangga sekali rasanya, yang mengalungi itu tidak lain adalah kakak itu.