Ayah dan si Putri Kecil




Oleh Mujib NS Jawahir

            Aku harus beli petasan, pasti mereka mau jailin aku lagi.Ucap Putri yang sudah berumur sembilan tahun itu.Dia adalah anak perempuan yang sedikit tomboi, lihat saja celananya selutut dan bajunya sesiku, dan coba lihat rambutnya sudah sebahu diikat seperti tokoh Genji (tokoh film Crow Zero). Kalau dilihat sepintas ia lebih mirip anak laki-laki. Maka dari itu teman-temannya bukan memangilnya Putri melainkan Putra. Dan Putri tidak merasa aneh dengan panggilan itu, malah ia suka. Soalnya lebih kedengan jago.Iya, dia adalah jagoan di kampung ini.Anak laki-laki saja hampir semuanya sudah dia pukul dan kalah telak dengan ilmu bela dirinya.Sungguh Putri kecil yang mengerikan.
            Benar saja, petasan itu mendarat tepat di bawah kakinya. Belum sempat ia lari, petasan itu meledak dan membuat kakinya sedikit memar. Dia tidak menangis, dia cuma meringis.Kemarahan sudah sampai kepalanya, Awas kalian. Gerutunya sambal mengendap-endap mencari persembunyian.Dan gerombolan anak laki-laki itu tampak kebingunan mencari Putri.Tawa mereka sempat terhenti.Namun ketika melihat sandal Putri dibalik tembok masjid, mereka tertawa lagi.Lalu mereka ramai-ramai melemparkan petasan yang sudah merea nyalakan ke arah sandal itu.Suara petasan meledakpun terjadi ramai-ramai.Mereka tertawa terbahak-bahak.

Seutas Senyum Bidadari






Oleh Mujib NS Jawahir


            “Niati..” sebuah panggilan yang hampir setiap hari kudengar. Segera saja aku turun ke bawah, karena kamarku ada di lantai atas. “Enggeh ustadzah…” aku baru membalasnya sesampai di depan ustadzah. “Bisa minta tolong simak santriwati nanti ba’da maghrib. Ustadzah ada janji keluar jadi tidak bisa nyimak.” “Enggeh ustadzah, insya Allah.” Sebenarnya aku takut bercampur bahagia mendengar permintaan ini. Ini pertama kalinya aku diminta menyimak setoran hapalan santiwati. Aaaa… aku harus gimana nih. Padahal sebelumnya-sebelumnya tugasku ya nyapu, ngepel, nyuci baju, dan tugas-tugas khadimah lainnya. Aku pun segera ke kamarku, entah aku mau apa ke kamarku.
            “Ti, ngaain mondar-mandir kayak gitu?” suara Ummi mengagetkanku. Beliau bukanlah ibu kandungku, tapi di Pondok ini beliau sudah kuanggap ibu sendiri, maka dari itu kupanggil saja ummi. Lumayan punya ibu tambahan. “Eh, Ummi.. Ati lagi bingung nih Mi… Diminta muraja’ah santriawti..” Bukannya bersimpati, ummi malah ke kamarnya, seakan menganggap tidak terjadi apa-apa. “Ummi mau kemana? Tolong bantu Ati Ummi” aku mencegah Ummi masuk ke kamarnya yang berada di samping kamarku. “Bibik dhuha dulu” jawab ummi dengan santai. Oh ya ummi ini selalu menyebut dirinya Bibi walaupun setiap hari aku selalu memanggilnya Ummi. Biarlah, aku sudah jatuh cinta padanya.

Jangan Pergi Lagi





Oleh Mujib NS Jawahir

            Namaku Ratna. Dan aku adalah manusia paling bahagia di dunia. Bagaimana tidak. Aku mempunyai seorang ayah yang rupawan dan dielu-elukan banyak orang. Semoga Ibu gak cemburu ya :D Aku juga mempunyai ibu yang selalu ada untukku. Pernah suatu ketika, ketika aku sedih. Ibu mendekapku. Mengelus rambutku. Lancar sekali air mataku digitukan sama Ibu. Aku seperti menjadi kecil lagi. Kamu yang tidak pernah dielus rambutnya, pasi tidak tahu bagaimana nikmatnya. Jangan cemburu sama aku ya. Aku ini anak baik yang saying sama orang tua. Makanya ayah ibuku sangat saying padaku. Aku juga punya seorang kakak, aduh, baik banget deh. Bayangkan saja. Pernah saat aku kelupaan tas (entah apa yang aku pikirkan saat itu, soalnya aku telah bangun pagi, untuk saja aku sedang halangan, jadi tidak sholat) kakakku yang sudah berangkat kuliah, kembali ke rumah dan mengantarkan task e sekolahku. Ketika sampai di sekolah, aku malah marahin kakakku karena lama bawa. Kakakku malah senyum-seyum aja. Tahu apa yang dia bilang, “Aduh, adekku cantik sekali ya pagi ini. Marahnya aja cantik banget. Apalagi senyumnya. Tuh.. dia senyum. Aduh malu-malu lagi”. Aduh, bagaimana aku tidak senyum kalau digitukan. Yah, akhirnya aku yang minta maaf. Kakakku memang kakak terbaik di dunia. Hidupku ini rasanya hidup paling bahagia.

Seperti Malam yang Tak Dapat Menolak Awan, Seperti Malam yang Selalu Merindukan Bulan




Oleh Mujib NS Jawahir



           Seperti hari-hari biasa, aku menempuh perjalanan yang melelahkan ini dengan jalan kaki. Aku tak mampu mengukur berapa jauh jaraknya antar rumahku yang di gunung dengan kampus tujuanku. Kakiku yang sudah kurus kering ini, terkadang tak mampu memopong tubuhku sendiri, ditambah bakul jualan di pundakku. Kulitku yang penuh dengan kerutan-kerutan usia. Rambutku yang putih dan kasar. Siapa yang peduli dengan nenek renta sepertiku, tanpa sanak keluarga di sekitarnya. Tapi aku bahagia dengan pilihanku ini. Suamiku yang penglihatannya yang tak lagi dapat berfungsi, terpaksa hanya menjaga rumah, yang tentu saja tak ada yang harus dijaga. Aku sangat mencintainya. Ia jauh lebih tua dariku, hampir sembilan puluh tahun kini usianya. Ia sudah sangat sulit untuk berjalan sendiri, walaupun dengan bantuan tongkat. Aku yang selalu setia memapahnya dengan kesabaran yang benar-benar sabar. Terkadang aku sangat ingin mengeluh, walau aku tahu tak ada yang bisa kukeluhkan. Ini pilihanku dan aku bahagia dengan pilihanku.

            Aku seorang penjual ubi rebus yang dimasak dari tungku api. Ada banyak ubi yang kami tanam di pekarangan rumah reot kami. Yang jika dari jauh, maka rumah kami terlihat seperti kandang ayam yang berada di tengah-tengah kebun ubi kayu. Karena keadaan yang tak memungkinkan, tak ada lagi yang menarik ubi-ubi kayu tersebut. Aku pun menanam ubi jalar ungu untuk membuat penghasilan baru. Maka dari itu aku hanya menjual ubi rebus. Dan itu, penghasilannya terkadang hanya untuk keperluan yang benar-benar pokok, itupun sangat jauh dari kata cukup. 

Ketika Jatuh Cinta


Oleh Mujib NS Jawahir



            Entah mengapa, semua kenangan masa lalu terngiang kembali di kepalaku. Pertama kali bertemu dengannya, dengan wajah garangnya menatapku. Tapi hatiku berkata lain, dia sedang menatapku. Kutatap balik matanya, satu lontaran kalimat yang kuingat kala itu darinya, “Mau goda saya? Mentang-mentang kamu cantik gitu?”. Baru kali ini aku dibilang cantik, aku sangat tersanjung. Kulirik lagi dia yang sedang berkacak pinggang, dengan mata yang menyala, menghampiriku tepat berapa inci di depanku, berteriak, “Tiarap!”.

            Namanya Muhsamar Irawan, ketua OSIS. Aku sangat berbeda dengan siswa lainnya, jika mereka memilih menghindar dari masalah, aku malah yang membuat masalah. Jam setengah enam tepat, siswa harus ada di sekolah, maka aku akan datang satu jam setelahnya. Aku bukannya telat bangun, aku sengaja. Soalnya yang menghukum anak-anak terlambat adalah kakak itu. Aku ingin lebih dekat dengannya, walau dalam keadaan yang selalu dibentak, yang terkadang air liurnya muncrat-muncrat membuatnya semakin terlihat lucu. Tiga hari sekolah kami mengadakan MOS, selama itu pula aku bertatap muka dengan kakak itu. Karena hal-hal seperti itu, di akhir MOS aku diberikan hadiah sebagai siswa yang tidak patut diteladani. Aku dikalungi kaleng-kaleng dan botol-botol bekas. Bangga sekali rasanya, yang mengalungi itu tidak lain adalah kakak itu.

Aku Ingin Mimpiku Nyataku



Malam itu, hembusan angin yang menusuk tulangku tak kuhiraukan. Dedaunan yang saling bergesek semakin menenangkan malamku. Desa Sidera yang berdekatan dengan Poso ini terasa aman malam ini, tak ada suara tembakan seperti satu bulan yang lalu. Aku tinggal di persawahan tengah hutan daerah Poso. Disini aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan kedua adikku, hanya mereka saja, tak ada tetangga di sekeliling rumaku. Besok adalah pengambilan ijazah SMP. Ayah dan ibuku adalah lulusan pondok pesantren, maka setiap maghribnya aku menyetor hapalanku pada ibuku. Hapalanku masih di Surah Al-Ma’idah. Impian besarku menghafal tiga puluh juz Alquran. Dan aku percaya, semua itu bisa kucapai, aku yakin Allah Mahamendengar dan selalu mendengar doaku. Aku menatap bulan kuartil awal dengan hiasan bintang di sekelilingnya. Bulan adalah sahabatku berkeluh kesah setiap malam, bagiku dia adalah pendengar yang sangat baik. Terkadang saat bulan baru aku terus mencari bulan, aku tak mengerti mengapa setiap bulan baru aku sangat merindukan bulan.

EKAMATRA




Taruh mimpimu di langit tertinggi, gapai dia perlahan.
Dan ketika terjatuh, bangkit lagi. Ulangi sampai kau tak bisa berdiri.

*****
                Loleng, sebuah desa yang mungkin kamu tidak tahu dimana. Aku tinggal di sini, bersama ayah ibuku dan ketiga adikku. Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kamu pasti tahu Sungai Mahakam, sungai terbesar di Indonesia. Kau tahu aku sekarang sekolah dimana? Aku sekolah di SMAN 1 Kota Bangun, tepat di samping sungai raksasa itu.
Hidup ini seperti garis liku-liku yang terus memanjang dan tak pernah kembali ke awal, seperti halnya dimensi satu dimana garisnya tak pernah bersentuhan, itulah filosofi ekamatra. Sama seperti diriku dalam memandang hidup, terus menatap kedepan dan tak pernah menyesal akan masa lalu. Aku masih kelas sepuluh, lulusan SMPN 5 Kota Bangun. Aku memang tinggal di desa yang terbelakang, tak ada warnet, wartel, warkop, bahkan warteg. Tapi aku masih bisa berbangga di Loleng ini, karena ada pasar, walaupun itu hanya satu kali dalam seminggu, malam Rabu. Kalau kamu ke desaku, rata-rata rumahnya berkayu ulin, kayu paling kuat dan mahal. Rumahku, tidak perlu kamu bayangkan, rumah panggung, hanya dari papan-papan bekas dan punya banyak celah, atapnya ilalang yang sudah bolong sani-sini, dan pondasinya dijadikan rumah oleh rayap. Walaupun aku tinggal di desa terpencil ini, tapi cita-citaku sangat tinggi. Aku hanya heran, kenapa di desa anak-anak tidak punya cita-cita seperti anak-anak di kota.

Juni & Juli



Oleh Mujib NS Jawahir


Pernah ngerasain jatuh cinta yang terpendam? Hm, kalau saya sih sampai sekarang belum pernah ngersain jatuh cinta. Tapi saya punya banyak mantan. Saat ini saya lagi duduk di kelas XII. Nggak lama lagi ujian nasional. Tapi, saya tidak akan menceritakan pengalaman tentang mantan-mantan saya. Tapi, saya akan bercerita tentang sahabat saya, Juni. Nama saya Agus, lelaki tampan dan pintar menurut saya, hehe. Saya sangat suka bergaul dengan berbagai kalangan. Sedangkan Juni, bisa dibilang cuma saya temannya yang paling dekat. Soalnya dia pendiam dan pemalu banget. Dan bagaimana jadinya kalau dia jatuh cinta sama adik kelas yang namanya sangat terkenal di SMA kami. Namanya, Juli. Walaupun baru kelas X, tapi Juli sudah banyak membanggakan sekolah kami. Bagi saya wajahnya tidak secantik mantan-mantan saya yang berkulit putih mulus dan berambut hitam lembut. Soalnya, kulitnya tidak terlalu putih juga tidak terlalu hitam. Bisa dibilang putih standar untuk orang Indonesia. Rambutnyapun tidak pernah kulihat, karena selalu terbungkus oleh jilbabnya. Saya hanya aneh saja dengan Juni. Padahal banyak banget yang suka sama dia, apalagi si Novi, hampir tiap hari dia datang ke kelas kami buat ngasih kado ke Juni. Saya sih bahagia, soalnya isinya jajajn dan selalu saya yang makan, hehe. Kalau saya jadi Juni, saya bakal pacarin semua cewek yang suka sama saya dan Juli, dia bakal menyesal tidak pernah mendekati saya. Tapi akhirnya saya mengetahui mengapa dia sangat mengagumi Juli. Bukan karena dia cantik ataupun pintar, tapi karena Juni kagum padanya, ya cuma kagum. Masih bingung? Begini, saya tahu ceritanya dari buku hariannya. Tentunya saya baca diam-diam. Jangan kasih tahu ya kalau saya curi buku harianya, nanti dia malu, ckck. Begini cerita yang ia tulis.