Diary Prima: Rapat Akbar, Sebuah Usaha Perbaikan Akbar




 Bismillahirrohmanirrohim.

Segala syukur Allah subhana wa ta’ala. Berkat karunia-Nya lah kita masih bias membaca tulisan ini :)

Saya ingin bercerita, bagaimana Rapat Akbar ini dimulai. Saat Januari kemarin konsep Rapat Akbar sangat sederhana sekali. Hanya evaluasi secara garis besar dan penentuan apa yang dilakukan bulan depan. Yang hadir pun hanya memenuhi secret UKM Prima. Lalu saya berfikir, bagaimana kalua LPJ bulannya dilaporkan di Rapat Akbar. Jadi sebelumnya, mulai Prima 8 (UKM Prima angkatan kedelapan) ada namanya LPJ bulanan. Dan hasilnya, masih kurang stabil. Karena kita LPJ-nya dari BPD (Badan Pengurus Departemen) yang terdiri dari Ketua Departemen (Kadept) Sekretaris Departemen (Sekdept), Bendahara Departemen (Bendept), Kepala Divisi (Kadiv), Koordinator Bidang (Korbid), dan PI (Pengurus Inti) yang terdiri dari Ketum (Ketua Umum), Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum.

Saya akan membahas sedikit tentang kritik saran yang diberikan untuk UKM Prima saat rapat akbar.

Sepertinya ini seru kalua disimak :)

#1 – TENTANG MERASA CANGGUNG DI PRIMA
“Selama menjadi anggota Prima saya merasa canggung dan merasa asing…”
“Selama saya bergabung menjadi anggota Prima, saya merasa belum terikat atau belum terlalu saling mengenal”

Ketika Mimpi Besar itu Meletup



             Pernah mendengar saat Coke-nya Coca-Cola pasarnya menjadi berantakan gara-gara ada Pepsi Chalange? Siapakah dalangnya? Di adalah John Sculley, merupakan CEO termuda Pepsi dala sejarah, umurnya kala itu tiga puluh tahun.  Dimana-mana orang-orang membandingkan rasa Pesi dan Coke. Sebuah strategi yang tak pernah terpikirkan oleh pendahulunya. Kala itu Pepsi berada dalam kejayaan.
            Sedangkan Apple saat itu masih dalam kondisi yang hampir brangkrut. Adalah hal yang mungkin terlalu nekat, Stave Jobs kala itu langsung menawarkan si John Sculley bekerja di Apple. Silahkan membayangan menjadi seorang John Sculley, yang berhasil membawa kejayaan Pepsi, malah ditawarkan pindah ke perusahaan Apple yang hampir bangkrut. Namun apa yang membuat John Sculley tak berkutik untuk menolah ajakan Stave Jobs? “Apakah kau mau seumur hidupmu hanya menjual air gula? Atau tak maukah kau mengubah dunia?”. Ketika ia di Pepsi: uang yang banyak, gaji yang besar, posisi yang tinggi, semuanya takluk di tangannya. Namun Ya, sang brilian itu, takluk dengan gairah itu. Gairah dengan tantangan itu. Tantangan mengubah dunia.          Dan benar saja, Apple menjelma menjadi pengubah dunia. Menerobas ke segala segmen. Kehidupan dunia pun tak lagi seperti dulu. Banyak sekali inovasi yang Apple lakukan, yang tanpa sadar berpengaruh terhadap pola hidup kita.
            Satu bulan lebih aku memimpin Prima. Terlalu lambat menurutku. Menebar semangat itu, ternyata tak semudah yang ada dalam bayangan. Tahu gak, aku selalu membayangkan anak-anak Prima mempunyai cita-cita yang tinggi, semngat yang terus berkobar. Ibaratnya prajurit-prajurit perang, mereka siap menaklukan apapun yang menghadang mereka. Mungkin aku saja yang sebagai komando, yang tidak terlalu maksimal membimbing.

Bersamamu, Prima. Satu Bulan Ini. Perjuangan Baru Saja Dimulai.



Bismillahirrohmanirrohim.

            Yang pertama ingin aku ucapkan adalah permohonan maaf. Pasti banyak kesalahan yang aku buat satu bulan ini. Perjalanan satu bulan yang terasa sangat panjang. Aku teringat kisah Abu Bakar radhiyallahu anhu yang tetap tenang dan menenangkan ketika banyak dari para sahabat kecewa, bersedih, sampai marah. Yaitu ketika Rasulullah wafat. Bukannya ia tidak sedih, saat melihat Rasulullah berbaring tanpa bisa membuka mata lagi, ia menangis, ia juga sedih. Namun di luar sana, ada sahabat yang berteriak lantang, tidak terima ada yang menyebut bahwa Rasulullah meninggal. Semua terpukul. Semua berduka. Abu Bakar dengan tenang keluar, ia bukan hanya mampu bersikap tenang, tapi juga mampu menenangkan. Maaf jika satu bulan ini aku tak seperti itu. Padahal ada kesempatan untuk bersikap seperti itu. Maafkan aku. Sungguh, cemburu rasanya ketika Abu Bakar radhiyallahu anhu bisa menerapkan rasa sabar itu. Bagaimana Umar radhiyallahu anhu yang sangat tegas akan hal-hal mudarat, tapi begitu lembut ketika mendapat hal-hal kebaikan. Padahal aku juga punya kesempatan selama satu bulan ini. Ada tumbuh cemburu pada Umar radhiyallahu anhu yang mampu bersikap tegas dalam semua kondisi, bahkan terjebit sekalipun.Dan betapa ia menjadi orang yang gampang sekali terharu dan menangis ketika mengetahui bahwa ia berbuat salah. Sungguh, sifat itu, aku juga ingin memilikinnya. Tentang Utsman radhiyallahu anhu yang dermawan, yang berhasaja. Kepada siapapun, sederhana, tapi masya Allah, selalu punya hal-hal yang bisa dibagikan. Padahal aku juga punya kesempatan dalam satu bulan ini. Cemburu itu semakin berbuncah saja. Adalah sosok Ali radhiyallahu anhu yang memiliki kuantitas dan kualitas ilmu pengetahuan. Aku pun seharusnya bisa belajar banyak dalam satu bulan ini, mengumpulkan sebanyak-banyaknya ilmu. Lagi-lagi cemburu itu, terpanah kepada mereka yang selalu bisa membuat kepribadian yang dapat diteladani. Dan. Seperti Rasulullah. Baginda terbesar. Yang keteladan manusia tertuju padanya. Yang mana ia sudah tahu masuk syurga, tapi malah tetap sholat sampai kakinya bengkak. Apakah kita tidak cemburu? Beliau pemimpin terbesar, semua umat. Tapi ibadahnya? Jelaslah cemburu itu membakar dalam hati. Maafkan aku. Maafkan aku. Selama satu bulan ini tak bisa menjali teladan sesungguhnya.

HUJAN (Jangan Pergi Lagi)




HUJAN (Jangan Pergi Lagi)
Oleh Mujib NS Jawahir

            Namaku Ratna. Dan aku adalah manusia paling bahagia di dunia. Bagaimana tidak. Aku mempunyai seorang ayah yang rupawan dan dielu-elukan banyak orang. Semoga Ibu gak cemburu ya :D Aku juga mempunyai ibu yang selalu ada untukku. Pernah suatu ketika, ketika aku sedih. Ibu mendekapku. Mengelus rambutku. Lancar sekali air mataku digitukan sama Ibu. Aku seperti menjadi kecil lagi. Kamu yang tidak pernah dielus rambutnya, pasi tidak tahu bagaimana nikmatnya. Jangan cemburu sama aku ya. Aku ini anak baik yang saying sama orang tua. Makanya ayah ibuku sangat saying padaku. Aku juga punya seorang kakak, aduh, baik banget deh. Bayangkan saja. Pernah saat aku kelupaan tas (entah apa yang aku pikirkan saat itu, soalnya aku telah bangun pagi, untuk saja aku sedang halangan, jadi tidak sholat) kakakku yang sudah berangkat kuliah, kembali ke rumah dan mengantarkan task e sekolahku. Ketika sampai di sekolah, aku malah marahin kakakku karena lama bawa. Kakakku malah senyum-seyum aja. Tahu apa yang dia bilang, “Aduh, adekku cantik sekali ya pagi ini. Marahnya aja cantik banget. Apalagi senyumnya. Tuh.. dia senyum. Aduh malu-malu lagi”. Aduh, bagaimana aku tidak senyum kalau digitukan. Yah, akhirnya aku yang minta maaf. Kakakku memang kakak terbaik di dunia. Hidupku ini rasanya hidup paling bahagia.

Bagaimanakah Sikap Kita Kepada Pemimpin? (Pertanyaan yang Jarang Dipertanyakan)



Mungkin harus di awal kayaknya saya tulis refrensi tulisan ini: alhujjah volume 49 Thn ke-13. Biar gak ngerasa sombong (akunya), dan yang membaca gak ngerasa kalau tulisan ini untuk mendukukng diri sendiri. Jangan membaca karena penulisnya, tapi karena manfaatnya.  
        
Kalau kita nanya, gimana sih sikap kita sama qiyadah? Maka yang harus kita baca adalah Al-Qur’an dan hadits, bukan Google atau buku sekuler lainnya (buku yang lebih mementingkan logika). Dalam Al-Qur’an dan hadits sudah jelas bagaimana seharusnya mereka menyikapi seorang pemimpin. Bahkan ada kewajiban bagi yang dipimpin. Nah lo, kayaknya kita selalu meminta hak kita, terus menerus menyuruh pemimpin melaksanakan kewajibannya (bersikap adil, dll). Malah kita lupa dengan kewajiban kita. Adapun beberapa kewajiban itu yang terkadang kita sepelekan (atau malah tidak mau dilaksanakan):
1.      Menaati pemimpin kecuali dalam maksiat kepada Allah
Wih, ini nih yang paling sering. Ada banyak pemimpin yang dizholimi, terus disalahkan. Kasih kebijakan ini, dicerca habis-habisan. Membuat keputusan itu, dikritik sampai gak berkutik. Bahkan dalam berbuat kebaikan pun, masih dibilang yang tidak-tidak. Masya Allah. Hm, kecil saja contohnya. Ketua organisasi kita dah kita lihat. Pernah gak kita dengan ikhlas mengerjakan apa yang diperintahkan (ingat, diperintahkan)? Kayaknya jarang deh, bahkan gak pernah. Malah kita banyak alasan malah :D

Padahal Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah kalian” (Q.S. An-Nisa’: 59)

Hm, ditambah lagi dengan sebuah hadits. Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Siapa yang taat padaku, dia telah taat kepada Allah, dan siapa yang menyelisihiku, dia telah menyelisihi Allah. Dan siapa yang taat kepada pemerintah, dia telah taat kepadaku, dan siapa yang menyelisihi pemerintah dia telah menyelisihiku” (H.R. Muslim)

Nah nah nah. Menohok sekali memang. Intinya, kalau kita menyelisihi pemimpin kita, maka kita menyelsisihi Allah. Betapa beratnya. Tapi apa yang terjadi pada diri kita, bahkan untuk diminta tolong satu saja, kita malah mengatakan “SAYA GAK SUKA DIPERINTAH!”. Wih wih, serem amat. Padahal sudah jelas bahwa kita harus taat kepada pemerintah. Gimana sih? :D

Dan ingat lagi, kita harus taat dalam hal kebaikan saja ya. Sesaui sabda Rasulullah:
“Sesungguhnya ketaatan itu hanya pada hal yang baik” (H.R. Bukhari)


2.      Menasehati Pemimpin Kalau Pemimpin Jauh dari Ridho Allah

Tahu gak, pemimpin itu juga manusia. Jadi wajar jika mereka banyak berbuat kesalahan. Apakah solusinya dengan mencaci maki, mengata-ngatakan, dan apa lagi ya yang sering kita lakukan? Oh iya, membencinya, atau mungkin ada rasa tidak suka dengan dia. Masya Allah. Beristigfarlah. Kalau tahu pemimpin kita di luar jalur, maka tugas kita itu menasehatinya. Sesuai sabda Rasulullah:
“Sesungguhnya Allah meridhoi tiga hal yang kalian lakukan, salah satunya adalah senantiasa menasehati siapapun yang Allah berikan kekuasaan atas urusan kalian (termasuk pemerintah)” (H.R. Ahmad).

Namun kita salah kaprah dalam menasehati. Terkadang kita menasehati mereka saat sedang rapat, atau sedang syuro’ atau mungkin saat sedang kumpul dengan yang lain. Tahu gak itu, menasehati orang lain dalam ramai itu hanya akan mempermalukan orang yang kita nasehati. Maka betapa indahnya Islam mengatur hal nasehat-menasehati. Sebagaimana sabda Rasulullah:
“Siapa yang ingin menasehati pemerintah, hendaknya ia jangan menampakkannya terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia memegang tangannya dan berdua dengannya, apabila nasehatnya diterima maka itulah yang diinginkan, dan jika tidak, dia telah melakukan kewajibannya” (H.R. Ahmad)

Dua Bulan dengan Tafa (Dari Menangis Takut, sampai Haru)

Judulnya kok dramatis banget ya.. Ah, tidak perlu kita bicarakan yang itu :D

Bismillah...

Hari itu, ketika SKI At-Tafakkur mengadakan Musyawarah Umum, aku didapuk menjadi Co. Acara. Uh, rasanya (biasa saja, hehe). Dan ketika jadi pimpinan presidium, aku sama sekali tak mengharapkan nama itu muncul. Bahkan ketika aku menolak, tetap saja ditaruh. Sama sekali tak ada rasa yang aneh-aneh saat itu.

Dan tibalah ketika DPO dan LDK memasuki ruangan untuk mengumumkan qiyadah baru. Tahu gak saat itu aku sedang apa? Aku sedang menyuting proses deklarasi itu, entah pakai hp siapa. Bayangkan, saya ada di depan, megang hp. Sama sekali tidak menghiraukan siapa yang disebut namanya, yabg sayup-sayup aku dengar saat itu adalah, Akh Hadori menjadi Co. Kaderisasi.. Ah, dalam hatiku berkata pasti ada yang lebih baik (padahal aku sudah mengira bahwa akh Hadori jadi qiyadah selanjutnya). Lalu disebutlah sekretaris, dan qiyadah baru. Saat itu aku masih fokus ke kamera hp. Sedangkan yang lain bertakbir, Allahu Akbar! Allahu Akbar! Aku yang masih bingung, menanyakan akhi yang disamping, "siapa yang jadi ketua?" beliau hanya menunjuk. Samping lagi, sama juga. Lalu aku mulai takut, "Namanya?" sambil masih memegang hp, masih merekam. "Antum, akh". Jawabnya dengan senyum. Dan hp itu, dengan perlahan aku berikan kepada akhi yang disamping. Rasanya, Bumi sedang menindis tubuhku. Berat sekali. Teringat dosa, teringat kesalahan, teringat betapa angkuhnya aku di dunia. Pantaskah aku jadi qiyadah? Satu bulir air mata menetes, ingin rasanya kutahan. Namun semakin ditahan, semakin deras ia bertahan agar keluar. Akh, biarlah air mata itu keluar, rasanya semakin berat. Ingin rasanya tidak terisak, akh.. sudahlah.. aku malu kepada siapa? Aku malu kepada-Mu ya Allah. Pantaskah aku? Aku sangat takut... Ini amanah yang sangat berat.

Tangis itu ingin aku ingat selalu. Tanggung jawab kepada kepengurusan baru. Harapan-harapan baru, yang entah mengapa terasa melebihkan. Padahal aku hanyalah seorang mahasiswa biasa, yang memang sedang belajar dan belajar.

Aku teringat ketika pertama kali memasuki At-Tafakkur. Saat itu kegiatan KILAT (Kajian Ilmiah At-Tafakkur) 2015.. Walaupun hanya didapuk jadi anggota biasa, namun anehnya saya diberi banyak amanah, mulai dari persiapan sampai acara. Kayak ngerasa jadi ketua panitia, hehe. Maka dari situ dalam hati saya, ini At-Tafakkur sangat lemah keorganisasiannya, saya harus bertahan. Niat saat itu, hanya untuk bertahan, tidak lebih. Ya, bertahan jadi anggota biasa, yang hanya membantu sebisa mungkin.

Dan sekarang aku berada pada posisi yang sama sekali tak terpikirkan. Beginilah rasanya jadi qiyadah, yang banyak dikritik. Merasakan ketika ia berbuat kesalah, kata-katanya menyinggung, perbuatannya salah, maka ada banyak lontaran (baik dari media sosial, SMS, dan langsung) kepada dirinya. Sedangkan ketika ia membuat perubahan, itu tertutup oleh kesalahan-kesalahannya itu. Ah, aku menyesal terlalu menyalahkan qiyadah-qiyadah sebelumnya. Aku belum tahu bagaimana tanggung jawab itu. Maka dari itu, ketika ada yang mengkritikku atau bahkan sakit hati kepadaku, aku sama sekali tidak sakit hati kepada mereka. Aku malah merasa bersalah, kenapa aku tidak bisa membuat mereka nyaman denganku? Ingin aku menyalahkan diriku lagi dan lagi.

Mau Tulis Apa Hari Ini?

Oleh Mujib NS Jawahir

Mau tulis apa hari ini?
ketika tanganku baru bisa digerakkan
kau menggegamku dengan kebanggaanmu


Mau tulis apa hari ini?
ketika tanganku sudah bisa memegang pensil
kau dengan sabarnya mengajarku

Mau tulis apa hari ini?
katika tanganku selalu membuatmu kecewa
kau tak pernah sekalipun melihatkannya

Mau tulis apa hari ini?
...
mungkin terlalu memaksakan
jika aku menulis
dengan romantis

ada hal yang ingin kutulis, dan kau
harus membacanya

Hari ini, Bu.
sat melahirkanku
tunggu aku tuk merekahkan
senyumanmu.


Mataram, 21 Desember 2015